Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Renungan Rohani: Jangan Hanya Melihat ke Atas

Renungan Rohani: Jangan Hanya Melihat ke Atas

Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita jangan hanya melihat ke atas, tetapi lihat juga ke samping (sekeliling) dan ke bawah. Karena bila kita selalu melihat ke atas, maka hati kita akan diliputi perasaan iri dan dengki. Sebab, di atas itu terdapat orang-orang yang serba lebih dari kita.

Sedangkan apabila kita sering melihat ke samping dan ke bawah, maka hati kita akan tenang. Karena dalam hati kita tumbuh rasa syukur kepada Allah. Ternyata masih banyak orang yang kehidupan ekonominya sama bahkan lebih parah dari kita.

Dengan tumbuhnya rasa syukur, maka hati kita akan tergerak untuk membantu sesama dengan apa yang kita miliki. Kita akan selalu merasa menjadi orang yang beruntung, bukan ‘orang buntung’ saat kita melihat ke atas.

Kita juga akan berusaha berjalan dan bertindak untuk mencari ridho Allah. Karena kita memahami Allah memang memberikan kelebihan dan kekurangan di antara hamba-hamba-Nya. Dan itu semua hanyalah ujian bagi kita hidup di dunia ini, seberapa tinggi kesabaran kita menerima kelebihan dan kekurangan itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian, karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kalian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam Alquran, Allah memerintahkan hamba-Nya dengan bahasa yang santun untuk membantu orang-orang yang lemah. Salah satunya penyebabnya, karena perputaran uang sering kali hanya dinikmati para pengusaha kaya dan besar saja tanpa melibatkan orang-orang lemah yang mencoba berusaha.

Dalam Surah Al Israa 17: 18-21, Allah berfirman, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia dalam keadaan mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun itu, Kami beri bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebahagian dari mereka atas sebahagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa lebih nyaman membeli pulsa lewat ATM yang kita bayar sesuai nilai nominalnya. Sedangkan di pedagang pinggir jalan, justru kita enggan mampir.

Padahal, mungkin penjual pulsa di emperan itu seorang yang cacat tubuhnya, tapi berusaha keras dengan menjauhi cara meminta-minta. Mungkin pula seorang janda yang butuh menghidupi anaknya yang banyak, dan lain-lain.

Orang-orang seperti ini seharusnya dihargai, karena mereka merupakan ladang amal saleh bagi yang membantunya.

Lihatlah kenyataan yang ada di sekeliling kita. Kita lebih senang berbelanja ke supermarket daripada ke pasar, padahal justru di pasar begitu banyak amal saleh yang bisa didapatkan bila kita mencari ridho Allah SWT.

Mulai dari bertransaksi dengan para pedagang, hingga membantu orang-orang yang menawarkan jasa sebagai kuli angkut barang kita sampai ke kendaraan.

Puluhan hingga ratusan orang yang berada di pasar, menggantungkan hidupnya kepada pembeli yang datang. Bukankah berbelanja di supermarket kita juga dapat membantu ratusan pekerja di dalamnya?

Memang benar, tapi bukankah lebih berharga jika kita dapat juga meluangkan waktu untuk pergi ke pasar demi amal saleh yang kita niati.

Alangkah indahnya jika kita yang mampu ini dengan segala kesempurnaan bentuk tubuh, melakukan bagian kita membantu yang lemah. Bukankah ini lebih baik daripada memberi kepada peminta-minta di pinggir jalan, yang ternyata ngemis cuma karena kemalasan?

Kita bangga melihat pemimpin daerah yang bertekad memberdayakan semua lapisan masyarakat untuk berusaha dengan peluang yang sama. Sehingga warga bisa menafkahi keluarganya dengan baik dari hasil keringatnya sendiri, bukan dari meminta-minta. Semoga! (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru