Tuesday, December 10, 2019
Home > Cerita > Renungan Rohani: Jangan Bergantung Pada Topeng Duniawi

Renungan Rohani: Jangan Bergantung Pada Topeng Duniawi

Mejid Istiqlal Bandarjaya, Lampung. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Dunia ini hanyalah sementara, ada batas dan akhirnya. Tempat kita mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Karena hanya akhirat yang kekal. Lantas kenapa kita begitu cinta dunia, memuja kegemerlapan dunia? Padahal itu semua hanyalah topeng duniawi.

Kesombongan seseorang, keminderan, iri, dengki, maupun ketakutan akan kehilangan duniawi, merupakan indikasi bahwa seseorang belum sampai pada keyakinan bahwa semuanya hanya titipan Allah SWT semata.

Semakin lemah keyakinan seseorang, maka akan semakin tersiksa dan diperbudak kehidupan dunia. Perasaannya akan selalu diliputi ketakutan kehilangan duniawi, padahal semestinya kita justru harus mengurangi kecintaan dunia.

Jika sudah kokoh dan mantap keyakinan bahwa segalanya hanyalah milik Allah, dan kita ini sekedar mahluk yang mampir sebentar di dunia ini, maka akan ada sesuatu kondisi batin yang mantap, tidak akan goyah oleh ada dan tiada selama kita di dunia ini. Tak ada
kesombongan, minder, iri, dengki, dan ketakutan akan kehilangan atau pun kesedihan dengan ketiadaan.

Terkadang kita seperti anak kecil, yang ingin pamer kemewahan. Semua ini terjadi karena masih bergantungnya hati kita pada topeng duniawi.

Tapi jika sudah semakin yakin bahwa kemuliaan sejati hanyalah datang dari Allah, terlepas ada atau pun tiada ‘dunia’ yang ditipkan, ditambah keyakinan mendalam bahwa semua harta yang ada adalah total milik Allah semata, yang dititipkan sejenak saja, maka tak ada lagi kesempatan sombong, takabur, atau pun pamer.

Dan kerendahan hati, itulah sebenarnya yang akan membuat diri kita tampak jauh lebih indah daripada asesoris dunia yang dimiliki, lebih berharga dan lebih terhormat, dibanding harta atau kedudukan apapun yang dimiliki.

Marilah kita latih diri kita untuk menahan diri dari bersikap pamer. Tekanlah sekuat tenaga keinginan untuk memamer-mamerkan apapun yang tak halal untuk dipamerkan.

Berusahalah untuk melupakan keinginan dihargai, dihormati, hanya karena penampilan duniawi. Begitu pun ketika akan membeli barang-barang yang diperlukan, tanyalah kepada hati kita yang terdalam, benarkah harus membeli barang ini itu, karena diperlukan atau ingin dipuji orang?

Tak ada salahnya, di rumah, di kendaraan, atau di barang apapun kita tempelkan stiker atau apa saja yang dapat mengingatkan kita kepada Allah.

Tujuannya, selain mengingatkan kita bahwa semuanya adalah titipan Allah, juga berdakwa kepada orang lain bahwa semuanya hanyalah titipan Allah. Supaya pujian pun tidak ditujukan kepada kita, tetapi hanya kepada Allah SWT yang Maha Terpuji.

Punya rumah besar, belum tentu berkah. Punya rumah mungil tetap enak mengurusnya. Yang penting penuh rahmat dan bisa menjadi jalan taat kepada Allah.

Karena semuanya itu hanyalah datang dari Allah, sehingga bagi penghuninya penuh rasa syukur. Dan keluarga kita tidak silau atau tertipu kemilau duniawi. Ini juga berguna untuk menekan perasaan minder.

Hidup di dunia ini hanya mampir sebentar, besar kecil ukuran rumah tidak menjadi patokan kebahagiaan. Bahkan untuk tidur pulas pun belum tentu diberikan Allah terhadap orang yang punya Istana sekalipun.

Yang penting rumah yang kita punyai harus disyukuri dan dirawat dengan baik agar Allah suka.

Kita hias dengan akhlak yang mulia para penghuninya, kita penuhi dengan ilmu, salat, dan ayat-ayat Allah. Kita muliakan tamu agar rumah mungil menjadi cahaya, bukti kemuliaan agama Allah.

Dunia ini hanya mampir sejenak, tidak usah kita dengki kepada orang yang lebih dari kita. Malah kita kasihan kepada para pendengki yang berbuat zalim, padahal dia sendiri yang sengsara dan menderita.

Mengapa mendengki terhadap apa yang telah Allah bagikan. Segala ukuran telah ditetapkan pemiliknya dengan perhitungan yang maha cermat, tak akan salah dan tak akan tertukar.

Misalnya dalam sebuah keluarga, walaupun seayah dan seibu, tetapi rezekinya berbeda-beda. Ibarat ukuran kaki, orang yang ukuran 38 tak usah iri pada ukuran kaki 52 dan jangan memaksakan diri memakai sepatu ukuran 42. Selain tampak lucu, juga tampak jelas kebodohannya.

Ingat, apa yang cocok dan baik untuk orang lain, belum tentu cocok dan baik untuk kita. Biarlah segalanya sesuai dengan ukuran dan jatah masing-masing. Jadi jangan bergantung pada topeng duniawi. (H. Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru