Tuesday, October 22, 2019
Home > Berita > Rajuma: Tentara Melemparkan Bayi Saya ke Kobaran Api

Rajuma: Tentara Melemparkan Bayi Saya ke Kobaran Api

Banyak warga Rohingya telah berbagi cerita serupa, menggambarkan bagaimana wanita dan anak perempuan diperkosa, disiksa, dan dipaksa menanggung tindakan penghinaan di tangan tentara Myanmar.

 

Duduk di lantai berdebu dalam sebuah tenda bobrok di Kutupalong, Cox’s Bazar – salah satu kamp pengungsi Rohingya terbesar di Bangladesh – Rajuma berjuang untuk mengatasi kesedihannya saat dia menggambarkan pada suatu malam  bayinya dibunuh dengan brutal.

Dengan rasa sedih yang mendalam yang terukir di wajahnya, Rajuma menceritakan secara rinci kepada Al Jazeera, saat hari tentara Myanmar menyerang Tula Tuli, sebuah desa terpencil di negara bagian Rakhine utara.

“Bayi saya ada di pangkuan saya saat tentara memukul saya,” katanya pada Mohammed Jamjoom dari Al Jazeera. Suaranya bergetar karena menahan emosi.

“Dia terjatuh dari pelukanku, lalu mereka menarikku lebih dekat ke dinding, dan aku bisa mendengarnya menangis. Kemudian setelah beberapa menit, aku juga bisa mendengar bahwa mereka juga memukulnya.”

Anaknya Sadiq adalah seorang bayi laki-laki berumur satu setengah tahun yang sehat dan bahagia. Anak itu kini sudah tiada. Rajuma masih belum percaya anaknya itu tidak ada lagi.

Setelah merebut dari tangannya, Rajuma mengatakan,  tentara Myanmar melemparkan Sadiq ke dalam kobaran api. “Saya merasa seperti ikut terbakar,” katanya, kemudian menangis dan menangis, mengenang anak dan  ibunya yang juga telah meninggal.

Orang tuanya, dua saudara perempuannya dan adik laki-lakinya terbunuh. Suaminya, Mohammed Rafiq, adalah satu-satunya anggota keluarga lainnya yang bisa bertahan.

“Kadang-kadang (Rajuma) mengatakan bahwa kepalanya terasa seperti memutar dan dia tidak dapat menahannya,” kata Rafiq kepada Al Jazeera. “Terkadang dia melihat foto bayi kami, dan dia berteriak dan menangis. Setiap hari dia menangis.”

Banyak warga Rohingya telah berbagi cerita serupa, menggambarkan bagaimana wanita dan anak perempuan diperkosa, disiksa, dan dipaksa menanggung tindakan penghinaan di tangan tentara Myanmar.

Sementara Myanmar terus menolak tuduhan pembersihan etnis, dengan mengatakan bahwa serangan militer tersebut merupakan “operasi pembersihan” untuk mengusir para pejuang Rohingya yang telah melakukan serangan terhadap pos-pos perbatasan pada bulan Agustus. Myanmar juga menolak untuk mengizinkan pengamat internasional untuk menyelidikinya.

Sejak 25 Agustus, tentara Myanmar telah melakukan kampanye militer yang brutal di negara bagian Rakhine utara melawan Rohingya – sebuah kelompok etnis mayoritas Muslim yang olehnya pemerintah Myanmar ditolak kewarganegaraan dan hak-hak dasar.

Lebih dari 500.000 orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar, sebagian besar ke Bangladesh dengan berjalan kaki atau dengan kapal, dengan bantuan badan-badan bantuan.

Dukungan untuk kesehatan mental dan perawatan psikologis tidak banyak tersedia, menimbulkan kekhawatiran bahwa Rohingya dapat mengalami gangguan mental seumur hidup – dan bahkan kerusakan fisik.***(Sumber Al Jazeera/janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru