Friday, October 18, 2019
Home > Berita > Puasa di kota multikultural Melbourne

Puasa di kota multikultural Melbourne

Salah satu masjid komunitas yang bangunannya cukup besar di 139 Cleeland St, Melbourne. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Clayton, Melbourne) – Puasa Ramadan di mana-mana sama, di antaranya, tidak makan minum mulai subuh hingga Magrib, namun nuansanya pasti berbeda di berbagai tempat, termasuk di kota multikultural Melbourne.

Bertepatan Ramadan 1440 H / 2019, saya melaksanakan ibadah puasa di Melbourne, negara sekuler, atau biasa disebut multi-kultural, yang banyak penduduknya mengaku tidak memiliki agama.

Apa yang paling terasa melaksanakan ibadah puasa di kota ini?

Waktu puasa di Melboure durasinya termasuk pendek bila dibanding dengan kota-kota lain di dunia.

Waktu puasa setiap hari di ibukota negara bagian Victoria ini mengalami perubahan dalam menit. Waktu  bervariasi, pada 1 Ramadan waktu Imsak pukul 5:24 dan berbuka puasa 17:32 dan pada hari terakhir puasa 30 Ramadan Imsak 5:43 dan berbuka 17:13.  Puasa kurang lebih sekitar 12 jam.

Kota Murmansk di Rusia, memiliki jam puasa terpanjang di dunia dengan durasi 20,45 jam, disusul kota Reykjavik, Islandia, 19,26 jam.

Di Murmansk, matahari terbenam  hanya selama tiga jam kemudian terbit lagi pada 01.41 waktu setempat. Di Seattle, Washington, dan Toronto, Kanada, masing-masing memiliki waktu puasa 16,31 dan 15,58.

Di Timur Tengah, Beirut (Libanon), Baghdad (Irak), Islamabad (Pakistan), dan Yerusalem (Palestina) waktu puasa nyaris sama, 15 jam. Waktu singkat puasa di Ushuala, Argentina, 11 jam dan termasuk Melbourne. Di Jakarta puasa dimulai Subuh pukul 04:36 hingga Maghrib pukul 17:49 atau sekitar 14 jam.

Nah, autumn (musim gugur) menjelang winter (dingin) di Melbourne sepanjang hari sudah dingin. Terkadang diselingi hujan, angin kencang, mentari panas tetapi cuaca tetap dingin dan terkadang terasa menusuk tulang (9-19 derajat C), membuat tidak terasa lapar dan dahaga sepanjang hari.

Apa pun aktivitas yang dilakukan, tidak terasa tiba-tiba sudah waktu Zuhur dan tak lama kemudian masuk waktu Ashar.  Dari Ashar ke Magrib terasa pendek, karena tak lama kemudian watu berbuka puasa pun berbunyi di telepon pintar.

Jangan harap mendengar suara azan Magrib seperti biasa berkumandang di mesjid-mesjid dan televisi Indonesia, melainkan untuk berbuka puasa berpatokan pada telepon seluler yang sudah disetel waktu shalatnya. Waktu berbuka puasa itu bergeser terus tiap hari.

Di seluruh Melburne, pasti tidak ditemukan penjual tajil seperti goreng-gorengan, biji salak, timun suri, dll. Mau ke restoran, harus ke pusat kota atau pusat perbelanjaan dan itu pun pasti semua tempat padat pengunjung, walau pun tidak bulan Ramadan.

Setiap keluarga umumnya memasak sendiri untuk berbuka puasa dan untuk makan sahur. Ini sudah lazim dalam kehidupan keluarga di Melbourne, walau pun bukan sedang di bulan Ramadan.

Di pusat perbelanjaan di kawasan Clayton (Hongkong super market), semua bumbu masak dari beberapa negara Asia ada, termasuk dari Indonesia. Mulai bumbu untuk nasi goreng, rendang, tumisan, nasi uduk, nasi kuning, bumbu empal,  soto, rawon, sate, dll.

Ada juga tempe dan tahu serta bakso. Kelapa yang dibekukan pun ada.  Sambal ada, kecap ada, bumbu pecel ada. Super mi puluhan rasa pun ada. Singkong dan pisang goreng pun ada, Kalau mau ke bagian lain (bukan stan Indonesia), harus hati-hati, karena banyak yang tidak halal.

Bumbu berbagai masakan dari Indonesia berjejer di pasar swalayan Hongkong di Clayland, Melbourne. (arl)

Di pusat-pusat perbelanjaan, tak akan terlihat restoran atau kafe yang tutup dari siang hingga malam. Dan tentu saja tidak ada warung kecil, termasuk yang separuh dindingnya di tutup kain itu, sehingga hanya kaki yang kelihatan.

Semua orang bebas, baik makan di restoran, di kafe kopi, atau malah makan burger dan menghirup minuman sembari menunggu kendaraan di halte bus, atau bahkan sembari berjalan di trotoar.  Hanya orang merokok jarang kelihatan.

Nah, itu tadi, karena tidak pernah terdengar suara azan, maka untuk waktu Imsak dan Magrib (serta watu shalat lain) amat tergantung pada telepon seluler. Telepon pintar ini lah yang memberi tanda Imsak dan berbuka puasa. Azan di masjid pun suaranya hanya di dalam ruang.

Telpon seluler merupakan alat penting, nahkan untuk naik bus pun dapat dilihat jam berapa bus nomor sekian akan tiba di halte. Terlebih untuk mengetahui esok hari apakah cerah, hujan atau berangin kencang, orang membuka telepon untuk mencari tahu melalui pusat ramalan cuaca.

Suasana Indonesia?

Datanglah ke masjid komunitas Indonesia. Ada banyak masjid di Melbourne yang dikelola berbagai komunitas muslim, misalnya komunitas Arab, Bangladesh, Turki, Bosnia, Pakistan dan yang lainnya, termasuk Indonesia.

Di antara ratusan masjid – ada yang besar (berbentuk masjid) dan ada yag sedang atau kecil (berbetuk rumah)-, ada tiga masjid muslim Indonesia: Majid Westall, Surau Kita dan Baitul Makmur. Ini dikelola oleh Indonesia Moslem Community of  Victoria (IMCV).

Ada juga beberapa masjid lain yang dikelola beberapa komunitas lain, di antaranya komunitas Sulit Air Sepakat (SAS) dan Masjid AIDA (Association of Islamic Dakwah Australia). Atau yang dikelola kampus, seperti Masjid Beddoe dibawah asuhan mahasiswa Universitas Monash.

Masjid ini rata-rata jauh dari permukiman dan mencapainya harus berkendaraan mobil, sehingga kendaraan roda empat merupakan salah satu persyaratan bagi penduduk Melbourne, karena kemana-mana pergi harus mengendarai mobil sendiri.

Bila mengendarai bus atau kereta api, stasiunnya jauh dari rumah dan dari stasiun tujuan jauh pula berjalan kaki ke masjid. Mau berjalan kaki pun, cuaca teramat dingin.

Di masjid-masjid itu disediakan minuman dan penganan kecil atau kurma untuk berbuka puasa. Di Masjid Westall, ada khusus acara berbuka bersama (serta makan bersama) pada Sabtu dan Minggu.

Masjid ini menjadi ajang silaturahim para waga Indonesia yang bermukim di Melbourne bagian selatan. Mereka adalah para pekerja, mahasiswa serta jamaah yang sudah jadi pendudukan permanen (permanent residence) di kota itu.

Ratusan jamaah hadir, berbuka bersama, saling bercengkerama, bersilaturahim, serta shalat berjamaah, Magrib, Isya, Tarawih, dilanjutkan ceramah dan berbagai pengajian keagamaan.

Kalau Westall kejauhan? Buka HP dan cari “masjid terdekat dari sini” dan alat pintar itu akan memberi tahu Anda tentang apa yang dicari.

Datang lah ke masjid terdekat dari kediaman. Ada masjid komunitas Bangladesh di Huntingdale, dekat kediaman penulis, namun tetap saja harus ditempuh dengan kendaraan roda empat. Shalat Tarawihnya sama, 11 rakaat termasuk Witir.  Bedanya, penceramah biasanya menggunakan bahasa komunitas mereka atau berbahasa Inggris.

Ramadan dihormati

Di salah satu sekolah SD negeri di wilayah Clayton, ada tulisan Selamat Ramadan, beberapa hari sebelum bulan mulia itu tiba.

Ini pertanda pihak sekolah yang pelajarnya multi kultur itu menghormati bulan suci itu. Sejak pembantaian di Masjid An Noor dan Lenwood di Selandia Baru,  15 Maret 2019, yang menewaskan 51 orang, terkesan pandangan sebagian orang berubah terhadap Islam.  Rasa ingin tahu non-muslim semakin besar dan mereka datang ke masjid bertanya macam-macam.

Australia tidak mempunyai agama nasional yang resmi dan rakyat bebas memeluk agama apa pun yang mereka pilih, selama mereka mematuhi hukum dan penduduk Australia juga bebas untuk tidak memeluk agama.

Jumlah penganut Islam meningkat pada kurun 26 tahun terakhir di Australia, sementara lebih banyak warga yang mengidentifikasi mereka tidak beragama.

Menurut hasil Sensus 2016 yang dirilis news.com.au, (27/6/17),  jumlah orang Australia yang mengidentifikasi sebagai Muslim tumbuh 160 persen sejak 1991. Jumlah penganut Islam mencapai 2,6 persen dari total populasi Australia, naik dibandingkan pada 2011 dengan 2,2 persen. Populasi Australia saat ini mencapai 25 juta penduduk.

Penganut Budha dan Hindu meningkat, masing-masing 200 persen dan 533 persen. Sebanyak 2,4 persen orang Australia mengidentifikasi penganut Budha dan 1,9 persen sebagai orang Hindu.

Sensus menunjukkan 29,6 persen orang Australia mengidentifikasikan dirinya tidak memiliki agama sehingga angka itu meningkat dibandingkan pada sensus 2011 dengan 22,6 persen.

Jumlah mereka yang ‘tidak beragama’ dalam sensus itu melampaui jumlah umat Katolik, pertama kalinya dalam sejarah Australia jumlah orang yang mengklaim ‘tidak ada agama’ mengalahkan umat Katolik.

Mereka yang mengidentifikasi sebagai Katolik turun dari 25,3 persen menjadi 22,6 persen. Jumlah orang Kristen masih paling banyak di Australia, yaitu 51 persen dari populasi. Namun, jauh lebih sedikit dibandingkan 1966 (88 persen) dan 1991 (74 persen).

Kehidupan keberagamaan – dan tidak ada beragamaan – di kota multi-kultural Melbourne amat dinamis, tapi saling menjaga dan hormat-menghormati, karena semua orang bersandar pada aturan dan taat hukum.

Menjalani puasa Ramadan di Melbourne, tidak akan merasakan suasana Ramadan, kecuali pergi ke masjid-masjid, berusaha dengan sebenarnya menjadi tamu Allah di rumah Allah SWT – tempat ibadah yang semakin banyak tumbuh di kota itu.  (Catatan A.R. Loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru