Monday, July 06, 2020
Home > Cerita > Renungan Rohani: Mencaci Orang Telah Meninggal Termasuk Akhlak Tercela

Renungan Rohani: Mencaci Orang Telah Meninggal Termasuk Akhlak Tercela

Mesjid Kubah Emas Dian Al Mahri di Depok. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, tapi manusia meninggal tidak semuanya meninggalkan nama baik. Karena selama hidupnya ada yang berkubang dalam dalam kejahatan, kemaksiatan, dan kezaliman.

Meski demikian, kita umat Islam yang masih hidup (masih diberi umur oleh Allah SWT), dilarang mencaci-maki orang yang sudah meninggal dunia, betapapun kesal dan bencinya kita terhadap orang tersebut.

Karena perbuatan mengungkit keburukan orang yang sudah meninggal, termasuk akhlak yang tercela.

Sebab, urusan kita terhadapnya sudah berakhir, berikutnya adalah urusan Allah SWT. Kalau masih ada sangkut-paut, misalnya utang-piutang, maka menjadi tanggung jawab keluarganya yang masih hidup. Ke sanalah kita berurusan.

Larangan bagi umat Islam mencaci-maki orang sudah meninggal sangat jelas. Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu mencaci-maki orang yang sudah meninggal dunia, sesungguhnya mereka telah mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (HR Bukhari)

Sementara riwayat Tirmidzi menambahkan, sabda Rasulullah, “Maka kamu akan menyakiti hati orang yang masih hidup.”

Meski seseorang telah meninggal dunia, namun kehormatannya janganlah diganggu-gugat, apalagi dicaci-maki. Karena membukakan rahasia-rahasia kejelekan semasa hidupnya, akan menyakitkan hati keluarganya yang ditinggalkan.

Hanya yang diperbolehkan dicaci dan dicela orang yang sudah mati, seperti telah disebutkan Allah SWT dalam Alquran dan disebut dalam hadist Rasulullah, cuma Firaun, Qarun, dan lainnya yang benar-benar nyata kedurhakaannya kepada Allah dan kekejamannya.

Lisan bisa menimbulkan 2 bencana besar. Pertama, diam terhadap kebenaran. Sabda Rasulullah, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan.”

Kedua, bicara yang bathil. Kejahatan lisan bermacam-macam bentuknya. Sabda Rasulullah, “Engkau membicarakan saudaramu tentang hal yang dia benci. Jika benar ada padanya, maka engkau telah ghibah.” (HR Muslim)

Ghibah atau bergunjing, termasuk dosa besar yang tak diampuni Allah sebelum dimaafkan orang yang bersangkutan.

Ketika Isra Miraj, Rasulullah melihat kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka. Jibril mengatakan, “Mereka telah memakan daging orang dan mencela kehormatan orang.”

Di masa Rasulullah, ada dua wanita yang hampir pingsan karena puasa Ramadhan. Ketika ditanyakan tentang kebolehan membatalkan puasa, Rasulullah malah memberi mangkok dan memerintahkan untuk memuntahkan apa yang telah mereka makan ke dalam mangkok itu.

Mereka memuntahkan darah segar dan daging lunak hingga mangkok penuh. Mereka membatalkan puasa dengan melakukan larangan Allah, yaitu bergunjing atau ghibah.

Sedangkan fitnah (membicarakan aib orang tetapi tidak ada faktanya), dosanya lebih keji daripada membunuh. Dan ini dijelaskan dalam Surah Albaqarah ayat 217.

Naminah atau adu domba (menyebarkan ucapan satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya), Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba.” (HR Bukhari)

Mengutuk dan melaknat, “Siapa yang melaknat seorang mukmin, maka ia seperti membunuhnya.” (HR Bukhari). Ucapan laknat bisa kembali kepada orang yang mengucapkannya.

Mencela dan mencaci-maki. Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang mencaci-maki orangtua sendiri? Jawab Rasulullah, “Dia mencaci maki orangtua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orangtuanya.” (HR Ahmad)

“Jika ada orang yang mencela kekuranganmu, jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Janganlah kamu mencaci-maki siapapun.” (HR Ahmad)

“Tidak tersesat suatu kaum setelah mendapat hidayah kecuali mereka berdebat.” (HR Tirmidzi). Sedangkan Imam Malik berkata, “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan.”

“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka bermusuhan dan bertengkar.” (HR Bukhari)

“Orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah yang buruk akhlaknya, yaitu banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata.” (HR Ahmad)

“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji, dan jorok.” (HR Tirmidzi)

Nah, dari firman Allah dan hadist-hadist Rasululah di atas, kita umat Islam dilarang mencaci-maki, menghujat, mencela, dan mengungkit keburukan orang yang sudah meninggal dunia, kecuali manusia yang nyata-nyata kedurhakaannya kepada Allah seperti Firaun.

Muslim yang paling baik adalah seseorang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Mereka menjaga lisannya dari segala ucapan yang bisa menyakiti hati orang lain.
Berkatalah sesuai tempatnya. Tiap perkataan ada tempat terbaiknya dan tiap tempat ada perkataan terbaiknya. (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru