Wednesday, November 13, 2019
Home > Berita > Sambut Perayaan Imlek, Klenteng Kim Tek Le Sibuk Bersih-bersih

Sambut Perayaan Imlek, Klenteng Kim Tek Le Sibuk Bersih-bersih

Persiapan Imlek di Klenteng Kim Tek Le. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Jakarta) – Gunawan Djaya Putra, sibuk membersihkan ruangan dan patung-patung dewa atau rupang. Dia juga mendekorasi klenteng dengan aneka pernak-pernik. Hal itu dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 5 Februari 2019.

“Sebelum Imlek kami selalu membersihkan patung dan mengantikan baju patung dan mengantikan baju patung dewi kwan. Itu kegiatan rutin setiap tahun semata-mata agar pengunjung bisa beribadah dengan nyaman,” ucap Gunawan di Klenteng Kim Tek le, Sabtu (2/2).

“Menurut kepecayaan orang Tionghoa dewa-dewa naik ke langit. Sehingga patung-patung menjadi kosong. Oleh karena harus segera bersihkan,” imbuh dia.

Gunawan adalah pengurus Kim Tek Ie atau Jin De Yuan. Dia baru beberapa tahun ditunjuk sebagai Ketua Yayasan Dharma Bhakti. Memang sejak 1972 Kim Tek le dikelola yayasan.

Kim Tek Ie atau Jin De Yuan berdiri sejak tahun 1650. Kleteng itu satu di antara klenteng tua di Jakarta.

Seorang Letnan bernama Guo Xun-Guan atau dikenal Guan Ying Ting mendirikan klenteng tersebut di atas lahan seluas 3 ribu meter di Jalan Kemenangan III Petak Sembilan No. 19, RT03/RW02, Kota Tua, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat.

Lokasi ini dipilih oleh Guo Xun-Guan karena merupakan titik kumpul para pengusaha Tionghoa. Mereka bermukim dan mencari nafkah. Ada sembilan petak rumah.

“Makanya nama petak sembilan,” tuturnya.

Sehingga untuk mempermudah mereka beribadah dibanguna lah klenteng tersebut. Namun, kata Gunawan, pada zaman orde baru Tek Ie berubah menjadi Wihara Dharma Bakti. Perubahan itu terjadi karena ada larangan dari pemerintah.

“Zaman orde baru tidak boleh ada klenteng. Supaya tidak ditutup dimasukan ke kategori buddha maka di ganti Wihara,” ucap dia.

Padahal, Wihara dan klenteng sangat berbeda. Wihara adalah tempat kebaktian umat buddha. Jadwal ibadahnya punhanya setiap hari Minggu.

Sedangkan klenteng tidak demikian. Ada banyak patung di sini, antara lain Shakyamuni Guanyin, Bodhidharma, Tritunggal Buddhis Sanzun Fozu, Xuan Tan Gong Mazu, Mbah Djugo. Oleh karena itu, klenteng menganut aliran buddha tridharma.

Begitu pun jadwal sembahyang. Klenteng setiap hari dipenuhi orang ikut sembahyang.

“Di Wihara hanya ada patung Buddha. Sementara, klenteng bukan hanya patung Buddha tapi semua dewa-dewa ada di sini. Totalnya 81 rupang,” ujar dia.

Biasanya menjelang malam Tahun Baru Imlek, pengunjung yang datang ke sini bisa mencapai seribuan. Mereka berdoa atas kepercayaan dan cara sendiri. (M/d)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru