Sunday, April 05, 2020
Home > Berita > Ricardo Gelael: Kalau ada komitmen, Indonesia bisa tuan rumah F1

Ricardo Gelael: Kalau ada komitmen, Indonesia bisa tuan rumah F1

Evan bocah penggemar F1 beraama Ricardo dan Sean Gelael di Malaysia. (mimbar-rakyat.com)

MIMBAR-RAKYAT.com (Sepang, Malaysia) – Bila ingin memboyong sirkus Formula Satu (F1) ke Indonesia bukan tidak mungkin,  tapi harus ada komitmen antarbeberapa pihak sebagai prasyarat yang juga terjadi di berbagai negara tuan rumah F1 di dunia.

Malaysia sudah menyelenggarakan F1 selama 19 tahun dan Singapura sejak 2008, namun Malaysia tahun depan sudah tidak lagi sebagai tuan rumah sedangkan Singapura memperpanjang kontrak dengan FIA hingga 2021.

Kedua negara Asia Tenggara itu merasakan “pride” sebagai tuan rumah dan memperoleh manfaat luar biasa dari berbagai sisi, misalnya dari sisi pariwisata, bisnis komersial secara makro dan mikro.

Bagi penggemar F1, dimana pun lomba itu diadakan bahkan ke ujung dunia pun akan dikejar. Sehingga penginapan dan hotel penuh sesak dan ratusan ribu penonton itu berjejal di sirkuit, yang menyediakan berbagai fasilitas zona hiburan serta permainan, termasuk tempat berburu berbagai bentuk suvenir.

Apakah kesempatan untuk menjadi tuan rumah ini dibiarkan berlalu begitu saja, adakah yang mengamatinya dan seberapa jauh kemungkinannya?

Berikut ini wawancara mimbar-rakyat.com dengan Ricardo Gelael, pengusaha dan mantan pebalap yang kini putranya, Sean Gelael, sedang berada di ujung langkah untuk tampil di sirkuit F1.

Tanya (T) :  Apakah F1 mungkin diadakan di Indonesia?

Ricardo Gelael (RG) : Pasti mungkin, kenapa tidak.

T          : Apa syaratnya?

RG      : Harus ada komitmen antara pemerintah dan swasta.  Pemerintah menjembatani dari sisi fasilitas dan swasta dari sisi finansial.

T          :  Itu syarat dasarnya, Pak. Ada hal lain yang harus dimiliki calon tuan rumah F1?

RG      : Ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi perlombaan. Ini dikaitkan dengan masalah infrastruktur, logistik, hotel dan yang lainnya.  Bayangkan saja, ratusan ribu orang akan datang. Mulai dari penyelenggara, atletnya dan penggemar dari belahan dunia. Ini semua harus ditampung dan dilayani. Kelihatannya sepele, tapi inilah kerja kerasnya. Kedua, masalah pendanaan.  Butuh dana besar, tapi sebenarnya ini tidak sulit.  Akan banyak investasi asing yang mendekat, termasuk di antaranya ATPM kendaraan pun harus ikut serta. Dari berbagai pihak swasta dan BUMN. Dari F1 itu sendiri.  Dari produk yang menempel di kendaraan para pebalap. Ketiga, paling penting, komitmen pemerintah. Pihak swasta tidak bisa berbuat banyak bila tidak ada bantuan dan komitmen dari pemerintah.  F1 Malaysia dulu diminta langsung oleh perdana menterinya. Begitu juga di negara lain, pemerintah yang menjamin realisasi penyelenggaraan.

T          : Tentang lokasi penyelenggaraan itu Pak, dimana sebaiknya?

RG      : Saya kira harus di Jakarta. Jadi Jakarta Grand Prix. Jakarta memiliki semua persyaratannya. Dan harus diadakan di jalan raya seperti di beberapa negara lain termasuk Singapura.

T          : Di jalan raya (street race)? Kalau di Jakarta di daerah mana itu Pak?

RG      : Di kawasan Monas hingga ke Jalan Thamrin.

T          : Apa Bapak yakin?

RG      : Yakinlah, yang penting kerja sama dan didukung masyarakat. Apalagi kalau ada local heronya  (pahlawan / pebalap dari Indonesia).  (Sean Gelael yang berada di tempat wawancara ini di Sama-Sama Hotel di Sepang, Malaysia, mengangkat tangan dan berujar..Aamiin.)

T          : Sepertinya Bapak begitu yakin?

RG      : Bangsa besar harus bisa berbuat lebih bagus. Republik Indonesia tidak boleh lebih jelek dari Singapura. Artinya, bila Indonesia menyelenggarakan, harus lebih baik dari Singapura GP. Kalau mau berbuat jangan tanggung-tanggung. Kita jangan sering mengejek bangsa sendiri, apalagi kalau tidak punya prestasi.

T          : Jakarta F1 Grand Prix, menarik ya Pak..

RG      : Ya menarik lah. Dari Jakarta kita promosikan berbagai tempat di Indonesia. Jangan orang asing taunya hanya Bali. Malaysia berhasil mempromosikan wisata negara. Banyak wisatawan datang berkujung, termasuk menghabiskan waktu mereka sebelum nonton di Sirkuit Sepang.  Termasuk ya local hero itu.  Orang Australia berduyun-duyun ke Malaysia karena mereka punya pujaan Daniel Ricciardo (kelahiran Perth, Australia, 1989 – dari tim Red Bull, urutan keempat klasemen sementara setelah Malaysia GP 2017).  Walau ada juga negara penyelenggara tanpa pebalap local..ya tetap berhasil sebagai host.

T          : Apakah Bapak pernah membicaran ini dengan pihak yang berkelayakan?

RG      :  (Tersenyum, menggeleng).

T          :  Kalau ini diadakan di Jakarta, sebaiknya kapan Pak?

RG      : FIA sudah pernah menawarkan. Tahun 2020 atau 2021!

T          : Kok begitu yakin Pak..

RG      : (Tertawa).  Ya, kan kalau ada yang mau menyelenggarakan.  Kalau duitnya ada.  Kalau semua masyarakat mendukung.   Perlu diingat, menjadi promotor F1 itu tidan ada untungnya dari sisi komersial, melainkan dari sisi kebangaan (pride) pemerintah dan negara, dikenal di mata dunia.

T          : Kalau dihitung-hitung, butuh dana berapa Pak?

RG      : Wah harus dihitung dulu, ini kan diawali dengan pengadaan sarana dan prasarana. Kontrak berapa tahun. Dan sebagainya.

T          : Yah, perhitungan kasarnya saja Pak.

RG      : Yah..sekitar 50 juta lah.

T          : 50 juta apa Pak.

RG       : Ya 50 juta dolar AS lah. Barangkali ya..

(ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru