Sunday, September 15, 2019
Home > Berita > RI Harus Manfaatkan Dukungan Saudi

RI Harus Manfaatkan Dukungan Saudi

Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al Saud ke Indonesia menimbulkan harapan baru bagi Negara dan bangsa Indonesia. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan Indonesia sudah menandatangani 11 Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman untuk berbagai bidang, di Istana Bogor, Jawa Barat, awal kunjungan Raja Salman, beberapa waktu lalu.

Yang sudah pasti diketahui terdapat 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 93,3 triliun besaran MoU tersebut. Jumlah itu baru untuk dua MoU. Pertama, kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan Saudi Aramco, BUMN Arab Saudi, terkait Kilang Cilacap. Besarannya mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 80 triliun. Dan kedua, pembiayaan proyek pembangunan antara Saudi Fund Development dan Pemerintah Republik Indonesia, sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 13,3 triliun.

Nilai MoU yang sudah diketahui pasti memang tidak—atau belum mencapai–25 miliar dolar AS atau sekitar Rp325 triliun, seperti pernah diungkapkan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung. Namun fakta yang ada sudah menunjukkan suatu hal yang positif alias menguntungkan. Nilai kerja itu jelas tidak kecil bila dibandingkan dengan dukungan Saudi terhadap Indonesia selama ini. Apalagi masih ada 9 nota kesepahaman yang belum ada nilai investasinya.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, sepanjang tahun 2016 Arab Saudi hanya berinvestasi sebesar 900 ribu dolar AS di Indonesia. Nilai itu menempatkan Arab Saudi di urutan ke-57 dalam urutan Negara yang berinvestasi Indonesia, bahkan berada di bawah Afrika Selatan yang menanamkan modalnya sebesar 1 juta dolar AS dan Mali sebesar 1,1 juta dolar.

Kesepakatan yang telah ada tentunya menguntungkan Indonesia (sebut kedua belah pihak), dan diharapkan mampu meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara. Dukungan atau investasi Arab Saudi yang telah terjadi semoga saja dapat ditingkatkan lagi, berkat kerjasama yang telah terjalin. Yang lebih penting lagi, mudah-mudahan semua kesepahaman yang ditandanganti benar-benar menjadi kenyataan. Tidak hanya menjadi perjanjian di atas kertas.

Indonesia lebih berkepentingan terkait kerjasama dengan Saudi. Tidak hanya karena Indonesa sebagai Negara berpenduduk beragama Islam di dunia, kaitannya dengan kepentingan melaksanakan ibadah haji, tetapi Indonesia juga memiliki jutaan pekerja yang membanting tulang di Arab Saudi, selain banyak maahasiswa.

Banyak pula pekerja profesional yang bekerja di Negara kaya minyak tersebut, seperti di sektor perminyakan, telekomunikasi, dan lainnya. Untuk mendukung anak bangsa di “perantauan” tersebut, tentunya ikatan kerja sama dengan Negara setempat sangkat membantu.

Nah, belajar pada hubungan Indonesia – Arab Saudi di masa lalu, sepertinya Indonesia sepantasnya menempatkan diri sebagai Negara yang diperhitungkan Arab Saudi. Melihat ketika Indonesia di pimpin oleh Presiden Soeharto, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya tidak sulit untuk kembali membawa Indonesia memiliki peran diantara Negara-negara Islam, atau di Timur Tengah.

Indonesia era Pak Harto menjadikan Indonesia sebagai Negara yang terang-terangan dan ngotot memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina. Indonesia kala itu juga berperan besar dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia hendaknya tidak hanya diharapkan meningkatnya tujuan investasi dari Negara-negara Timur Tengah ke Indonesia.Tetapi sebaliknya juga dimanfaatkan untuk mengangkat peran Indonesia di mata dunia. Seperti ajakan Raja Salman, Indonesia seharusnya berperan dalam perdamaian dunia, terutama di Negara-negara Timur Tengah, selain aktif memerangi kejahatan teroris, dan masalah dunia lainnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru