Wednesday, November 13, 2019
Home > Nusantara > Saat ini Indonesia Darurat Narkoba. Door!

Saat ini Indonesia Darurat Narkoba. Door!

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta). Sedikitnya 32 negara menerapkan hukuman mati terhadap pengedar narkoba. Selama ini Indonesia masuk dalam kategori yang penerapannya paling lembek (bersama Kuwait, Thailand, Pakistan, Mesir, Yaman, Suriah, dan Taiwan).

 Negara-negara yang menerapkan hukuman mati dengan tegas, menurut Death Penalty Report 2011, adalah Tiongkok, Iran, Arab Saudi, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa , perdagangan narkoba tidak lagi bisa dianggap sebagai “musuh kecil”, tetapi sudah menjadi monster pembunuh. Pada 2003, misalnya, transaksi perdagangan narkoba di seluruh dunia mencapai 321 miliar dollar AS.

Perang terhadap sindikat narkoba sesungguhnya sudah dilancarkan oleh banyak negara lain di dunia. Perdagangan narkoba merupakan kejahatan lintas batas negara. Melalui badan dunia Interpol yang beranggotakan 190 negara, perang terhadap sindikat narkoba sudah lama dicanangkan.

Pasar Menggiurkan

Pemerintah Indonesia akhirnya mengeksekusi enam terpidana mati kasus kejahatan narkotika.”Indonesia darurat narkotika” yang membahayakan generasi muda. Dibutuhkan tindakan tegas untuk mengatasi.

Kebijakan Presiden Jokowi menolak grasi narapidana narkoba adalah  sinyal yang benderang,  terhadap mafia dan bandar narkoba. Genderang perang sudah ditabuh. Negara hadir dalam “pertempuran” melawan sindikat narkoba!

Saat ini Indonesia  bukan lagi sebagai tempat transit sindikat narkoba internasional, melainkan sudah menjadi “pasar” yang menggiurkan. Jika pada 1990-an, dalam setiap sidang umum Interpol, nama Indonesia hanya disebut sebagai tempat transit, kondisi ini sudah berubah sejak tahun 2000-an.

Terbongkarnya kasus penyelundupan 862 kilogram sabu oleh warga negara asing, Wong Ping Ching, belum lama ini adalah bukti nyata . Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Anang Iskandar menggambarkan, seandainya sabu itu beredar, sedikitnya 3,2 juta orang akan diracuni narkoba itu. Masa depan mereka suram. Apa yang didapatkan BNN ini termasuk yang terbesar.

Meski sudah berulang kali aparat penegak hukum menangkap bandar dan menyita barang bukti, kasus kejahatan narkoba di Indonesia tak juga berhenti.

Vonis mati untuk para bandar narkoba selama ini dianggap basa-basi. Bandar-bandar narkoba terus merajalela. Mereka tidak peduli berapa banyak anak muda Indonesia kehilangan masa depan dan mati sia-sia akibat narkoba yang mereka perdagangkan. Sedikitnya 50 orang Indonesia meninggal dunia setiap hari karena narkoba

 

Lobi-lobi

 Jokowi mengakui bahwa ada lobi-lobi dari negara-negara yang warga negaranya dieksekusi oleh kepolisian semalam.

“Ya memang sudah telepon ke saya Raja Willem Alexander (Raja Belanda), kemudian Presiden Brasil (Dilma Rousseff). Kami sampaikan bahwa eksekusi mati itu oleh pengadilan,” tutur Jokowi di sela-sela gowes sepeda di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (18/1/2015).

Jokowi menghormati setiap upaya negara lain terhadap warga negaranya terkait eksekusi mati tersebut. Jokowi mengaku Indonesia sama halnya dengan negara lain akan berupaya melindungi setiap warga negaranya.Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo,

 Menanggapi sikap negara sahabat itu, Ketua DPR Setya Novanto meminta pihak luar negeri bisa memahami dan menghargai hukum di Indonesia.

“‎Pengedar narkoba bisa menimbulkan kematian orang lain. Pihak luar negeri harus menyadari bahwa ini adalah hukum Indonesia, kita harus saling menghargai negara satu dengan yang lain‎,” kata Novanto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2014).

Pelaksanaan eksekusi mati terhadap para terpidana itu dilakukan karena menyangkut masalah negara. Warga negara harus dilindungi dari bahaya narkoba. Novanto menyebut ada 50 orang yang mati setiap harinya gara-gara narkoba.‎

Vonis mati untuk para bandar narkoba selama ini dianggap basa-basi. Bandar-bandar narkoba terus merajalela. Mereka tidak peduli berapa banyak anak muda Indonesia kehilangan masa depan dan mati sia-sia akibat narkoba yang mereka perdagangkan. Sedikitnya 50 orang Indonesia meninggal dunia setiap hari karena narkoba.

Karena itulah, tidaklah heran apabila banyak orang Indonesia mendukung penuh kebijakan Presiden Joko Widodo menolak grasi bandar narkoba dan memutuskan agar vonis mati mereka segera dieksekusi.

“Perang terhadap mafia narkoba tidak boleh setengah-setengah karena narkoba benar-benar sudah merusak kehidupan, baik kehidupan penggunanya maupun kehidupan keluarga pengguna narkoba. Tak ada kebahagiaan hidup yang didapat dari menyalahgunakan narkoba. Negara harus hadir dan langsung bertempur melawan sindikat narkoba. Indonesia sehat, Indonesia tanpa narkoba,” demikian ungkap Presiden Joko Widodo dalam Facebook-nya, Minggu (18/1).

Eksekusi mati bandar narkoba itu memancing reaksi Belanda dan Brasil untuk menarik duta besar mereka dari Indonesia. Dari enam orang yang dieksekusi mati itu, dua di antaranya warga negara Belanda dan Brasil. Namun, reaksi masyarakat Indonesia justru mendukung kebijakan Presiden. Banyak orang Indonesia yang makin menyadari betapa bahaya narkoba mengancam generasi muda. Itu bisa terjadi kepada siapa saja, kepada anggota keluarga, kerabat, sahabat atau orang terdekat. Karena itu, tidak ada jalan lain, kecuali menyatakan perang terhadap sindikat narkoba!

Toh masih ada diantara warga Negara Indonesiayang menanggap eksekusi itu tidak serius, melainkan hanya basa-basi untuk pencitraan belaka. Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti menilai, kebijakan Jokowi terkait eksekusi mati hanya pencitraan. Di tengah kebijakan yang tak populer, silang sengkarut penunjukan Budi Gunawan sebagai Kapolri, Jokowi, kata Poengky, ingin mengatrol citranya di mata publik. Salah satunya dengan menunjukkan seolah-olah dia tegas dengan menembak mati enam terpidana mati.

Sebagai sebuah pendapat, tentu sah-sah saja. Namun, pemerintah tetap harus melakukan upaya preventif, mencegah anak-anak muda diracuni sindikat narkoba. Indonesia harus mencegah agar sindikat narkoba tidak berkembang menjadi kartel yang berakar kuat dalam sendi kehidupan masyarakat, seperti terjadi di Meksiko dan Kolombia,

Presiden Jokowi sudah mengayunkan langkah. Semestinya segenap jajarannya menyamakan irama kerjanya . Agar derap penanggulangan narkoba mampu memberikan perlindungan terhadap generasi muda. Saat ini Indonesia sudah dalam taraf darurat terhadap bahaya narkoba. Door!  (AI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru