Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Pintu Kereta dan Gigolo

Pintu Kereta dan Gigolo

RAMBUTNYA sudah mengggapai-gapai bahu. Brewoknya meranggas, sebagian sudah memutih. Bila kaca mata minusnya dibuka, kelihatan relung matanya, cekung. Bila ia tertawa atau menyeringai, kelihatan pangkal dan sela-sela giginya menghitam. Mungkin kebanyakan menghirup nikotin. Rokok seperti tak putus-putusnya tergantung dibibirnya. Malam itu, jemari kedua tangannya terus bermain diatas keyboard  komputernya yang sudah tua. Ramli sedang menyelesaikan penulisan cerita pendek dikamarnya yang sumpek.

            Buku bertebaran diseputar meja komputernya. Dibelakangnya, ada rak buku yang susunannya pun tak menentu. Tumpukkan koran dan majalah bersatu-padu tak menentu, sebagian diselaputi debu. Abu rokoknya berkali-kali jatuh ke atas tuts keyboard. Dihembus-hembusnya. Terkadang abu itu melayang ke sela kaca matanya. Sesaat ia berhenti mengetik, membuka kaca matanya dan melap-lap matanya yang kelilipan. Sesekali, tangannya menampar-nampar kakinya yang digigit nyamuk.

            Angin seperti mati. Tak ada hembusnya dari ventilasi diatas jendela kamarnya. Selain suara komputernya yang mendengung serta tuts keyboard yang sesekali ramai dipencetnya, tak ada lagi suara-suara lain. Bila ia berhenti mengetik, senyap. Sepi. Suara binatang malam sesekal terdengar. Atau suara penjual mi tek-tek dikejauhan. Gang didepan rumahnya itu, sianng saja sepi apalagi malam. Malam itu udara gerah sekali. Kelembaban udara terasa amat tinggi.

            Tapi, Ramli yang sedang mengetik cerita pendek, sedang dalam keramaian. Malam ini ia harus menyelesaikan dua cerita pendek. Biasa, karena namanya sudah dikenal orang dan cerpennya selalu dimuat di media massa, maka setiap minggu ada saja yang menelponnya minta dikirimi cerpen. Besok harus dikirimnya kedua cerpen itu via email. Satu ke media besar di ibukota yang akan dimuat untuk mingguannya dan satunya ke majalah wanita.

            Ramli harus menyesuaikan versi ceritanya dengan visi dan bobot media massa itu. Ia sudah hafal betul dengan kemauan selera redaktur seni media itu.

            Untuk media besar itu, Ramli memilih judul Pintu Kereta sedangkan untuk media bernuansa wanita itu dipilihnya judul Gigolo. Kedua judul itu timbul begitu saja, berkelabar dibenaknya. Kata-kata membentuk kalimat demi kalimat mengalir begitu saja. Ramli memang hebat. Daya fantasi nya amat peka, inspirasinya tajam, intuisinya dalam dan kemampuannya merangkai kata hasil pemikiran dibenaknya amat ekspresif.

            Beberapa pengamat seni yang berkaitan dengan cerita pendek, selalu tidak tepat menafsirkan gaya penulisan Ramli. Ia terkadang menulis seperti gaya penulis muda yang peka dengan dunia remaja dan percintaan. Ceritanya realistis seprti gaya NH Dini, Mochtar Lubis, Umar Kayam, A.A. Navis dan yang lainnya. Tapi banyak juga ceritanya yang bergaya surealistis seperti cerita-cerita Putu Wijaya, Danarto, Kuntowijoyo, Hamsad Rangkuti, Iwan Simatupang dan lainnya.

            Itulah Ramli. Ia memang sudah ternama. Tapi belakangan ini ia nyaris seperti tukang lukis pinggir jalan. Ia menjadi penerima pesanan. Ia memang bisa menulis cerita kapan saja dan dimana saja. Tapi sebenarnya, Pintu Kereta dan Gigolo itu sudah empat hari dikerjakannya. Ia sudah membuat ending kedua cerita itu. Berkali-kali dibuatnya penyelesaikan akhirnya tapi dideletenya kembali. Ia merasa tak puas. Ia mencari-cari kejutan untuk akhir kedua cerita itu. Ia sadar tidak akan membuat cerita sembarangan, apa kata orang nanti.

            Ramli dari dulu tidak mau tahu tentang teori-teori sastra atau teori penulisan cerita pendek atau novel. Ia tidak mau tahu tentang alur cerita, tema cerita, penokohan round character atau flat character, gaya pemaparan orang pertama tunggal atau orang ketiga, tentang klimaks atau antiklimaks, turning point, setting ataupun konklusi cerita.

            “Yang penting saya menulis. Jangan tanya sama saya tentang bagan-bagan cerita itu. Itu bagian tukang kritik atau penelaah. Sudah ada bagian-bagiannya masing-masing. Kalau ditanya mana dulu, pengarang atau kritisi, mana saya tahu? Tanya saja sama ayam. Mana dulu telor atau ayam, ramli pernah mengatakan seperti itu dalam satu dialog peluncuran kumpulan cerita pendeknya.

            Ramli memang tidak mau dibawa kearah yang berat-berat atau kepada hal-hal yang mengajak berpikir sistematis dan berdialektika. Ia menjadi penulis karena bakat alam. Pendidikannya pun tidak tinggi, kuliah saja tidak selesai. Ramli ngomongnya santai. Bicara pendek-pendek. Suka berkelakar. Kalau ia pegawai negeri, atau bahkan pegawai swasta, mungkin ia sudah pensiun. Tapi menulis memang tidak ada pensiunnya. Lihat saja Rosihan Anwar, sudah 80 tahun masih terus saja menulis.

            Hidup Ramli pun amat santai. Istrinya kini tinggal dengan puteri satu-satunya yang menikah hampir dua tahun lalu. Alasannya menjaga cucunya yang baru lahir. Tapi ia tidak pulang-pulang. Pernah didatangi kerumah puterinya, tapi istrinya tidak mau pulang. Alasan istrinya, bosan melihat suaminya yang sejak mereka menikah sampai ubanan, hampir setiap hari hanya menulis cerita. Istrinya mungkin tak sadar, bahwa itu adalah profesi suaminya. Dari kata-kata dan kalimat itulah mereka hidup selama ini, sampai mampu menyekolahkan puteri mereka itu, sampai akhirnya menikah dan punya anak.

            Kehidupan Ramli memang ironis. Dimasa tuanya ditinggal istri. Bukan kawin lagi, tapi bertahan dirumah mantunya. Tapi, dasar seniman, Ramli tidak ambil pusing. Dalam setiap acara-acara seni, baik di TIM maupun di Teater Utan Kayu dan beberapa tempat lainnya, ia selalu hadir, baik ketika acara itu diadakan siang, petang maupun malam hari. Ia tetap suka bercanda. Beberapa waktu lalu ketika Landung Simatupang membacakan cerita pendeknya di Utan Kayu, ia kelihatan hadir, bahkan didaulat kedepan ketika pembacaan cerita akan dimulai dan setelah selesai dibaca. Tak tampak sedikitpun kesusahan diwajahnya yang memang sudah saatnya kuyu karena dimakan usia. Keceriaannya menutup kerut wajahnya.

 ***

            TAPI malam ini ia kelihatan benar-benar tua. Sesekali keningnya berkerut. Sesaat kemudian ia bersender ke kursinya. Kaca matanya dibuka. Asap rokoknya dihirup dalam-dalam. Tidak seperti biasanya, kali ini ia benar-benar kewalahan untuk mengakhiri kedua cerita yang sedang ditulisnya.

            Pintu Kereta itu bercerita tentang seorang petugas penjaga palang kereta api. Petugas karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu selalu merasa gundah. Hampir sekali dalam sebulan ada saja orang yang terlindas kereta di wilayah penjagaan itu. Umumnya orang yang tidak sabar untuk menyeberang. Umumnya lagi, pejalan kaki atau orang yang mengendarai sepeda.

            Pasalnya, dijalur kereta api penjagaannya itu, rel ganda sehingga bila satu kereta sudah lewat, maka orang yang tidak sabar selalu melintas dengna cepat begitu ekor kereta sudah berlalu. Ternyata dibaliknya ada kereta lain. Ia  berkali-kali menyaksikan tubuh berkeping-keping. Ia sudah berteriak-teriak. Ia tak mampu berlomba dengan waktu untuk menolong orang itu. Roda kereta itu terlalu kencang untuk dilomba. Orang berkerubung dan biasany apolisi lama sekali datangnya. Ia resah. Ia terlalu biasa melihat bersimbah darah. Ia pun karyawan kecil dengan gaji pas-pasan. Bila temannya berhalangan atau sakit, maka ia akan menjagai naik turunnya palang itu sampai 24 jam.

            Itulah inti ceritanya. Penjaga pintu kereta itu pun dahulu pernah mendengar presiden memberikan santunan pada penjaga pintu kereta yang selalu dilewatinya. Kok kami yang menjaga jauh dari wilayah presiden tidak diberi sesuatu ya, pernah melintas dibenaknya.

            Ramli melukiskan inti pemikiran kemanusiaan yang amat dalam mengenai si penjaga pintu kereta. Begitu banyak masalah kehidupan seseorang anak manusia yang digambarkannya secara kilas balik ataupun berupa angan-angan sipenjaga pintu neng nong itu. Untuk membuat akhir atau ending cerita yang lima halaman inilah yang susah bagi Ramli.

            Tentang Gigolo, adalah cerita seorang anak muda kampung yang terjun ke dalam kancah gegap gempitanya kehidupan ibukota. Niatnya ingin meneruskan sekolahnya setelah tamat SMU dikampungnya. Karena tidak cocok dengan familinya tempatnya tinggal, pemuda itu kost bersama taman sekampusnya.

            Cerita itu memasuki masalah kehidupan yan sebenarnya saat ia mengetahui rekannya sudah lama memasang iklan di Pos Kota yan bunyinya saja membuat meremang bulu roma. “Pijat khusus wanita eksekutif, ibu rumah tangga dan mahasiswi. Pemijatnya pria bertubuh atletis, wajah macho dan penyabar. Hubungi 081…………..” Setelah mendengar cerita sesunggguhnya dari temannya itu, maka si pemuda yang baru kuliah dua semester itu berperang dengan batinnya tapi tak lama kemudian ia pun ikut terjerumus ke lembah yang memilukan ditilik dari segi sosial yang beradab dan dari sisi agama itu.

            Inti ceritanya pun sebenarnya merupakan kisah romantika kemanusiaan yang dalam. Si pemuda merekam setiap cerita dari berbagai jenis wanita yang memanggilnya. Ia sudah punya alat sambung bicara jarak jauh (HP), mampu mengontrak rumah sendiri, sampai beli mobil dan beberapa kali diajak tante-tante berbelanja keluar negeri. Berbagai masalah kemanusiaan secara psikologis dan sosial diceritakan si pemuda kepada pembaca. Ramli amat runtun menceritakannya, seperti ia sudah pernah saja menginjak kehidupan alam asik maksudnya gigolo. Itulah kekuatan sekaligus kelemahan cerita pendek. Terkadang susah membedakan yang realistis dan yang hasil interpretasi kehidupan maya.

            Ramli pusing tujuh keliling, untuk membuat klimaks dan ending cerita ini pun ia mengalami kesulitan. Berkali-kali dibuka dan ditutupnya file Pintu Kereta, kemudian menutupnya dan membuka file Gigolo, merenung lagi dan menutupnya lagi.

            Ramli kembali bersandar ke kursinya. Berderit bunyi kursi komputer yang bisa berputar-putar itu. Ia membuka kaca matanya dan meletakannya di meja. Dibakarnya sebatang rokok. Pandangannya menatap langit-langit. Sesekali menarik nafas panjang dan terbatuk-batuk. Jemari kedua kakinya bergantian menggaruk bagian-bagian kakinya yang dihingggapi nyamuk.

            Ia melirik jam di dinding. Jarum panjang ke angka tiga jarum pendek ke angka satu. Ia kembali menarik nafas panjang. Kembali batuk-batuk kecil. “Permintaan berbarengan sekali dua dan dead-line nya pun berbarengan harus besok,” sungutnya, “Kok rasanya kau ini dipaksa. Aku terpaksa menyelesaikan pesanan. Aku seperti pekerja saja. Seperti tukang jahit. Besok harus selesai ya. Saya mau pakai baju dan celana itu. Wah tidak benar ini,” Ramli berbicara sendiri dengan batinnya.

            “Susah sekali ini menyelesaikan cerita itu. Bagaimana kalau kubuat penjaga pintu kereta itu mati disambar kereta. Ah terlalu dipaksakan. Unsur dramatisnya dibuat-buat. Kalau gigolo itu? Bagaimana kalau kubuat ia kawin dengan janda kaya. Atau akhirnya kena HIV-AIDS. Wah tak ada kejutannya. Seperti laporan observasi di Pos Kota saja bahkan yang kena AIDS itu seperti berita dari rumah sakit saja,” Ramli merenung berkepanjangan.

            “Inilah salahnya. Mengapa kuterima pesanan ini. Bagaimana kalau besok kubilang belum siap. Apa kata mereka? Tapi bahkan katanya honornya sudah ditransfer. Bisa berabe nih. Tapi masa mereka tidak mempunyai naskah cadangan? Harusnya mereka memiliki bank naskah. Kan banyak penulis yang mengirimkan cerita pada mereka. Muat saja dulu yang kira-kira layak siar,” pikiran Ramli semakin bercabang.

            “Kasihan pemuda kampung itu. Kupermainkan ia dalam ceritaku. Kehidupan yang ironis. Mahasiswa merangkap pelacur lelaki. Berlagak tukang pijat segala. Sampai-sampai teganya kubuat ia pergi ke Mak Erot untuk menguatkan dan memanjangkan miliknya. Tapi ya…aku membaca iklan seperti itu di Pos Kota. Dunia ini semakin aneh. Berbagai obat dan ramuan penguat seks dan alat ngeseks dipajang dalam iklan. Ini mungkin trend manusia sekarang. Tidak percaya diri, sampai akhirnya lemah sendiri. Bahkan jimat pun ada yang di iklankan. Masya Allah. Mana maharnya ratusan ribu dan harus di transfer lagi. Istilah harga pun disebut mahar, seperti orang mau kawin saja,” pikiran Ramli semakin bercabang.

            Tukang jaul jimat dan pengurut pemanjang barang itu, kenyataannya hampir-hampir mirip denganku. Bedanya, mereka menyiapkan dulu dagangannya baru dijajakan. Kalau aku, dipesan dulu, baru kusiapkan. Resikonya, aku harus kerja keras untuk menyiapkannya. Kalau begini, tampaknya aku harus menyiapkan cerpen sebanyak mungkin. Kusiapkan dengan berbagai versi, sesuai dengan gaya, visi dan misi media massa yang akan membelinya. Ramli semakin menerawang. Rokoknya disambung lagi. Kedua kakinya dinaikkan ke atas meja, agar nyamuk enggan menggerayanginya.

            Aku pasti sanggup melakukannya. Mudah membuat itu. Toh cerpenku yang lama-lama pun sebenarnya banyak sudah ada yang dibukukan. Sekarang aku tinggal membuat yan baru-baru. Kalau sebelumnya aku bisa menyelesaikan cerpen hanya dalam beberapan jam, tapi yang dua ini cukup lama rampungnya. Ini pasti karena pesanan. Lain kali aku harus menghindari pesanan. Kasihan penulis cerpen lain yang karyanya tidak dimuat-muat. Redaktur cepen itu seperti dewa saja. Membuat setiap penulis berdebar menunggu sampai terbit koran mereka yang ada dihalaman cerpen, kemudian membeli dan membukanya dan melihat yang dimuat cerpen orang lain. Bedebah benar. Kok sekarang aku baru sadar. Mending honornya besar,” Ramli berputar-putar jalan pikirannya.

            Ramli tiba-tiba terbayang wajah istrinya. Wanita yan begitu dicintainya dan membuat berhenti serong sejak mereka menikah. Wanita yang membuahinya seorang puteri itu banyak melahirkan inspirasi. Banyak cerita pendeknya yang berawal dari kejadian, peristiwa ataupun ucapan-ucapan istrinya. Banyak peristiwa hidup kemanusiaan yang diraupnya dari keseharian berdampingan dengan wanita yang pernah dipuja dan dipujinya itu. Kini mereka berdua sudah seperti gubuk reot. Tak seharusnya aku semakin meninggalkannya.

            Meninggalkan? Yah, sebenarnya bukan dia yang meninggalkan aku. Aku yang meninggalkan dia. Meninggalkan tak selalu bermakna yang pergi. Seorang wanita, ia pernah membacanya dari buku, semakin dewasa dan semakin berumur, semakin membutuhkan perhatian. Wanita itu bila mencintai adalah mencintai dengan sepenuhnya. Dengan segenap hati dan jiwa raganya. Cintanya dibawa mati, bukan seperti cintaku yang masih terbawa kesukaan terhadap fisik. Perpaduan cinta tidak lagi dipandang dari fisik dan rupa. Cinta ada dalam tubuh sintal dan wajah jelita, maupun dalam tubuh reot dan wajah berkerut. Ramli merasa sendu. Sudah setua ini aku, tapi mengapa baru sekarangkusadari betapa istriku membutuhkan perhatian. Ia tidak membutuhkan belaian tapi mengharapakan sapaan. Ia tidak lagi menyukai godaan tapi mendambakan perhatian dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayangku dulu, kini kemana kau pergi? Ramli membuka katup bungkus kreteknya, sudah habis isinya.

            Penulis cerpen terkenal itu merenung amat dalam. Ia merasa amat bersalah. Bersalah pada dirinya sendiri.

            Aneh sekali, dengan tiba-tiba ia membuka file Gigolo dan membawa kursor ke bagian paling bawah, alinea-alinea yang belum diselesaikan.

            Pemuda kampung itu menatap langit-langit. Ia berdebar, terharu dan merasa amat bersalah ketika mendengar penuturan Sinta, yang sedang terbaring disebelahnya, disalah satu kamar hotel bintang empat di ibukota. Ia melap peluhnya yang sempat berceceran diruang berpendingin itu. Sinta menghubunginya dan minta bertemu disitu. Sinta datang karena suaminya terlalu sibuk bekerja. Inti ceritanya amat sederhana tapi Ramli melukiskannya lewat permainan kata yang membuat pembaca seperti menikuti alunan irama musik. Terkadang lembut, kemudian mengeras berdentang musiknya, menggema iramanya dan naik tempo liriknya. Tapi sesaat kemudian musik itu mendatar, gesekan biolanya mendayu menjauh tapi menyeret jiwa pendengarnya ke alam perenungan diri dan pribadi.

            Pemuda kampung itu tak ubahnya pelukis pinggir jalan, mirip dengan tukang jahit dan tak jauh berbeda dengan aku. Ramli menarik kesimpulan yang hakiki dari cerita pendek itu kedalam hidup kepribadiannya. Istri muda itu ditinggal. Istri tuapun itu ditinggal. Mereka lengket pada suatu yang masih bisa nempel dijiwanya. Apakah nempel sesaat atau seterusnya, perjalanan cerita hidup yang mengarunginya. Misalnya, pemuda kampung itu akhirnya menikah dengan Sinta, karena keduanya menemukan perpaduan kesatuan pandang bersifat fisik dan kejiwaan, yang akhirnya membuhulkan cinta, yang ujung nya begitu harmonis kendati harus menyelam dalam kolam misteriusnya cinta.

            Tenang penjaga pintu kereta itu, juga diselesaikan dengan amat sederhana. Dalam gegap gempitanya hidup ibukota, dimana manusianya saling beradu cepat kaya dengan berbagai cara, saling curi, rampok, todong, tembak, bakar, bunuh ditengah jalan, ditengah berita korupsi dimana-mana yang merajalela, ditengah penderitaan umat manusia yang amat merana dalam mencari sesuap nasi seteguk air, masih ada anak manusia yang dengan setia melek terus sepanjang malam,—bahkan sejak siang,—demi menjaga agar nyawa manusia lain tidak binasa dengan cara amat sederhana: terlindas kereta.

            Ramli pun melukiskan jalan pikiran si penjaga kereta dengan amat kritis, humanis dan berjuan sebagai “dewa penolong”. Benak penjaga kereta itu amat cemerlang dan ia banyak menyuarakan hatinya secara monolog dan bersifat soliliqui. Pembaca dibawa terayun-ayun ke ambang pemikirannya yang amat sederhana tapi banyak orang yang tidak lagi memikirkannya, karena lupa diri dan karena sudah sibuk bekerja siang malam dan korupsi sepanjang hari.

            Ramli amat lega ketika menutup komputernya subuh itu. Suara adzan berkumandang dari kejauhan. Ia menyeka keringatnya. Shalat. Mungkin istrinya akan terperanjat sekali, ketika menyadari suaminya datang dipagi buuta itu kerumah anaknya untuk menjemputnya.

            Ramli melangkah meninggalkan rumahnya, sembari membayangkan senyum istrinya yang teduh dan damai.

            “Mari kita pulang. Aku selalu teringat seduhan kopimu dipagi hari. Itu akan kukatakan nanti kepada istriku,” bisik Ramli, cerpenis yang baru mendapat inspirasi kehidupan yang sesungguhnya dari Pintu Kereta dan Gigolo. (Oleh: A.R. Loebis / sudah dimuat dalam kumpulan Cerpen Wartawan Olahraga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru