Monday, March 30, 2020
Home > Editorial > SBY , Belajarlah Pada Tradisi Mudik

SBY , Belajarlah Pada Tradisi Mudik

INGIN tahu sifat asli masyrakat Indonesia secara umum, saksikan apa yang terjadi ketika mereka melaksanakan tradisi mudik. Untuk bisa melaksanakan ritual tahunan itu rakyat Indonesia rela berjuang habis-habisan, juga siap menghadapi tantangan. Mereka berjuang mengumpulkan dana demi memenuhi kebutuhan mudik, kemudian rela menghadapi berbagai tantangan, baik ketika mengharungi padatnya perjalanan atau pulang kampung, maupun saat harus berjuang kembali memenuhi kebutuhan usai Lebaran.

Dari tahun ke tahun masyarakat yang menjalani kebiasaan itu meningkat. Bila tahun 2012 baru mencapai 17.326.060 orang, tahun 2013 pemudik (diperkirakan) meningkat menjadi 18.098.837 orang atau naik 4,46 persen. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah, bahkan memprediksi ritual mudik membawa dampak ekonomi besar bagi perekonomian di daerah. Potensi dana yang mengalir ke daerah mencapai Rp 90 triliun.

Magnet mudik benar-benar menciptakan kekuatan besar. Mampu memotivasi masyarakat, menggerakkan roda perekonomian, mendorong masyarakat untuk berbagi, bahkan menggairahkan pembangunan di berbagai daerah. Gerakan Lebaran dengan tradisi mudik mampu mengubah negeri. Dana mengalir keseantero, tidak hanya berkat kewajiban umat yang membayar zakat, tapi berkat hidupnya berbagai kegiatan masyarakat.

Harusnya pemerintah berkaca dan mengambil hikmah dari semangat tradisi mudik Lebaran. Perjuangan dan tantangan yang diperlihatkan masyarakat selayaknya membangkitkan motivasi pemimpin bangsa dalam membangun negeri. Memang semua keinginan tidak selalu berjalan mulus. Bercermin pada tradisi mudik, tidak semua orang menjalani dengan mulus. Korban pun harus berjatuhan akibat kecelakaan yang terjadi.

Dalam suatu gerakan besar tentunya ada risiko. Seperti dalam kegiatan mudik tahun ini, hingga Minggu (11/8) kemarin, menurut pihak Humas Kepolisian RI, terhitung sejak H-6 hingga H+2 Lebaran, telah terjadi 2.095 kasus kecelakaan lalu lintas dengan 471 orang tewas, 747 luka berat, dan 2.688 luka ringan.

Kita tentunya tidak hendak memaklumi apa yang terjadi, tetapi belajar dari tradisi mudik, harusnya pemerintah terdorong memiliki keberanian, kepastian, dan memiliki program yang pasti. Pemerintah tidak boleh selalu ragu-ragu, tetapi harus berani berjuang dan menghadapi tantangan demi memajukan bangsa dan negara. Tentunya selalu berupaya meminimalkan risiko.

Bangsa butuh tindakan nyata. Program yang ada, mulai dari upaya meningkatkan perekonomian rakyat–termasuk ketersedian lapangan kerja yang menjamin masa depan–, jaminan pendidikan dan kesehatan, harusnya benar-benar membumi. Bukan hanya janji-janji kosong. Siapa pun yang memimpin negeri harus pro rakyat, bukannya sibuk mengurusi partai atau kelompok tertentu saja. Rakyat telah lelah berharap. Kepada Presiden SBY kita pantas meminta, belajarlah pada tradisi mudik dalam mengelola Indonesia.***(SK)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru