Thursday, September 19, 2019
Home > Berita > Saudi: Tak Ada Masa Depan untuk Assad di Suriah

Saudi: Tak Ada Masa Depan untuk Assad di Suriah

Beberapa wanita terlihat menangis saat menghadiri upacara pemakaman di Masjid Sayyida Zeinab, di pinggiran Damaskus. Para korban adalah pengungsi asal Foua dan Kiraya yang tewas ketika iring-iringan kendaraan yang mengangkut mereka dihantam bom bunuh diri. (AFP/Arab News)

Beberapa wanita terlihat menangis saat menghadiri upacara pemakaman di Masjid Sayyida Zeinab, di pinggiran Damaskus. Para korban adalah pengungsi asal Foua dan Kiraya yang tewas ketika iring-iringan kendaraan yang mengangkut mereka dihantam bom bunuh diri. (AFP/Arab News)

“Assad bertanggung jawab atas pembunuhan 300.000 warga Suriah. Dia juga harus dipersalahkan atas keterlibatan Garda Revolusioner Iran dan Hizbullah dalam melakukan kejahatan genosida di Suriah.”

 

Mimbar-Rakyat.com (Moskow) – Arab Saudi kembali menegaskan bahwa tidak ada masa depan untuk Bashar al-Assad di Suriah. Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Adel Al-Jubeir saat konferensi pers dengan mitranya dari Rusia Sergei Lavrov.

Pernyataan serupa pernah dilontarkan Kerajaan Arab Saudi sebelumnya, dengan mengatakan bahwa tidak ada tempat bagi Presiden Suriah itu di masa depan di negara tersebut. “Kami tidak percaya ada masa depan (bagi) Bashar di Suriah,” kata Al-Jubeir, seperti dilaporkan Arab News, Kamis (27/4).

“Assad bertanggung jawab atas pembunuhan 300.000 warga Suriah. Dia juga harus dipersalahkan atas keterlibatan Garda Revolusioner Iran dan Hizbullah dalam melakukan kejahatan genosida di Suriah,” kata Menlu Arab Saudi itu.

Al-Jubeir menyoroti koordinasi Riyadh-Moskow mengenai krisis Suriah, yang membenarkan bahwa para pemimpin kedua negara sangat ingin meningkatkan hubungan historis. Dia mengatakan ada banyak kendala yang harus diatasi melalui dialog dan koordinasi timbal balik.

“Saya yakin bahwa ada banyak peluang untuk meraih kesuksesan,” kata Al-Jubeir.

Sementara Menlu Rusia Lavrov mengatakan, Rusia dan Arab Saudi adalah bagian dari kelompok negara yang mendukung Suriah. Dia menambahkan bahwa krisis Suriah merupakan titik diskusi utama dalam pembicaraannya dengan Al-Jubeir.

Al-Jubeir juga menyatakan mendukung gagasan penyelidikan internasional terhadap serangan senjata kimia yang diduga terjadi di kota Khan Sheikhun. Dia yakin bahwa rezim Assad berada di balik serangan tersebut.

Sementara ratusan orang berkabung menangis menghadiri sebuah pemakaman massal pada hari Rabu (26/4) untuk orang-orang yang terbunuh dalam sebuah bom bunuh diri yang menyerang konvoi pengungsi, dalam salah satu serangan mengerikan.

Sedikitnya 150 orang, termasuk 72 anak-anak, tewas pada 15 April itu, dalam sebuah ledakan yang menargetkan pengungsi asal Foua dan Kfraya, dua desa yang dikuasai Syiah di Suriah barat laut.

Mengutip kantor berita AFP, Arab News melaporkan, perempuan, anak-anak dan laki-laki – beberapa di antaranya mengenakan seragam militer – mulai berkumpul di sebuah masjid dari pagi hari untuk ikut serta dalam prosesi pemakaman.

“Tidak ada perasaan yang lebih buruk dari ini, daripada mengubur saudaramu tanpa bisa menemuinya,” kata Abdelsalam Remman yang berusia 19 tahun, dengan suara parau.
Dia membawa poster adiknya Tuqa yang berusia 6 tahun, yang terbunuh dalam serangan tersebut setelah dievakuasi bersama ibunya yang terluka.

Serangan bom mobil bunuh diri di Rashidin merupakan salah satu serangan paling dahsyat dalam perang selama enam tahun, yakni di sebelah barat kota kedua Suriah, Aleppo, yang  menewaskan setidaknya 320.000 orang.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru