Thursday, December 12, 2019
Home > Cerita > Renungan Rohani: Jelang Ramadhan, Persiapan Hadapi Ujian Bagi Orang Beriman, Perbanyak Amalan Sunah

Renungan Rohani: Jelang Ramadhan, Persiapan Hadapi Ujian Bagi Orang Beriman, Perbanyak Amalan Sunah

Mesjid Agung Banten. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Sebentar lagi kita memasuki bulan puasa (Ramadhan). Bulan mulia bagi umat Islam dan bulan ujian bagi orang yang beriman. Untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini, kita mesti melakukan persiapan, baik mental maupun spiritual, persiapan fisik maupun materi.

Persiapan mental dan spiritual, merupakan persiapan bersifat rohaniah. Jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, paling tidak di bulan Syaban ini, sebagai muslim yang baik kita harus mengisi hari-hari dengan memperbanyak amalan-amalan sunah, tahajud, serta puasa sunah.

Tujuannya, selain untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT, juga sebagai latihan menghadapi ‘ujian sebenarnya’ pada bulan Ramadhan nanti. Karena di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunah nilai pahalanya jauh lebih besar dari amalan di hari biasa.

Kita harus mengingat, pada Ramadhan lalu, bila puasa kita bolong-bolong disebabkan apa? Dengan adanya persiapan, berarti kita mengantisipasi kemungkinan itu terulang lagi.

Bagi kaum ibu yang tak dapat melaksanakan puasa karena sedang hamil atau menyusui, sudahkah membayar fidyah? Lunasi semua utang-utang kita pada Ramadhan lalu, maka insya Allah kita dapat menghadapi bulan puasa kali ini dengan hati yang lebih tenteram.

Sambut Ramadhan dengan suasana hati gembira dan bahagia. Karena Allah menyampaikan usia kita bertemu lagi Ramadhan yang mulia.

Kita juga mesti ingat, bila Ramadhan lalu masih berkumpul orang-orang yang kita cintai, sahur bersama dan berbuka bersama, tetapi sekarang mungkin mereka telah dipanggil Yang Maha Pencipta. Tetangga kita yang dulu tarawih bersama, sekarang sudah pergi meninggalkan kita.

Maka berbahagialah kita, karena atas karunia Allah yang besar kita masih dalam kondisi sehat walafiat.

Perbanyak membaca Alquran dan pahami serta amalkan meski hanya satu ayat, karena Alquran diturunkan Allah pertama kali pada bulan Ramadhan.

Berlatih mengurangi kebiasaan buruk, seperti bicara sia-sia yang tak bermanfaat, jauhkan diri dari bergunjing (gibah) karena hal itu bisa menjerumuskan kita kepada fitnah.

Kita juga terkadang lupa mempersiapkan fisik dan materi dalam menghadapi Ramadhan. Padahal ini sangat penting. Sebab dengan kondisi fisik yang baik atau prima, kita bisa mengisi bulan suci dengan amalan-amalan sunah yang nilainya tak terhingga.

Kondisi fisik prima juga berperan penting selama kita berpuasa di siang hari. Karena kita bisa melakukan aktifitas sehari-hari meski dalam kondisi berpuasa.

Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Tapi jangan lantas tidur sepanjang hari. Bisa-bisa malah puasanya tak benar.
Siang hari yang panas mengandung makna tersendiri bagi orang berpuasa. Panasnya matahari membantu proses detoksifikasi dalam tubuh, juga merupakan ujian bagi orang-orang yang bekerja membanting tulang sambil berpuasa. Karena sungguh kenikmatan tiada tara saat berbuka puasa.

Fisik yang sehat juga berperan penting di malam hari untuk tarawih, tahajud, dan tadarus. Orang soleh tidurnya berkurang selama malam bulan Ramadhan guna memperbanyak amal ibadah.

Dari sisi materi, juga perlu diperhatikan menghadapi puasa. Bayangkan harga-harga sembako dan pakaian ibadah yang banyak dibutuhkan kaum muslimin karena semuanya naik.

Dana ekstra juga dibutuhkan untuk keperluan sahur dan berbuka puasa, karena gizi keluarga perlu diperhatikan.

Sahur tidaklah harus mewah tetapi harus tetap mengandung gizi yang cukup. Hidangan berbuka setiap hari juga membutuhkan dana khusus untuk membeli makanan atau membuat sendiri.

Biasanya orang berpuasa nafsunya meningkat melihat makanan di siang hari, meski saat berbuka yang dimakan sekedarnya saja.

Belum lagi menghadapi Lebaran, apalagi bila berniat pulang kampung (mudik), maka perlu persiapan dana pula. Buat membeli pakaian dan ongkos mudik. Jadi intinya persiapan fisik dan materi itu sama pentingnya.

Bulan Ramadhan itu jika dianalogikan dalam dunia olahraga adalah bulan pertandingan, setelah pada bulan sebelumnya kita latihan intensif.

Rintangan-rintangan (ujian) yang kita lalui selama sebulan berpuasa, pada akhir bulan akan melahirkan juara. Dan pada hari kemenangan (Idul Fitri) kita berpesta merayakannya. Sungguh terasa nikmat dan indah menjadi sang juara! (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru