Thursday, August 06, 2020
Home > Cerita > SAJAK KEPADA ORANG GILA

SAJAK KEPADA ORANG GILA

(Suatu malam aku berpikir, apakah orang gila itu tahu dirinya gila.
Atau apa yang dipikirkannya
Atau apakah ia masih berpikir
Atau apakah pikiran orang gila itu waras dalam dunianya).

Orang gila yang kupikirkan, benar-benar orang gila
Bukan paranoid
Bukan skizoprenia
Bukan stres atau depresi
Atau sakit jiwa lainnya
Dan bukan pula kena santet..sijundai aau polong.

Orang gila yang berkeliaran di jalanan
Ada yang tanpa pakaian
Ada yang makan dari tong sampah
Ada yang tidur di tepi selokan
Tan mandi-mandi sehingga rambutnya seperti ijuk
Dan badannya penuh daki
Ada yang diam saja tapi ada juga yang memaki-maki
Atau ngomel sendiri

Entah mengapa suatu hari aku ingin masuk ke dalam kepala mereka
Akujalan-jalan di ibukota
Dan bertemu orang gila di lapangan Banteng
Kuberanikan mendekatinya
Sorot matanya tajam, telanjang dada, hitam berdaki
Celananya minim, kelihatan ujung rambut
halus nongol di bawah pusarnya
ini pasti orang gila, pikirku
bukan pengamen atau tuna wisma
kusodorkan rokok, ia diam saja
kalau dia ngamuk, runyam nih, pikirku
dan aku berancang-ancang untuk lari
tangannya direntangkan mengambil rokokku
hitam jemarinya,
ada bekas luka di telapak tangannya yang juga hitam
mungkin lama tak bertemu air

“namanya siapa?” ia diam saja
Melengos dan pergi meninggalkanku
Jalannya gagah, menunduk mukanya

Apa yang ada dalam pikirannya
Ia melihat orang pakai busana lengkap
Orang naik sepeda motor dan mobil
Orang mengejar-ngejar bus kota
Orang jualan di tepi jalan
Tukang sol sepatu pun banyak di sekitar situ
Ada orang main bola di lapangan
Lalu lintas bersilang selisih menyelisih
Kebutan mengejar setoran
Ada tungkuh Istiqlal dan ujung Katedral di kejauhan
Ada emas berkilo-kilo terpacak di ujung Monas.

Apa kesannya melihat itu semua?
Syaraf rasa dan motoriknya mungkin sudah mati
Tak member kabar
Apa yang terjadi di depan mata ke otak
Orang sibuk lalu-lalang dan bangunan menjulang tadi
Entah apa bentuknya dalam kepalanya
Jangan-jangan ia hanya melihat kok banyak orang bergerak
Dan bangunan menjulang
Tapi ia tak tahu apa artinya dan benda apa itu gerangan
Kalau ia mengerti, mengapa bulu-bulu itu dibiarkannya
Menjalar tak tertutup, tangan dan kulit menghitam, kotor dan kondalon
Jangan-jangan orang berbusana itu dalam pandangannya binatang melata
Orang jualan itu seperti penjaga surga atau neraka
Mobil dan sepeda motor itu
Seakan besi tua siap mengorek mata atau melindas dosa
Sehingga ia tidak mau menerpa roda-rodanya
Jangan-jangan ia pun berpikir semua orang sudah gila
Tinggal dia yang waras bersama beberapa temannya
Yang nyaris telanjang kemana-mana.

Oh orang gila
Kalau aku atau kami dapat sesaat merasakan
Apa yang kau rasakan
Jalan lepas busana, makan sampah di tepi jalan
Berpanas basah di udara terbuka
Menghirup debu diselimuti embun
Betapa enaknya sesaat menjadi orang gila
Sesaat melepas kemelut kerja
Dan hidup waras keseharian
Yang seperti orang gila
Tapi mengapa tak gila sesaat juga

——————————————————————————
Suatu siang kubuka baju dan celana
Hingga pakai cawat saja
Aku keluar jalan besar, kulirik kiri kanan
Orang pun melirik kepadaku
Ibu-ibu buang muka, anak remaja cekikikan
Orang dewasa melumat nestapa
Lewat sinar matanya.
Aku duduk di tepi jalan di Salemba
Di depan gedung UI tua
Orang-orang di halte bus
Memendangiku dari kejauhan
Banyak yang melintas di dekatku
Sembari berjalan cepat-cepat,
Mungkin takut kuterkam
Kupungut punting rokok yang masih menyala
Dan kuhisap
Ada pula kotak plastic air mineral
Dan kuhirup sisa isinya
Ampas nasi soto di gerobak tepi jalan kusikat seenaknya
Entah kenapa Maluku hilang
Karena semua makhlik kupandang sama seperti ku juga
Yang aku heran,
Kok banyak orang kelihatan bergerak buru-buru
Tidak berleha-leha
Sampai naik bus segala mungkin ingin cepat tiba di tujuan
Aku merasa tanpa tujuan
Enak sekali perasaan santai ini
Seorang ibu tua mendekat, ternyata tetangga
“hai apa ibu tak salah lihat, mengapa anak di sini?”
“ibu tak salah lihat, aku sedang berleha-leha”
“ah kau bukan orang gila, malu dilihatin orang.
Ayo pulang, kita naik bajaj saja.”
Kuhentak tanganku yang digamitnya
Ibu itu hamper terpelanting, kutangkap badannya
Aku tersentak berkeringat
Tak pernah-pernahnya aku mimpi siang
Seperti hari ini

—————————————————————————
Aku duduk di ruang tamu rumahku
Sepi, istriku kerja anak-anakku sedang sekolah
Apa kata mereka bila mengetahui
Kubuka busanaku dan jalan ke Salemba
Tapi itu kan hanya mimpi siang bolong
Kuulangi gambaran mimpi itu dalam benakku
Kayaknya aku tak pernah gila dalam mimpi itu
Mengapa aku masih melirik-lirik orang
Orang gila tak pernah kulihat melirik orang
Lagi pula tak mungkin aku gila
Karena sadar kubuka busana
Dari rumah sebelum ke Salemba
Tapi mengapa dalam mimpi itu
Aku tak mengerti
Mengapa semua orang bergerak buru-buru
Tapi mengapa kusikat bekas rokok
Dan makanan orang?
Ah, mungkin ketika itu aku setengah gila
Saying ibu tetangga itu dating.
Kalau tidak mungkin aku sempurna gila
Ah, ibu, mengapa kau bangunkan mimpiku
Padahal aku benar-benar ingin gila
Apakah sajak ini bisa membentuk kata-kata
Ah, biarlah aku tetap waras saja
Karena orang gila itu pun mungkin berpikir begitu
Kok orang sudah gila semua, pikir orang gila
Orang-orang waras sudah gila semua dalam kewarasan
Orang-orang gila sudah waras semua dalam kegilaan
Waras sana dengan gila dan gila sama dengan waras
Ini mungkin sudah menjadi logika yang dicirikan alam
Dicirikan pikiran
Dicirikan lingkungan
Dicirikan Tuhan
Kok gila betul sajak orang gila ini
Hai orang waras
Yang tak sadar tingkah lakuknya sudah gila
Inilah sajak untuk orang gila
Jangan baca agar kau sadar tidak gila
Padahal sudah gila dalam segala-galanya
Gila memimpin dirinya
Gila memilih pemimpinnya
Akhirnya diri dan pemimpinnya gila semua
Gila dalam kewarasan
Gila di mata orang gila
Gila..gila..mengapa ada kata gila
Sehingga orang gila semuanya di jaman edan ini
Siapa yang tidak edan dianggap orang gila, kata Ronggowarsito
Yang gila sudah menganggap semua waras
Apakah itu tidak gila namanya?

(Dinukil dari buku Balada Wartawan – Sajak Pinggiran Untuk Siapa) karya A.R. Loebis (Abdul Rahim Loebis)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru