Monday, September 23, 2019
Home > Cerita > Renungan Rohani: Buah dari Keikhlasan Tak Tersentuh Api Neraka

Renungan Rohani: Buah dari Keikhlasan Tak Tersentuh Api Neraka

Mesjid Khadija di Yogyakarta. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Kita sebagai hamba Allah, agar selalu berupaya melakukan semua kegiatan disertai dengan hati ikhlas. Sebab, keikhlasan dengan hanya mengharapkan ridha Allah, sangat besar manfaatnya.

Di antara buah paling agung yang diberikan Allah kepada orang orang yang ikhlas hatinya, diharamkan tersentuh api neraka.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan sentuhan api neraka kepada orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.” (HR Bukhari)

Sehingga orang yang ikhlas bertauhid atau beriman kerpada Allah, maka akan selamat dari hukuman kekal di dalam neraka.

Apabila keikhlasan itu sempurna di dalam hatinya, maka dia akan selamat dari hukuman neraka dan tidak masuk ke dalamnya sama sekali. Orang yang mendapatkan keutamaan ini, hanyalah orang yang ikhlas dalam mengucapkan Dua Kalima Syahadat. Yang terkecualikan dari keutamaan ini, orang-orang munafik, dikarenakan mereka tidak mencari wajah Allah ketika mengucapkan Dua Kalimah Syahadat (La Ilaha Illallah).

Hati yang ikhlas, selamat dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku berkubang dosa.

Karena hati itu bersih dari keburukan, maka akan menjadi hati yang diwarnai ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan, serta dihiasi dengan keindahan dan kebaikan.

Dia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun, serta berupaya selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara.

Amalnya ikhlas karena Allah, apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan benar, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya agama yang murni itu merupakan hak Allah.” (QS Az-Zumar: 2-3)

Allah juga bererfirman, “Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan salat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah: 5)

Firman Allah yang lain, “Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS Ghafir: 14)

Hati yang ikhlas tidak akan berkumpul dengan kecintaan kepada pujian dan sifat rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Karena ikhlas tidak mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia serta tidak akan bersatu dengan ketamakan terhadap apa yang dimiliki manusia lain. Dia bertolak belakang seperti api dengan air.

Keikhlasan merupakan sesuatu yang membutuhkan perjuangan dan kesungguh-sungguhan dalam menundukkan hawa nafsu.

Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagi jiwa manusia selain daripada ikhlas. Karena di dalamnya sama sekali tidak terdapat jatah untuk memuaskan hawa nafsunya.

Sebesar apapun amalan, maka yang akan diterima Allah hanyalah amal yang ikhlas. Amalan yang besar bisa berubah menjadi kecil gara-gara niat, sebagaimana amal yang kecil bisa menjadi bernilai besar karena niat.

Orang yang iklhas, akan terhindar dari perbuatan riya (pamer). Dia beramal karena mengharapkan ridha Allah. Sedangkan riya adalah beramal karena ingin dilihat orang dan demi mendapatkan sanjungan, padahal itu dosa yang sangat berat hukumannya. (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru