Tuesday, December 12, 2017
Home > Cerita > Pesan Singkat

Pesan Singkat

ilustrasi (repro khazanah Republika)

ilustrasi (repro khazanah Republika)

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

 

SEBULAN lebih saya tak lagi menerima  pesan singkat atau  short message service (SMS) dari nomor  telepon genggam tersebut.  Siapa sebenarnya pemiliknya? Rasa penasaran tak kunjung hilang. Padahal biasanya saya tak peduli dan beranggapan itu hanya pekerjaan orang  iseng.

Diisengi, bahkan diancam melalui SMS bukan hal baru. Bahkan seorang  rekan yang dipecat dari  tempat kami bekerja, mengancam saya, menyatakan akan membuat perhitungan.

“Gue menyesal telah bercerita banyak tentang diri gue ame lo. Gue gak mengira ente tega mengkhianati gue. Ini belum selesai,” katanya via SMS. Kawan ini memang pernah bercerita panjang tentang dirinya.

“Gue ada masalah. Itulah yang membuat gue kagak fokus, sering mangkir. Gue ada persoalan ame bini, karena hampir 6 bulan ini tiba-tiba gue tak berdaya, kehilangan kelaki-lakian, impoten,” begitu antara lain kata anak seberang yang  sok Betawi itu. Beberapa bulan setelah keluh-kesahnya  dia dipecat dan menuding saya sebagai biang keladinya. Padahal apa urusan saya, toh dia dipecat karena tidak disiplin, malas.

Ya mengirim macam-macam SMS gertakan. Ada yang mengaku dari seorang laki-laki mengancam akan membunuh  dengan alasan saya mengganggu istrinya. Ada juga yang mengirim SMS mengaku  perempuan, minta tanggung jawab.  Biasanya SMS-SMS tersebut berhenti dalam hitungan hari, paling sebulan. Tapi yang terakhir benar-benar membuat saya senewen.

Awalnya, lebih setahun lalu, SMS pertama dari nomor itu menghubungi  saya.

“Bud, hari ini rencananya saya akan datang ke RSCM. Tapi pagi tadi saya dapat kabar  sahabat kita itu kemarin sudah dipanggil Tuhan,” tulisnya via SMS tanpa menyebut nama.

“ Iya, mudah-mudahan arwahnya diterima di sisi-Nya,” balas saya.

Ketika itu saya berkeyakinan  SMS  datang dari salah seorang teman.  Meski begitu saya tak pasti, walau saat ini orang yang memanggil saya dengan nama panggilan Bud sudah sangat terbatas. Mungkin karena faktor usia, atau karena sompan santun, banyak kenalan kini memanggil dengan sebutan Pak, Bung, Kawan.

Saya sebenarnya ingin menanyakan siapa dia. Tapi  khawatir dianggap tak sopan,  niat itu saya urungkan, dengan pikiran mungkin karena sesuatu hal nomor hp-nya terhapus dari telepon genggam saya. Namun saya tetap penasaran, karena pada hari dimaksud ada dua teman yang meninggal di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Satu perempuan, teman di organisasi. Kedua seorang laki-laki mantan rekan sekerja.  Teman mana yang dia maksud?

Saya yakin suatu saat akan tahu juga siapa teman itu, laki-laki atau perempuan. Nyatanya, suatu pagi  nomor yang sama  kembali mengirim SMS.

“Bud, hari ini sampai jam berapa di kantor. Saya ingin mampir,” tulisnya.

Nah, akhirnya keinginantahuan saya akan terjawab. Saya pun membalasnya, datar.

“Saya di kantor hingga pukul 16.00. Silakan datang, ditunggu.”

“Oke, saya usahakan datang,” balasnya.

Namun harapan saya untuk segera mengetahui siapa dia kembali kandas.

“Maaf, hari ini saya tak mungkin datang. Ada urusan mendadak,” tulisnya.

Setelah itu ada dua bulan dia tak mengirim SMS, hingga suatu siang saya dikabari  bahwa dia sakit.  Saya kali ini coba menghubunginya, tapi dijawab mesin otomatis.

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi.”

“Maaf nomor yang anda tuju di luar jangkauan,” kata suara yang sama ketika saya coba keduakalinya. Berikutnya, di jawab bahwa nomor yang saya tuju tidak lengkap. Kesal, marah, mulai menghinggapi saya.  Siapa sih yang iseng, keterlaluan?

Beberapa pekan berikutnya nomor itu tidak lagi mengangganggu, sampai sutu hari dia  menelpon, tapi ketika saya respon langsung dimatikan. Mungkin minta dihubungi balik atau miss call. Namun ketika nomor itu coba dihubungi, ternyata tidak aktif atau di luar jangkauan, kemudian tulalit.

***

“Saya Dora, sahabat setiamu, kekasihmu,”  tulis SMS misterius itu kali ini.

Ah!  Ini sudah keterlaluan. Siapa sih yang main-main. Bukankah Dora sudah  pergi  selamanya.

Dora adalah pacar saya, mantan. Kami berpisah lima belas tahun lalu, karena hubungan kami tidak disetujui orangtuanya.

“Tidak baik nekat. Biarlah kita berpisah baik-baik. Menikahlah dengan laki-laki pilihan mereka,” kata saya.

Saya tak ingin mengganggu kebahagian Dora, meski terkadang didera kerinduan. Saya yakin jodoh, rezeki,  pertemuan, maut, Allah lah yang mengatur.  Saya berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dikatakan papanya Dora  bahwa saya tidak pantas menjadi suami anaknya ada benarnya. Saya memang bukan siapa-siapa, hanya pegawai kecil yang gajinya untuk sendiri saja tidak cukup.

Bukan saya tidak cinta. Dora segalanya bagi saya. Justru karena cinta  saya tak coba menguasainya dengan berbagai cara. Karena cinta luar biasa pula saya menghilangkan jejak, menekan kerinduan sebesar apa pun. Tidak hanya nomor hp yang saya ganti, tapi juga pindah rumah, mencari tempat kos baru. Di tempat kerja pun saya minta pindah bagian. Lalu kini dia mengirim SMS?

“Bajigur!” saya mengumpat.

“Siapa pun Anda, teman, atau orang yang memusuhi saya, tolong jangan permainkan saya. Apalagi membawa-bawa nama orang sudah mati. Saya sudah terlalu sabar, jangan buat saya marah.”

“Saya mengenal Anda. Anda pun seharusnya tahu siapa saya. Saya tak bermaksud jahat, tapi sebagai orang yang mengenal  Anda, saya perlu mengingatkan apakah tidak seharusnya Anda mendatangi makam Dora di Pekanbaru? Berdoa untuk dia?”

Saya tak membalas SMS  itu. Lagi pula apa urusan dia. Namun SMS  itu terus  mengusik pikiran. Ternyata sudah 5 tahun  berlalu sejak kematian Dora, sejak  saya datang ke pusara Dora. Ketika itu saya tiba sore hari di  Pemakaman Umum Rejosari, Kulim, Pekanbaru , saat  semua keluarga,  kerabat Dora telah meninggalkan pemakamanan. Saya datang bersama Rita, sahabat saya dan Dora, yang tahun lalu meninggal  di RSCM Jakarta, karena sakit.

***

Di pusara Dora saya jongkok, berdoa, sambil menadahkan kedua telapak tangan.

“Semoga sahabat saya, mantan kekasih saya ini, diterima ditempat yang layak. Allah ampuni dosa-dosanya,” bisik saya yang sengaja datang tepat pada hari lahirnya.

Sesaat kemudian saya berdiri. Tiba-tiba saja di samping saya tegak seorang remaja, entah kapan datangnya saya tak mendengar langkahnya.

“Bapak, Pak Budi kan?”

“Betul. Anda siapa?,” jawab saya.

Matanya nanar menatap wajah saya, kemudian seolah meneliti  dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Semua SMS  itu saya yang mengirimnya.  Maafkan saya Pak,” katanya.

Saya terkesima. Kurang ajar betul ini anak. Apa maunya?

“Sekali lagi maafkan saya Pak. Saya kasihan sama Mama,  sepanjang hidupnya selalu merindukan Bapak. Ini titipan dari Mama,” katanya,  menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.

“Apa ini?”

“Saya tidak tahu. Tapi saat sakit, sebelum meninggal Mama menyerahkan amplop ini kepada Kakek, kemudian  kini  saya diminta menyampaikan kepada Bapak.”

“Kamu siapa? Putranya Mbak Dora?”

“Iya. Kata Mama saya  adalah putra Bapak,”

“Apa!? Putra saya?”

Oh, apa yang telah saya lakukan? Malam itu, sebelum benar-benar berpisah, Dora meminta saya menemuinya di sebuah rumah di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta.

“Kita ketemu di rumah Tante Meida.  Saya tunggu,” katanya.

Malam terakhir pertemuan kami di rumah milik tantenya  kami bicara hingga larut malam. Saya akhirnya tidak pulang, karena hingga dinihari Tante Meida,  suaminya, dua anak, serta pembantunya yang pamit ke suatu tempat tak kunjung kembali. Dengan alasan takut ditinggal sendirian, saya diminta Dora menginap. Antara sadar dan tidak, sekitar pukul 04.00 pagi saya terbangun karena dinginnya kamar.  Terasa  seperti seseorang memeluk saya.

“Apa yang telah saya lakukan?”

Ternyata di samping saya Dora. Gaunnya yang tipis membuat tempelan dadanya sangat terasa. Saya dorong bahunya, Dora terbangun. Dia tersenyum, lalu ngeloroyor begitu saja ke luar kamar.

“Apa mungkin malam itu saya  menodainya?”

Seingat saya, waktu itu, seperti kebiasan di tempat kos, saya hanya tidur dengan bercelana dalam, polos. Ada cairan  di celana, tapi saya tak ingat apakah  telah melakukan perbuatan terlarang. Apa mungkin dilakukan di luar sadar?

“Berapa umurmu sekarang?” kata saya.

“Empat belas tahun, Pa, eh Om,” katanya tergagap. Berarti dia lahir hampir setahun setelah perpisahan kami.

***

Malam itu saya tak bisa langsung kembali ke Jakarta, tak kebagian tiket,  dan memutuskan menginap di sebuah hotel di Jalan Soekarno-Hatta. Hotel ini lumayan nyaman, namun perasaan saya tetap saja tak enak. Dalam pikiran terus bertanya-tanya, apa betul dia putra saya dan Dora. Betulkah saya telah melakukan hubungan badan dengan Dora? Sesaat mata saya tertuju ke amplop coklat di atas meja di kamar hotel itu. Apa mungkin itu dari Dora?

Dalam amplop ada sebuah surat, ada foto copy akte kelahiran. Tapi milik siapa? Di akte tertulis sebuah nama, laki-laki, lalu ada nama Dora, eh juga nama saya, Lho. Mungkin akte kelahiran remaja yang mengaku putra saya tadi?

“Bud, begitu kamu membaca  surat ini berarti kamu sudah berjumpa buah cinta kita. Sayangilah dia. Saya memang sengaja minta Papa menyimpan amplop yang ada pada mu saat ini, agar suatu waktu diserahkan anak kita pada mu.

Bud, sebenarnya saya ingin menjodohkanmu dengan Rita, karena saya tahu sahabat kita itu mencintaimu. Tapi dengan alasan tidak ingin merusak cinta kita, dia tak bersedia memenuhi permintaan saya. Ketahulah Bud, meski menikah saya tidak melakukan hubungan intim dengan Zamri, laki-laki pilihan Papa, karena beberapa hari setelah perkawinan kami saya sakit dan menurut dokter   mengalami kanker rahim. Beberapa bulan kemudian, atas permintaa saya, kami pun bercerai, Zamri  kawin lagi.

Maafkan Dora. Sebenarnya Dora tahu alamatmu, juka nomor hp-mu. Tapi Dora tak ingin mengganggu mu. Saya ingin nantinya anak kitalah yang menghubungi. Tapi Bud, tak usah khawatir, semua biaya hidup anak kita telah dijamin Papa, sampai dia mandiri. Papa menyesal telah memisahkan kita dan dia sangat ingin bertemu kamu Bud. Jika tidak keberatan cobalah mampir, temui Papa di Pekanbaru, di Jalan Teuku Umar. Hubungi saja hp anak kita, pasti dia telah pernah menghubungimu.

Bud, kamu tidak usah merasa berdosa. Kita memang tak pernah berhubungan intim. Dia itu memang bukan darah daging kita. Tapi anak angkat, yang atas ide Papa dibuatkan akte lahir sebagai anak kita. Maafkan saya, juga Papa. Tapi jangan kecewakan anak kita. Dia tidak tahu adalah anak angkat. Sayangi dia. Peluk cium ku selalu untukmu sayang.”

“Duh, Dora,” hanya  itu yang terlontar dari mulut saya, tidak tahu apa yang harus kukatakan. Saya pandangi surat yang baru saja saya baca.

“Ya, saya akan menghubungi anak kita, juga Papa. Saya akan menyanginya. Dora, kekasihku, cinta sejatiku, semoga  arwahmu tenang di alam sana.***

Jakarta, April 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru