Thursday, July 19, 2018
Home > Cerita > Renungan Rohani: Menjaga Keseimbangan Hak dan Kewajiban

Renungan Rohani: Menjaga Keseimbangan Hak dan Kewajiban

Mesjid Bandar Sri Begawan, Brunei. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Hak dan kewajiban manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti dua sisi mata uang yang menyatu.

Bila ada hak maka akan ada kewajiban yang melekat pada sisi sebaliknya. Karena hak dan kewajiban merupakan kesatuan universal ciptaan Allah yang sempurna.

Untuk mencapai dan menjaga kesempurnaan ciptaan Allah, manusia sebagai individu sudah ditunjukkan cara memelihara hak dan kewajiban. Menjaga keseimbangan antara hak dengan kewajiban merupakan keharusan bagi makhluk ciptaan Allah.

Yang mengherankan, di antara kita justru banyak yang selalu menuntut hak tetapi melupakan kewajiban. Misalnya, di tempat bekerja, kita selalu menuntut gaji besar tetapi bekerja malas-malasan. Sehingga tidak ada keseimbangan.

Firman Allah, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. (An Nisa: 58)

Untuk menjaga keseimbangan hak dengan kewajiban itu, Allah telah menyerahkan satu sisi untuk manusia dan sisi lain Allah SWT yang akan memeliharanya.

Kenapa demikian? Karena manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil, pasti akan menambah yang disenangi dan mengurangi apa yang tidak disenangi. Dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terkandung di dalam hati manusia, maka Allah pula yang dapat menjaga keseimbangan hak dan kewajiban.

Rasulullah mengajarkan umatnya untuk melakukan kewajiban karena Allah akan memberikan hak yang muncul karenanya. Rasulullah bersabda, “Akan terjadi sepeninggalku sifat monopoli dan beberapa kemunkaran.”

Sabda Rasulullah yang lain, “Tunaikanlah kewajibanmu dan mintalah kepada Allah untuk mendapatkan hakmu.” (HR Bukhari-Muslim)

Hadits ini dengan sangat jelas menerangkan, sepeninggal Rasulullah akan muncul sifat egois alias mementingkan diri sendiri, yakni menuntut hak dengan berbagai kemunkaran. Mengutamakan kepentingan diri dengan mendahulukan hak tanpa ingat pada kewajiban.

Manusia sebagai individu muslim, hanya diperkenankan melihat kehidupan ini dari sisi pandang kewajiban. Karena itu kewajiban harus dilakukan sesuai fungsi yang melekat pada dirinya sebagai mahluk individu sekaligus kewajibannya kepada orang lain sebagai mahluk sosial. Karena itu bentuk ketakwaan kepada Allah.

Tentang kewajiban individu manusia, sudah tertuang jelas dalam dasar-dasar akhlak mulia yang diajarkan Islam. Contohnya, kewajiban manusia untuk bekerja, Rasulullah bersabda, “Berilah pekerja itu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR Ibnu Majah).
Hadist itu menunjukkan, kewajiban majikan untuk memberi upah pada karyawan (pekerja) dari sisi kewajiban bukan dari sisi hak karyawan.

Dalam hak asasi manusia, Islam mengajarkan manusia kewajiban memelihara bukan untuk menuntut hak. Islam tidak mengajarkan manusia menuntut haknya akan tetapi hanya mengajarkan melaksanakan kewajibannya.

Dalam kehidupan berkeluarga misalnya, Islam mengajarkan sang suami harus melaksanakan kewajibannya sebagai suami dan istri harus melaksanakan kewajiban sebagi istri dalam konteks ibadah.

Yang terjadi, sang suami akan lebih mementingkan kebutuhan sang istri tetapi sang istri juga akan lebih mementingkan kebutuhan suami. Sedangkan hak manusia terbagi dua, yakni hak dari segi agama dan hak dari segi keduniaan.

Banyak contoh lain yang diajarkan Islam tentang kewajiban manusia tetapi lebih pada mengharapkan mendapatkan hak dari Allah SWT. (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru