Monday, September 23, 2019
Home > Berita > Sean Gelael 20 Tahun Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael 20 Tahun Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael kini berusia 20 tahun pada 1 November 2016. (seangp)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Sejak usia delapan tahun ia sudah mengenal dunia otomotif dan hingga saat ini ia tidak putus-putusnya merambah berbagai lomba dari satu sirkuit ke sirkuit lain, dari satu negara ke negara lain.

Entah sudah berapa ratus atau ribu lap yang dilahapnya sejak menekuni lomba karting nasional dan Eropa, – serta berbagai laga “single-seater” lain, yang berujung pada lomba perdana GP2 2016.

Sebagai pebalap yang kelihatan “sangar” di lintasan balap tapi berkarakter “lembut” di luar balap dan amat hormat kepada orang lain terlebih kepada yang berusia lebih tua, ia pun amat dihormati setiap lawan bicaranya, terutama kepada media.

Rasa sopan dan hormat kepada orang lain ini, amat ditekankan ayahnya kepada putranya sejak masa bocah, seperti saya perhatikan setiap kali mengikutinya berlomba sejak masa kanak-kanaknya.

Ia adalah Sean Gelael, yang pada 1 November 2016 genap berusia 20 tahun, yang pada 6 November akan berlaga di Shanghai pada kejuaraan ketahanan dunia (FIA WEC 2016).

Sean menjalani perjalanan hidupnya seperti apa yang dilakoni para pebalap kawakan lain, artinya, ia mengawali kedekatannya dengan dunia otomotif sejak usia amat dini.

Sebelas tahun lalu, tepatnya pada 7-8 Agustus 2005, ketika Sean berusia delapan tahun, ia memulai sejarah lomba dalam kehidupannya, ketika tampil sebagai navigator di samping ayahandanya, Ricardo Gelael, pada kejuaraan reli sprint putaran ketiga di Kota Baru Parahiyangan.

Ini pasti amat mendebarkan bagi Sean kecil, apalagi naik podium karena berada di urutan kedua setelah Rizal Sungkar/Anthoni Sarwono, sementara di urutan ketiga Rifat Sungkar/Reza.

Pada putaran keempat kejuaraan sama di tempat sama, 11-12 Desember, Sean sebagai navigator mendampingi Arief Indiarto dan mereka masih bercokol di tangga kedua. Di atas mereka Rifat Sungkar/Herkusuma dan di bawah mereka Rio Teguh/M Akib.

Pada 16-17 Agustus 2006, Sean dengan tidak canggung-canggung, mulai bersahabat dan menimba pengalaman dari orang Eropa, ketika menampingi David Maslen dari Inggris. Luar biasa, mereka tampil sebagai juara pada kejuaraan reli kecepatan (speed rally).

Ayah dikalahkan anak

Hebatnya lagi, Ricardo Gelael yang tampil bersama Ian Soejono, sudah kalah karena hanya mampu menempatkan diri di urutan ketiga.

“Saya pernah ngomong sama Sean ketika ia masih kecil, bahwa saya adalah pebalap mobil. Eh, dia minta dibuktiin. Pada suatu kesempatan, saya turun di ajang lomba dan lama kelamaan akhirnya ia pun ikut bersama saya,” tutur Ricardo suatu saat.

Pada 6-7 April 2007 pada laga putaran pertama reli sprint nasional di Palembang, Sean Gelael bersama Arief Indiarto kembali berada di urutan kedua setelah Ijek/Ucha, sedangkan ayahnya bersama Ian Soejono di urutan keempat.

“Saya sudah dikalahkannya,” kata Ricardo “Kadok” Gelael ketika itu. Sebagai seorang pebalap, Ricardo sudah menyaksikan bahwa puteranya itu memiliki bakat menjadi seorang pebalap.

“Kalau memang ia ingin jadi pebalap, saya akan mendukungnya, tapi saya ingin agar sekolahnya tidak putus,” kata Ricardo. Sean saat ini memang sudah menyelesaikan kuliahnya di Inggris.

Pada 2007, Sean pun dianugerahi penghargaan dari Musiun Rekor Indonesia (MURI) sebagai co-driver termuda – ketika Sean berusia 10 tahun 44 hari dan pada 2008 kembali dapat piagam dari MURI sebagai juara nasional co-driver termuda pada kejuaraan reli.

Sejak tahun itu, Sean terus merambat semakin jauh ke medan laga dan tentu saja tidak lagi sebagai co-driver (navigator) tapi sudah menjadi driver, sesuai dengan keinginannya.

Pada 2009 ia tampil sebagai juara pada Kejuaraan Reli KFC Jr, tahun berikutnya (2010) menjuarai putaran kedua Kejuaraana Karting Terbuka Asia di Macau, juara pada putaran ketiga Kejuaraan Karting Asia di Sirkuit Sentul, juara nasional senior dan juara karting senior Asia (termuda pertama pada laga itu).

Pada 2011 ia juara karting Asia di Sentul, pada 2012 juara Formula Pilota China Series. Pada 2013 sebagai pebalap termuda F3 yang naik podium (16 tahun 25 hari).

Masih pada 2013, Sean tercepat pada kejuaraan F3 Inggris (race 3), kemudian juara putaran pertama dan kedua dan urutan delapan overall pada kejuaraan yang sama.

Dari hobi menjadi profesi. Itulah yang dialami Sean Gelael, yang perjalanan hidupnya membentuk jiwa dan karakternya menjadi seorang pebalap, yang kini dikenal di mancanegara.

Kini ia menekuni balapan GP2 tahun pertama, setelah 2015 mengikuti beberapa putaran. Sampai putaran 10 musim laga 2016, Sean berada di urutan ke-15 dengan total poin 24 angka.

Sean pun tak ingin waktu lowongnya terbuang sia-sia, sehingga mengikuti tiga ajang lomba ketahanan mobil (FIA WEC). Tahun ini, Sean akan menutup lomba GP2 di Yas Marina, pada 25-27 November.

Operasi Caesar

Cerita ini terasa menarik, karena menyangkut Sean Gelael, dan saya update setiap ia memasuki hari ulang tahunnya.

Inilah ceritanya. Pada 1 November 1996, Rini S Bono menjalani operasi Caesar di rumah sakit bersalin Puri Cinere di Jakarta Selatan dan akhirnya lahirlah ke dunia ini bayi yang diberi nama Muhammad Sean Ricardo Gelael.

Sean membuka matanya di alam dunia ini, saat orang-orang baru keluar dari masjid melakukan ibadah solat Jumat.

Bayi itu lahir dengan bobot mencapai 4,1 kg dan panjangnya 41 cm. Ibunda Rini menyusukan sendiri (ASI) Sean dan sebulan kemudian bobot si bayi naik cepat mencapai 5,2 kg dan penjangnya 60 cm.

Pada hari ke-40 kelahirannya, diadakan acara “selapanan” atau “kekah” dan ayahnya Ricardo Gelael memotong rambut putra yang diidamkan dan didambakan itu.

Perjalanan hidup pun mulai tertoreh dalam catatan sejarah, sampai akhirnya pada 1 November 2016, Sean yang meniti dan mengukir kiprah hidupnya sebagai pebalap nasional, tidak terasa sudah berusia 20 tahun.

Ketika Sean berusia 10 tahun, ibundanya, RA Sri Sudarini yang mantan artis itu, mengatakan ia tidak putus berdoa meminta kepada Tuhan agar melindungi puteranya selama ia mengikuti perlombaan reli mobil di tengah perkebunan di kawasan Sumatera Utara.

“Ya Allah, ia baru berusia 10 tahun tapi ia sudah mengerjakan hal yang dilakukan orang dewasa. Lindungilah ia dan semoga ia berhasil dalam menekuni hobi yang menurun dari ayahnya itu,” kata Rini Gelael.

Ketika itu, ayah dan anak itu bersaing dalam putaran kedua kejuaraan nasional reli mobil (speed rally) yang berlangsung di kawasan perkebunan di Sumatera Utara, 22-24 Juni 2006.

Ricardo yang ketika itu berusia 47 tahun adalah juara nasional reli mobil 2006 sedangkan Sean sebagai navigator mendampingi David Maslen dari Inggris, tampil sebagai juara pertama pada putaran terakhir reli nasional di Bali, Desember 2006.

Kini, Sean Gelael dikenal mancanegara, bahkan ia mendapat kehormatan digandeng perusahaan manufaktur jam asal Swiss, International Watch Company (IWC) sebagai sponsor balapnya – bersama Lewis Hamilton dan Nico Rosberg.

“Ini tentu membanggakan saya sehingga semakin menambah motivasi untuk balapan. Ini merupakan kepercayaan dari perusahaan dengan merek terkemuka. Apalagi saya bisa bersanding dengan pebalap top dunia seperti Hamilton. Saya merasa dihargai dan kerja keras saya selama ini perlahan dinilai dunia,” kata Sean.

Kini Sean Gelael mengawali perjalanan hidupnya dengan usia kepala dua, karirnya masih panjang, dan semoga ia akan tampil menjadi pebalap F1 kedua dari Indonesia, setelah Rio Haryanto.

Sean Gelael! Semoga cita-citamu berhasil untuk mengharumkan nama bangsa, negara dan keluarga.

Sean Gelael, Selamat Hari Ulang Tahun ke-20.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru