Sunday, October 20, 2019
Home > Berita > Sean Gelael, Pertamina Arden dan Toro Rosso Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael, Pertamina Arden dan Toro Rosso Oleh A.R. Loebis

Bos tim F1 Toro Rosso, Franz Tost, menjelaskan grafik test drive Sean Gelael, yang menyaksikan di sisi layar. (dapurpacu)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Urutannya sudah pasti, dari Pertamina Arden ke Toro Rosso, artinya Sean Gelael sudah menapak ke Formula 1, tapi kapan resminya?

“Saya berusaha keras, semoga tahun depan saya sudah dapat melaju di kancah laga Formula 1,” kata Sean Gelael dengan nada pasti pada jumpa media di Jakarta, Kamis malam, dan hal senada pun diutarakan bos Scuderia Toro Rosso, Franz Tost.

“Saya yakin Sean Gelael dapat mengikuti kompetisi F1 tahun mendatang,” kata Tost ketika media menanyakan target mereka mengajak Sean sebagai pebalap penguji (test driver) pada 2017.

Sean Gelael sekaligus menorehkan catatan sejarah sebagai pebalap penguji pertama tanpa melalui akademi pebalap muda yang ada di tim Scudereia Toro Rosso – yang merupakan afiliasi Tim F1 Red Bull.

Sebelum jadi pebalap, Tost pernah kuliah mengambil spesialisasi Iptek Olahraga di Universitas Innsbruck dan manajemen olahraga di Universitas Vienna pada awal 1980-an, sehingga ia pasti tahu benar mengenai postur pebalap dan si jangkung Sean Gelael dinyatakannya pantas berlaga di atas mobil F1.

“Kami dari Toro Rosso sudah lama mengamatinya. Kami membandingkannya dengan pebalap F1 pada test drive awal minggu ini dan penampilannya menakjubkan. Ia baru pertama naik mobil itu. Yang paling penting lagi, ia mampu berkomunikasi tentang kendaraan itu dengan tim teknis,” kata Tost,

Tost pernah tampil sebagai pebalap Formula Ford 1600, Formula Ford 2000 dan Formula 3 bahkan juara Formula Ford 1600 Austria pada 1983, sebelum terjun sebagai direktur dan instruktur balap di tim Walter Lechner dan sebagai manajer tim Eufra, tim Viena, tim F3 WTS, manajer operasi trek tim F1 BMW Williams dan menjadi team principal Toro Rosso sejak 2006.

“Saya merasa Sean pantas membalap di ajang F1 dengan syarat ia bekerja lebih keras,” kata Tost, sembari menunjukkan grafik waktu test Sean yang tidak jauh berbeda dengan pebalap F1 dari tim lain yang juga melakukan latihan.

Manajemen Toro Rosso masih terus mengamati kemajuan Sean pada dua test drive berikutnya di Hungaria dan Abu Dhabi. Sean dan teman setimnya di Pertamina Arden, Norman Nato, akan menjalani 11 putaran laga sepanjang 2017. Pada putaran pertama di Sakhir, Nato asal Prancis naik podium kedua, tapi Sean belum berhasil karena masalah pada kendaraanya.

Nah, ini yang penting, pemilik tim Arden, Garry Horner, memberi dukungan moral kepada Sean.  Garry adalah ayah kandung bos tim F1 Red Bull, Christian Horner.

Menurut Garry, dipilihnya Sean sebagai pebalap penguji di tim Toro Rosso merupakan kepercayaan besar.

Ia mengatakan, Sean dinilai memiliki intelejensi tinggi dan ia dapat mengenal karakter mobil dengan baik dan banyak memberikan input yang benar kepada engineering dan tim mekanik.

“Ini modal penting untuk membangun satu tim balap dan Sean dinilai cukup membantu dan secara tidak langsung sebenarnya ini sekaligus membuktikan kalau Sean juga punya potensi balap yang besar,” kata Garry.

Garry juga mengaku cukup senang dengan bergabungnya pebalap muda seperti Sean di tim Arden. Menurutnya dia masih memiliki impian besar untuk menghasilkan pebalap-pebalap F1 dari timnya.

Dalam sejarahnya, beberapa pebalap F1 memang pernah bergabung bersama tim Arden. Mereka adalah Daniil Kvyat dan Carlos Sainz Jr yang kini menjadi andalan tim Toro Rosso.

Selain itu juga ada nama-nama seperti Heikki Kovalainen, Bruno Senna, Sebastian Buemi, Sergio Perez dan Jolyon Palmer. Dengan banyaknya lulusan tim Arden yang kini berkiprah di F1, Garry cukup yakin, peluang Sean mengikuti jejak pendahulunya cukup terbuka. Terlebih, Sean kini sudah dipercaya menjadi pebalap penguji di tim Toro Rosso.

Putra Garry,  Christian Horner sebagai bos tim F1 Red Bull, juga terkesan dengan penampilan Sean di sirkuit Sakhir, Bahrain.

“Catatan waktunya cukup bagus. Dia membuktikan kalau dia bisa melakukannya,” kata Horner setelah Sean mencoba mobil STR12 milik Daniil Kvyat, dengan melaju sebanyak 78 putaran dengan waktu terbaik satu menit 33.885 detik.

Berdasar catatan, dari 12 pebalap yang mengikuti sesi latihan, catatan waktu Sean menempati urutan kedelapan. Adapun waktu tercepat pada sesi latihan hari pertama dibuat pebalap Mercedes Lewis Hamilton dengan torehan waktu satu menit 32,798 detik.

Bahkan berdasar informasi dari Bahrain, catatan waktu Sean lebih cepat dari pebalap Ferrari, Sebastian Vettel, yang menghabiskan 89 putaran, dengan waktu tercepat satu menit 33,894 detik.

Masih panjang

Sean menyadari perjalanan cita-citanya menuju kancah F1 masih panjang dan ia harus memusatkan pikiran kepada laga F2 yang diikutinya pada tahun ini.

Scuderia Toro Rosso yang sudah bergelut di ajang lomba F1 sejak 2006 pasti tidak main-main dengan pemilihan pebalap penguji mereka, karena ini menyangkut kredibilitas dan harkat mereka di dunia olahraga otomotif yang paling bergengsi di jagad ini.

Pilihan mereka jatuh pada Sean Gelael, yang memiliki cita-cita menjadi pebalap tangguh dan untuk sampai ke ujung cita-cita itu ia sudah memulainya dari tangga paling bawah, dari usia delapan tahun.

“Cita-cita saya sejak kecil menjadi pebalap dunia dan saya selangkah lagi ke sana. Saya gembira dan tidak menyia-nyiakan peluang sebagai test driver Toro Rosso. Saya akan bekerja lebih keras,” tutur putera juara reli mobil nasional 2006, Ricardo Gelael dan Rini Gelael itu.

Sean Gelael membawa nama bangsa dan negara, sebagai pebalap kedua di ajang tontonan yang disaksikan dunia itu – setelah Rio Haryanto — dan untuk itu ia tentu berharap perjalannya diiringi doa tidak saja dari ibunda Rini, tapi juga dari masyarakat Indonesia.

Selamat berjuang putera bangsa.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru