Friday, November 22, 2019
Home > Cerita > Pilih Media Arus Utama atau Media Sosial?

Pilih Media Arus Utama atau Media Sosial?

Informasi tersebar, pilih mana? (kompas.com)

Akal sehat mengatakan kita harus lebih percaya kepada media arus utama ketimbang media sosial, untuk mendapatkan informasi. Masak sih? Tentu saja.

Media massa ini jelas alamatnya, jelas pengelola dan penanggungjawabnya, jelas pemiliknya.

Kalau Anda tidak suka beritanya, bisa protes langsung atau mengadu ke lembaga seperti Dewan Pers untuk jenis cetak dan digital atau Komisi Penyiaran Indonesia untuk televisi dan radio. Anda bisa menuntut media itu minta maaf. Dan kalau mereka tidak memenuhi ketentuan, bahkan bisa dibawa ke ranah pidana, didenda ratusan juta rupiah.

Ya, karena mereka bekerja di bawah Kode Etik Jurnalistik, dipagari berbagai aturan yang dibuat Dewan Pers atau KPI agar mereka tidak sembarang menyiarkan beritanya.  Sesuai rambu-rambu yang ada.

Pekerjanya yakni para wartawan memiliki kompetensi yang ditandai dengan sertifikat, yang untuk memperolehnya seorang wartawan harus mengikuti ujian yang tidak mudah. Tentu ada yang masih muda, belum berpengalaman, sesekali salah, tetapi itu dalam proses pematangan seorang profesional.

Bagaimana dengan media sosial? Ada tidak pernah tahu siapa sesungguhnya pembuat berita di sana, meskipun ada juga yang memuat nama sesungguhnya. Media sosial ini memang dimaksudkan untuk sarana pertemanan, kangen-kangenan teman sekolah, ajang silaturahim, umumnya.

Sementara media sosial yang dibuat untuk menyebarkan berita—khususnya berita bohong, memojokkan, menjelek-jelekkan orang atau lembaga dan tendensius–, memberikan komentar, tanggapan, sebagian besar berakun anonim.

Tidak jelas siapa di balik nama itu. Satu orang ibaratnya bisa punya 1000 akun karena memang itu memungkinkan.

Kalau Anda tersinggung dengan beritanya, mau protes pun seperti berteriak di tengah hutan. Mau marah, tidak jelas siapa yang setuju. Mau komplain, tidak bisa dilacak alamat, apalagi fisik orangnya. Kalaupun diadukan ke pihak berwajib, dalam hal ini polisi, tidak mudah “menangkap” orang tersebut. Bisa saja akunnya segera dikubur, lalu dibuat baru.

Bahkan saat ini pasukan pembuat berita bohong yang tujuannya komersial semata, yang bekerja dengan bayaran atas pesanan pihak tertentu, konon bertebaran dimana-mana.

Kalau dulu ada orang-orang yang dibayar untuk dapat unjuk rasa untuk target orang atau pihak tertentu, sekarang wujudnya adalah pasukan maya, pasukan siluman. Anda pun bisa meminta jasa mereka kalau berminat. Tentu, harus ada uang dan punya sasaran, misalnya membuat seseorang negatif, buruk, jelek, sampai lebih buruk dari setan sekalipun.

Jadi logikanya, aneh bahwa saat ini sebagian besar orang berpendidikan, kelas menengah dewasa ini lebih percaya pada yang tidak jelas ketimbang yang jelas. Kalau alasannya media sudah partisan, bisa jadi ada sebagian. Tetapi tetap ada mekanisme untuk mengoreksi, meluruskan mereka. Ada kekuasaan negara, ada aturan jelas, di atas mereka.

Tetapi tidak mengherankan juga, kata seorang teman. Mereka yang sekarang ini menjadi “aktivis” misalnya di grup WhattsApp, umumnya mereka yang sedang gemar-gemarnya bermain dengan teknologi informasi.

Waktu muda, masih belum punya uang, ekonomi masih lemah, atau belum tinggal di kota metropolitan, belum kenal atau belum mampu bermedia dengan perangkat telpon pintar.

Ada pula yang karena “baru sadar” karena selama ini merasa sulit untuk bergabung dengan organisasi politik atau kemasyarakatan di dunia nyata.

Maka di dunia maya dia merasa memiliki eksistensi, dengan upload topik, tema, materi, yang dia dapat dari “grup sebelah”. Jadi, ingin menimbulkan kesan sebagai orang yang heroik, religius, aktivis sosial, pembela kepentingan masyarakat, menyuarakan aspirasi kelompok, dsb, sementara dulu ketika muda, nggak ada apa-apanya.

Orang yang kehilangan masa muda, kehilangan romantisme kampus karena kutu buku atau tidak pandai bergaul. Ada pula yang baru saja punya telpon pintar karena status ekonomi sudah meningkat, atau malu kepada teman-teman yang “serba tahu” supaya tidak ketinggalan topik hangat.

Dengan mengunyah informasi di media sosial, banyak orang merasa tahu, padahal dia hanya mendapatkan “buih-buih”, potongan-potongan informasi, yang sudah dikemas untuk tujuan tertentu.

Sebenarnya paling bagus adalah mengkonfirmasi melalui media arus utama, melakukan cek dan ricek.

Tetapi ini memang memerlukan waktu, memerlukan usaha, dan ada kemauan. Kebanyakan tidak punya niat itu. Oleh karena itu kebanyakan orang, selesai membaca atau menontonnya jika berbentuk video, langsung meneruskan.

Adu cepat, tentu dengan maksud agar dianggap orang yang paling cepat tahu. Kebanggaan yang semu juga karena, ketika informasi itu kita baca pada saat yang sama orang lain pun pasti sudah membacanya. Sudah sifat di media sosial, pembuatnya langsung melontarkan informasi ke banyak orang, puluhan atau ratusan secara simultan. Jadi gak perlu bangga ketika mendapatnya, justru Anda harus berpikir, bersikap kritis.

Satu hal yang juga perlu dikritisi adalah apa yang disiarkan berita di media sosial harus semuanya dianggap seolah-olah, belum tentu pasti sebelum terbukti itu tidak bohong. Apalagi jika informasi itu tentang hal penting, menyangkut hal-hal yang memerlukan klarifikasi.

Apapun, yang mudah diperoleh dan gratis, jangan diharapkan bermutu. Berkacalah pada kehidupan, renungkan, pikirkan baik-baik. Tidak ada makan siang gratis, selalu ada sesuatu di balik sajian yang seolah nikmat.

Meskipun membawa-bawa Tuhan, membawa-bawa agama, mengatasnamakan kelompok yang bisa menggugah hati dan perasaan, sikap kritis jangan pernah hilang. Apalagi kalau hendak kita teruskan, ikut sebarkan. Atau ingin kita jadikan pegangan.

Dunia tidaklah semurni, sesuci yang ada di kepala kita semasa kanak-kanak atau remaja. Terlalu banyak informasi busuk dan bau. Jadi, jangan tertipu.*** (Hendry Ch Bangun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru