Monday, September 16, 2019
Home > Berita > Persaudaraan Dapat Tercabik-Cabik Karena Kepentingan

Persaudaraan Dapat Tercabik-Cabik Karena Kepentingan

Ustad H Syamsul Arifin Nababan dalam pengajian Ikatan Muslim Timbang Galung (IKMTG) di Jakarta. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Saudara seiman harus saling mencintai karena Allah SWT, tapi bila atas dasar kepentingan pribadi atau kelompok maka rasa persaudaraan satu sama lain dapat tercabik-cabik.

Syamsul Arifin Nababan Lc menyatakan hal itu dalam acara silaturahim dan pengajian Ikatan Keluarga Muslim Timbang Galung (IKMTG) Sumatera Utara yang berlangsung di Jakarta, Minggu.

Ia menuturkan, ada tiga hal yang harus mendasari kehidupan orang Islam, pertama rasa cinta kepada Allah SWT harus di atas segala-galanya, kedua mencintai saudara seiman karena Allah – bukan karena kepentingan –  dan ketiga benci kepada kekafiran seperti bencinya bila dimasukkan ke dalam neraka.

“Intinya, ada konsekuensi keimanan, yaitu kita harus kuat dan keras menghadapi musuh-musuh Allah SWT,” kata ustad yang putra pendeta itu, sembari mengutip beberapa ayat Al Quran dan hadis.

“Dalam akidah tidak ada tawar menawar. Namun dari sisi muamalah, hubungan antarmanusia harus kita bina dan jaga, walau apa pun keyakinannya,” tutur Syamsul Arifin, yang menceritakan panjang lebar sejarah beralihnya keyakinannya sekitar 20 tahun lalu.

“Saya sebenarnya bukan masuk Islam, tapi saya kembali ke Islam. Karena semua manusia yang lahir adalah Islam. Keluarga dan lingkungan lah yang membuatnya menjadi berbeda,” ujar ustad yang memiliki pengetahuan luas tentang perbandingan agama itu.

Tentang penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, menurut Syamsul Arifin yang lama bermukim dan berguru di Jawa Timur sebelum kembali ke Islam,  harus diambil hikmahnya.

Ustad Syamsul Arifin Nababan di antara komunitas pengajian Ikatan Keluarga Muslim Timbang Galung (IKMTG).  (arl)
Ustad Syamsul Arifin Nababan di antara komunitas pengajian Ikatan Keluarga Muslim Timbang Galung (IKMTG). (arl)

“Dari masalah itu kita mengambil hikmahnya. Di antaranya untuk mengetahui mana saudara kita yang sebenarnya dan mana yang munafik yang akan diazab. Jadi ini dapat  sebagai momentum penyeleksian iman. Kita mengetahui mana teman seiman karena Allah dan mana teman seiman yang larut dalam kepentingannya,” kata ustad yang pada 2007 mendirikan pondok pesantren khusus mualaf.

Ia menuturkan, kunci untuk menghadapi berbagai permasalahan yang muncul akhir-akhir ini, adalah  dengan bersatu kembali dan merapatkan langkah untuk maju membela kebenaran yang datangnya dari Allah SWT.

“Saya paling merasakan begitu sukarnya proses untuk masuk Islam dan saya juga merasakan betapa berat dan payahnya memeliharanya. Makanya kita harus bersatu kembali,” kata Ustad Syamsul, yang menjelaskan Ponpres khusus mualaf yang diprakarsainya sudah ada tiga cabang dan ia ingin agar suatu saat harus ada 1000 cabang.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru