Sunday, May 20, 2018
Home > Editorial > Pesan Sebuah Foto

Pesan Sebuah Foto

Sebuah foto teroris dengan kejamnya menginjak wajah polisi yang disandera.

Si korban sudah lemah tak berdaya, sudah bersimbah darah. Namun ia tetap menginjaknya.
**

“Betapapun biadabnya kalian kepada anggota kami.. Tidak akan memancing kami marah untuk membalas layaknya perlakuan kalian kepada kami seperti hewan.. ..

Jangan menyembunyikan perilaku biadab kalian di balik jubahmu.. Kami malu sebagai sesama bangsa, sesama umat. Jangan nistakan agamaku dengan perilaku biadabmu.. .:

Ya Allah muliakan bangsaku, muliakan umatMu.. KepadaMu kami menyembah, kepadamu kami memohon ampunan.. Allahu Akbar…!!!!
**
Itulah rintihan hati Krishnamurti seorang jendral muda polisi ketika 5 temannya tewas dalam peristiwa rusuh di Mako Brimob Depok 11/5.Para tahanan teroris menyandera polisi penjaganya.
Belum usai duka berlaku serentetan bom bunuh diri meledak di Surabaya. Seorang kepala keluarga,Dita, mengerahkan anggota keluarganya untuk meledakkan diri di 3 gereja.
Polisi menyebut Dita bersama istrinya, K, dan empat anaknya melakukan aksi bom bunuh diri ke Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).

Dita secara bergantian mengantarkan istri dan anak-anaknya ke dua lokasi pengeboman sebelum akhirnya meledakan diri sendiri di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Dita Supriyanto yang jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini bukan radikalis baru.
Bagi yang sudah mengenalnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Alumni SMA 5 Surabaya itu, menolak ikut upacara bendera di sekolahnya sebab menganggap hormat bendera adalah syirik, bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”.
Tidak hanya di SMA 5 Surabaya, fenomena itu terjadi di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.Ini 30 tahun yang lalu.

Terorisme dan budaya kekerasan saat ini, adalah panen raya dari benih ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah dan kampus.
Ketika negeri Timur Tengah mengalami boom minyak dan menjadi kaya era 80 an nereka menyebar bea siswa ke seluruh dunia. Sekaligus menelorkan sarjana (lc) beraliran keras, sesuai dengan faham wahabi dimana universitas mereka berasal.
Mereka menyebar ke negeri muslim ternasuk Indonesia.
Mereka adalah lahan subur yang digarap ketika kemudian ISIS lahir.Kader_kader merekalah yang rajin menyusup ke sma dan perguruan tinggi era 80 an itu.

Radikalisme, bahkan terorisme kini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Tidak lagi hanya ceritera film di bioskop atau berita koran yg terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai tuntas. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan bahwa ini cuma rekayasa, pelakunya orang yang tidak paham islam, ini pasti cuma adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah diantara kita dimasjid yang sama.

Nyatanya memang ada saudara kita yg memahami Islam versi garis keras yang mengutip bulat bulat ayat perang dan melupakan substansi “rahmatan lil alamin” sebagai inti ajaran Islam.

Kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, masihkan kita saling tuding dengan telunjuk dusta?

Di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (14/5) Jokowi menyeru seluruh lapisan masyarakat seperti ulama, kiai, ustadz, dan mubaligh harus berperan mencegah terorisme. Semua harus bersatu untuk menghadapi serangan teror dan aksi terorisme lainnya.
Salah satu yang konkret adalah menetralisir dan melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (wasathiyah).

Kekerasan hanya bisa membunuh teroris, tapi hanya pendidikanlah yang bisa melenyapkan paham terorisme , radikalisme, ekstrimisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru