Thursday, April 02, 2020
Home > Cerita > Renungan Rohani: Manusia Dibebani Tugas Sangat Berat

Renungan Rohani: Manusia Dibebani Tugas Sangat Berat

Mesjid Al Aqsa di Palestina. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.COM (Rohani) – Manusia dibebani tugas sangat berat, dimana tak satu pun mahluk lain yang sanggup memikul amanah seberat itu.

Agar mampu mengemban amanah, manusia dikaruniai beberapa kelebihan dibanding mahluk Allah lain, dalam berbagai segi. Dari segi penciptaannya, manusia adalah sebaik-baik penciptaan (ahsanuttaqwim). Misalnya, organ tubuh manusia dibandingkan mahluk lain semua serba lebih sempurna kreasinya.

Apalagi dalam proses penciptaannya, telah ditiupkan ruh yang menandai dominasi unsur samawi (langit) pada diri manusia yang mengangkatnya ke derajat yang tinggi.

Manusia juga satu-satunya mahluk yang bisa menyerap ilmu dan mengembangkannya. Allah yang Maha Berilmu telah menetapkan dan mengajarkan ilmu-ilmu khusus kepada manusia.

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang terdiri dari unsur zahir (jasad) dan unsur gaib (ruh atau jiwa). Paduan unsur bumi (jasad yang berasal dari tanah) dan langit (ruh) ini, menghasilkan satu makhluk yang khas.

Manusia memiliki karakteristik yang rumit dan komplek, dimana di dalamnya tergabung unsur kebaikan dan keburukan. Dia dapat meninggi melebihi para malaikat, namun dia pun dapat terjungkal ke jurang kehinaan melebihi binatang.

Karena karakteristiknya yang khas itu, manusia sulit dimengerti dan dikenali secara utuh, kecuali oleh Sang Pencipta sendiri. Banyak ilmuwan yang gagal memahami perilaku dan sifat khas manusia. Betapa banyak hal yang tidak diketahui tentang manusia, baik yang zahir maupun yang gaib.

Ilmuwan hingga kini masih sulit menghubungkan teori kedokteran dengan fenomena mimpi. Para ahli juga belum mampu mengurai zat-zat apa yang menyusun gen hingga dapat membawa sedemikian banyak sifat dan karakter orangtua pada anaknya. Sebagian ilmuwan ada yang meraba-raba sifat khas ini, lalu lahirlah berbagai teori tentang manusia.

KHALIFAH
Definisi manusia adalah mahluk yang terdiri dari ruh dan jasad yang dimuliakan dengan tugas ibadah dan berkedudukan sebagai khalifah, yakni sebagai pemimpin di bumi. Dan yang akan menentukan keberhasilan adalah akhlaknya.

Sebagai mahluk, manusia secara fitrah memiliki beberapa kelemahan yang memang manusiawi. Seperti, manusia adalah mahluk yang lemah (dhoif), baik fisik maupun batin.

Di samping itu, manusia memang diciptakan dalam keadaan bersusah payah, juga manusia bersifat zalim dan bodoh/jahil, sehingga dalam sabda Rasulullah, digambarkan sebagai tempat salah dan lupa.

Apalagi jika dibandingkan dengan ke-Maha Tahu-an dan Ilmu Allah, maka ilmu manusia hanyalah setetes air dibanding seluruh samudera. Sebagai Pencipta dan Pemilik seluruh alam semesta (termasuk manusia) tentu saja Allah Maha Kaya, sedang manusia amatlah fakir dan senantiasa tergantung pada rahmat dan pertolongan Allah.

Sayangnya manusia juga punya sifat suka membantah, di samping berkeluh kesah (jazua) dan kikir (manua). Ketika menerima nikmat jarang bersyukur, sedang ketika datang bala (cobaan) amat mudah berkeluh kesah.

Dalam Alquran, Allah mengomentari sifat manusia yang sering berbuat tergesa-gesa (ajula) hingga banyak memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Manusia juga sering ingkar kepada Rabb-nya.

Kelemahan-kelemahan di atas, tidak seharusnya menjadikan manusia berputus asa dan menyerah pada keinginan hawa nafsu. Sebab, segalanya tergantung kepada manusia itu sendiri.

Jika dia memanfaatkan potensi dirinya untuk kebaikan, maka dia akan menjadi manusia yang baik dan selamat. Sebaliknya bila sifat negatif yang terus diikuti, niscaya dia jatuh ke dalam jurang kehinaan dan kenistaan.

Keistimewaan lain adalah kemampuan manusia berbicara dengan berbagai macam bahasa dan sarana, termasuk menirukan bunyi-bunyian alam dan binatang. Allah juga telah mengaruniakan lidah dan dua bibir agar manusia bisa berbicara.

Di antara makhluk-Nya yang lain, Allah pun memberikan kedudukan yang tinggi kepada manusia, yaitu sebagai pemimpin, sehingga manusia bisa memanfaatkan alam semesta ini untuk keperluan hidupnya.

MEMAKMURKAN
Segala yang ada di alam ini telah disediakan untuk kepentingan manusia, karena memang manusialah yang bertugas memakmurkan bumi.

Untuk itu manusia dibekali kemampuan akal, dengannya dapat berfikir, melakukan pengamatan dan menyimpulkan. Manusia juga berkembang daya intuisi dan imajinasinya, bisa mengkhayalkan sesuatu yang belum pernah terjadi. Akalnya berkembang menjadi sarana berkembangnya ilmu dan teknologi, sedang kemampuan imajinasinya mengembangkan kreatifitas manusia dalam berkarya.

Allah juga yang memberikan kebebasan berkehendak (iradah) kepada manusia. Dia bisa memilih jalan yang baik, bisa pula memilih jalan yang sesat.

Sekadar ilmu, belum tentu bisa mengarahkan kepada kabaikan. Yang bisa mengarahkan kepada kabaikan adalah kemauan dan kehendak yang kuat untuk menjalankan petunjuk dari Allah, yaitu Alquran dan Sunah Rasul (Hadist) sebagai rujukan, pedoman agar manusia tidak salah dalam memilih dan melangkah karena sudah ada patokan yang jelas dalam tuntunan Allah tersebut.

Bisa jadi orang sudah memiliki ilmu tentang balasan surga dan neraka, namun dia tidak bisa menjadi baik hanya karena ilmunya, tanpa dibarengi dengan kehendak yang kuat untuk menjadikan dirinya baik.

Manusia pun memiliki tendensi moral atau akhlak tersendiri, yang membuatnya memiliki peluang untuk dibentuk menjadi baik atau buruk. Bahkan manusia juga bisa berperan ganda sebagaimana orang munafik. Satu sisi dia kelihatan baik, namun ternyata dia adalah orang jahat,

Manusia memang istimewa dibanding mahluk lain. Maka sadarilah, sehingga kita mengambil jalan yang baik, lurus, dan selamat. Semoga! (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru