Thursday, August 22, 2019
Home > Berita > Revolusi IMI Diawali dari “Share Perspective” Catatan A.R. Loebis

Revolusi IMI Diawali dari “Share Perspective” Catatan A.R. Loebis

Ikatan Motor Indonesia (IMI)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Ikatan Motor Indonesia (IMI) kini lebih fokus bekerja mengejawentahkan program mereka, setelah tidak ada lagi kata “tergugat dan penggugat” yang selama ini pasti terasa seperti duri dalam daging.

Sadikin Aksa dan Prasetyo Edi Marsudi hampir setahun berseteru, sejak Sadikin diangkat aklamasi sebagai ketua umum PP IMI pada Munas IMI Desember 2015 – dianggap tidak sah oleh kubu Prasetyo sehingga kasusnya berlanjut dan diselesaikan oleh Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI).

Kedua tokoh itu mendeklarasikan perdamaian mereka pada acara Musyawarah dan Mufakat IMI Senin malam 17 Oktober 2016 di  Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, dihadiri 31 pengurus IMI Daerah serta pengurus KONI Pusat.

“Kami sudah sepakat untuk mengakhiri segala macam intrik. Sadikin ini adik saya, jadi harus dibimbing dan diawasi,” kata Prasetyo.

“Pak Pras punya pengalaman besar sebagai ketua DPRD DKI, jadi saya berharap ia tetap memberi petinjuk dan mengawasi kami,” dibalas Ikin, panggilan akrab Sadikin Aksa.

Duri itu pun sudah tercabut dari daging dan tentu saja PP IMI dan semua pihak yang berkepentingan merasa lega dan dapat bekerja fokus untuk kemaslahatan organisasi. Periode kepemimpinan Sadikin Aksa pun diubah dari 2015-2019 menjadi 2016-2020.

Seminggu setelah perdamaian 18 Oktober 2016, tepatnya pada 25-26 Oktober 2016, PP IMI langsung menggelar acara workshop “Sharing Perspective” di Jakarta, diikuti 40 klub dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara ini dianggap cukup sukses, semua peserta amat antusias, sehingga kata Ikin – nyaris tidak ada peserta keluar ruangan pada gelaran acara selama dua hari itu.

Ikin menyebutkan, sepanjang 2016 ada sekitar 1.400 event otomotif di Indonesia untuk tingkat daerah, nasional dan internasional, dengan standarisasi yang berbeda-beda.

“Jadi kita harus sharing atau membagi pengalaman dalam hal ini, seperti yang juga dilakukan FIA terhadap grass-rootnya. Juga pembagian pengalaman dan pembelajaran di bidang manejerial event, bagaimana meningkatkan komersial event dan bagaimana cara meningkatkan mutu event,” kata Sadikin Aksa yang sudah beberapa kali mengikuti acara serupa di tingkat FIA.

Revolusi manajemen

Kata “revolusi” mungkin tak salah diterapkan kepada IMI, karena para peserta workshop – utamanya pengurus klub dan promotor nasional dan daerah sebagai ujung tombak pembinaan dan penyelenggara event – kelihatan amat mendambakan adanya perubahan dan perbaikan secara menyeluruh di tubuh IMI.

Salah satu hal paling menarik dalam workshop itu, munculnya wacana untuk lebih mempermudah masyarakat masuk dalam organisasi IMI dan kelak mendapatkan kartu tanda anggota (KTA) hanya mendaftar secara “online”.

Sang pencetus, Sekjen PP IMI Jeffrey JP,  membuka wacana itu sehingga hal baru ini mendapat sambutan hangat dan diskusi berkepanjangan pada workshop yang baru pertama kali diadakan IMI.

Ia menyatakan amat prihatin karena saat ini di Indonesia anggota IMI baru sekitar 20.000-an, padahal pendudukan negara ini sudah mencapai 230 juta jiwa lebih.

“Di Jepang yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia, anggota asosiasi kendaraan bermotor mereka sudah mencapai dua juta orang. Kalau pada 2020 kita memiliki anggota 100 ribu orang saja, dengan iyuran Rp100 ribuan per tahun, maka IMI akan dapat pemasukan sekitar Rp1 miliar,” kata Jeffrey.

Sadikin malah pernah berujar, anggota badan otomotif di Australia mencapai 10 juta orang dari penduduk sekitar 50 juta jiwa, dengan rincian 90 persen dari anggotanya aktif di bidang wisata dan 10 persen di bidang olahraga otomotif.

“Ke depan, kita ingin agar anggota IMI semakin banyak, baik dari kalangan olahraga mau pun dari wisata dan kita akan lebih mempermudah masyarakat untuk dapat bersatu bersama dengan IMI, melalui klub-klub” kata Sadikin.

“Makanya salurannya harus kita buka secara online, tidak usah dibuat payah, dan kita pun sekaligus melaksanakan tertib administrasi dan tertib finansial,” lanjut Jeffrey.

Tentang kartu tanda anggota (KTA) IMI “online” itu, sudah mulai disosialisasikan dalam Munaslub IMI di Surabaya pada Februari 2016 dan dengan tidak adanya lagi masalah di tubuh IMI, maka pengurusnya akan fokus menangani hal ini.

Untuk mencapai keinginan maju bersama itu, ada satu kata kunci yang menjadi tema sentral pada workshop IMI, yaitu pentingnya standarisasi di tubuh IMI serta semua perangkatnya di Indonesia.

Untuk itu, kata Jeffrey, IMI menekankan adanya kaderisas dan standarisasi dalam tubuh ogranisasi itu, serta perlunya meningkatkan komunikasi dan jaringannya serta membuka diri dengan dunia luar dan yang berkaitan dengan unsur pemerintah.

Wacana yang dilontarkan Jeffrey, kelihatannya tidak terlepas dari “blue-print” program kepengurusan Ikin menyangkut tahapan rencana akselerasi menyangkut bidang perubahan (change), komunikasi (communication) dan terbuka (clear) dengan fokus “business oriented”.

IMI memang memiliki kinerja rumit tapi terpadu, karena tidak saja mengurusi perlombaan otomotif, tapi juga menyangkut masalah wisata dan bekerja sama dengan PBB dan FIA di bidang keselamatan berkendaraan di jalan raya.

Tentang orientasi bisnis yang disebut tadi,  Ikin dengan tegas mengatakan bahwa seperti halnya di negara lain, olahraga otomotif harus menjadi “ladang bisnis” dan untuk mencapai itu para promotor nasional dan klub harus meningkatkan mutu penyelenggaraan perlombaan.

“Jangan cari sponsor hanya karena pertemanan atau belas kasihan.  Melalui workshop IMI kita berusaha membagi pengalaman bagaimana cara meningkatkan mutu lomba kita,” kata Ikin.

Di negara lain, ujarnya, event otomotif sudah menjadi wadah bersifat komersial dan berbagai produk menginginkan untuk tampil mendukung acara itu sebagai sponsor.

Tentang peningkatan mutu lomba itu, para peserta workshop mendapat pembelajaran amat berharga dari dua promotor nasional, Helmy Sungkar dari Trendi Promo Mandira dan Tjahyadi Gunawan dari Genta Otosport.

Keduanya menjelaskan dengan jitu dan terbuka tentang kiat mereka menyukseskan event lomba, mulai hal prosedur penyelenggaraan hingga hal teknis, bahkan hal-hal lain di balik layar untuk memberhasilkan acara, menyukseskan dan menggembirakan pebalap, sponsor dan penonton.

Para peserta workshop menyatakan amat puas mendapatkan ilmu yang jarang dibicarakan secara umum itu dan banyak peserta meminta diadakan lagi, serta berniat menyelenggarakan di daerah masing-masing.

Ikin menyatakan pula kendala terbesar yang dihadapi para promotor dan penyelenggara lomba di Tanah Air, umumnya mereka belum mengerti tentang prosedur penyelenggaraan lomba sehingga belum dapat dikomersilkan.

Pembelajaran melalui workshop itu, kata Ikin, juga dilakukan FIA. “Tiap daerah dan tempat memiliki karakter event tersendiri, makanya kita perlu membagi pengalaman,” kata Ikin.

Dalam “tema akselerasi” IMI disebutkan, “Optimalisasi Kinerja yang Berkualitas” pada 2016-2017 serta “IMI Menjadi Induk Organisasi Olahraga Terbaik: pada 2018-2019.

Nah, dengan mampunya IMI fokus pada kemaslahatan organisasi setelah tidak ada lagi “tergugat dan penggugat”, maka tiba saatnya IMI melakukan revolusi mental, revolusi pemikiran dan manajemen organisasi dan ini sudah dimulai melalui “share perspective” pertama di Jakarta.

Kalau keinginan untuk berubah ini lamban mengejawentahkannya, maka IMI akan tetap tertatih-tatih mengejar ketertinggalan dari negara anggota FIA lainnya.  (ARL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru