Friday, November 15, 2019
Home > Cerita > Resolusi 2016 Oleh Hendry Ch Bangun

Resolusi 2016 Oleh Hendry Ch Bangun

Ilustrasi - Resolusi 2016. (job-like.com)

Sudah punya resolusi 2016 belum?
Resolusi di sini maksudnya target-target, keinginan pencapaian, yang kita harapkan menjadi kenyataan tahun depan. Target ini perlu agar ada acuan dalam menjalan hari-hari kehidupan, sehingga tidak sekadar kegiatan rutin tanpa makna. 

Sebagai manusia kita memang sebaiknya hidup dengan target, untuk lima tahun, 10 tahun, tetapi bisa juga setahun, sebulan, tiga bulan, dan sebagainya.

Target jangka pendek mungkin yang sifatnya praktis, jangka menengah dan jangka panjang mungkin ideal. Target itu kita evaluasi di akhir tahun, kemudian diperbaiki bila tidak tercapai, atau dicarikan solusi agar di tahun berikutnya apa yang kita targetkan dapat dipenuhi.

Katakanlah bagi orang dewasa perokok. Dia ingin dalam waktu tiga bulan dia ingin terbebas dari kebiasaan buruk itu. Tentu saja ada target sebulan pertama mengurangi dari dua bungkus menjadi satu  bungkus, bulan kedua menjadi setengah bungkus, dan memasuki bulan ketiga dirinci lagi target mingguan yang lebih spesifik. Lalu ada target berikut, agar badan menjadi bugar, dia mungkin pasang target mulai berolahraga, seminggu dua kali, lalu tiga kali, dst.

Untuk seorang mahasiswa, misalnya, kalau selama ini hanya baca utuh satu buku perbulan, maka mungkin ditargetkan membaca dua buku sebulan, atau bisa jadi tiga buku sebulan. Tampaknya mudah tetapi sebenarnya berat karena kebiasaan bermain gawai, main game, dsb yang membuat membaca buka menjadi kegiatan membosankan.  Padahal seorang mahasiswa yang baik tentu saja harus baca buku agar dapat menguasai ilmunya dengan baik. Tidak sekadar baca potongan, ringkasan, pendapat dari ahli bidang tertentu.

Bagaimana dengan ibu rumah tangga? Barangkali targetnya adalah mengurangi waktu menonton sinetron yang membodohi, acara televisi yang tidak memberikan apa-apa karena hanya ocehan dan gossip yang tidak penting. Dan sebaliknya membuat target, misalnya membaca buku tentang pengembangan minat anak, atau buku agama, membuat kelompok ibu peduli sampah, atau hal-hal lain yang positif lainnya. Atau yang lebih spesifik: karena ingin anaknya kelak menjadi dokter, maka sejak di sekolah menengah, anak disiapkan menguasai matematika, menguasai bahasa Inggris, dsb.

Dibandingkan dengan pemuda-pemuda di luar sana, kebanyakan generasi muda kita belum memiliki roadmap bagi masa depannya. Terkadang orangtua lah yang mencoba mencari dan menentukan menjadi apa anaknya kelak. Padahal keinginan itu belum tentu cocok. Berbeda kalau yang punya keinginan adalah anak itu sendiri, orangtua tinggal berupaya memuluskan cita-cita itu dalam bentuk dukungan finansial, psikologis, dsb.

Jadi, orangtua sudah perlu untuk mengajari anak-anak mereka membuat perencanaan masa depan, tentu dalam diskusi di meja makan, suasana santai. Bisa juga diawali dengan psikotes untuk mengetahui minat dan bakatnya.

Terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang berlaku mulai tahun 2016 misalnya, kita mendengar bagaimana mahasiswa-mahasiswa Thailand, Singapura, Malaysia, sudah mengunjungi negara anggota ASEAN yang dianggap potensial menjadi tempat bekerjanya kelak, seperti Indonesia, Vietnam, atau Filipina.

Mereka berwisata, menguasai sedikit demi sedikit bahasanya, sehingga ketika pasar bebas sudah terbuka, tidak ada kebutaan pengetahuan tentang negara yang ditempati. Bagaimana dengan pemuda-pemudi kita? Mungkin banyak juga yang berjalan-jalan di kawasan ini, tetapi pastilah lebih banyak yang berwisata murni ketimbang mencari ilmu.

Jadi? Mudah-mudahan kita sudah punya rencana baik untuk 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru