Saturday, December 07, 2019
Home > Berita > Perlukah Timnas (PSSI) Gonta-Ganti Pelatih?

Perlukah Timnas (PSSI) Gonta-Ganti Pelatih?

Bulan Desember 2016 ini merupakan bulan harapan sekaligus kekecewaan bagi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Hal itu pula yang dirasakan masyarakat Indonesia, khususnya para pencandu sepakbola. Indonesia, katakanlah begitu, memiliki harapan menempatkan Indonesia menjadi juara AFF 2016 Piala Suzuki karena maju ke final. Namun kemudian kekecewaanlah yang muncul, karena dalam dua kali pertemuan puncak melawan Thailand, Indonesia kalah agregat 2-3.

Indonesia menang 2-1 pada leg pertama di Stadion Pakansari, Cibinong, Rabu (14/12). Tapi kalah 0-2 di leg kedua, di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu, (17/12). Dengan hasil itu Indonesia harus puas di posisi kedua, prestasi yang sama diraih tim nasional pada turnamen serupa tahun 2010. Indonesia pada event antar tim Asia Tenggara kala itu juga ditangani Alfred Riedl, pelatih asal Austria. Indonesia dikalahkan Malaysia dengan agregat 2-4 di final, dalam dua kali pertemuan.

Hingga kini hasil melawan Thailand masih menimbulkan pro-kontra. Ada yang dapat memakumi, tetap puas, dan ada pula yang merasa ada yang kurang dan harus ada perubahan dalam pembentukan tim berikutnya. Salah satu yang jadi sorotan adalah kualitas pelatih. Menpora mengusulkan posisi Alfred Ridel, yang kebetulan kontraknya memang akan berakhir Januari 2017, diganti dengan pelatih lain. Menpora Imam Nahrawi menyebut Guus Hidink (Belanda) sebagai pengganti. Dia berpendapat, Timnas bisa terangkat bila ditangani pelatih kaliber dunia. Pemerintah, dikatakan, siap membantu PSSI untuk mendatangkan Gus Hiddink.

Entah apa pertimbangannya, dan perhitungan dari mana. Sepertinya Menpora amat yakin dengan mendatangkan Gus Hiddink sepakbola nasional Indonesia akan langsung melejit, merebut juara AFF, SEA Games, mungkin dunia. Penilaian Menpora ini kerap kita dengar dalam pembicaraan warung kopi, perdebatan antara pelanggan warung yang tidak jelas pertimbangannya. Harusnya Menpora mengajak pengurus PSSI duduk bersama, ajak pelatih, tim dokter, tokoh sepakbola, pengamat, bahkan wartawan, berembuk, mencari apa sih sebenarnya kekurangan tim nasional Indonesia?

Apa yang dikatakan Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, kepada pers, keputusan soal ganti pelatih berada di tangan PSSI harus dihargai. Menpora dan siapa pun hanya bisa memberi saran, tanpa memberi syarat segala, termasuk urusan dana. Adalah kewajiban pemerintah membantu pembiayaan, tapi tak harus diserta tekanan begitu dan begini. Apalagi menekan agar PSSI memililih pelatih tertentu.

Harusnya semua pihak, termasuk Menpora tidak buru-buru menfonis bahwa kegagalan Timnas di AFF karena ketidak mampuan pelatih. Apakah tidak selayaknya, PSSI dan semua ofisial di Timnas didorong lebih dulu mengevaluasi kenapa Timnas gagal? Jangan-jangan kegagalan terjadi akibat materi pemain yang ada memang tidak mendukung.

Dari salah satu sumber yang sangat layak dipercaya, mimbar-rakyat.com mendapatkan informasi bahwa materi pemain yang ada di Timnas selama ini, termasuk untuk Piala Suzuki yang lalu, bukan yang ideal. Diantara pemain ada yang kencanduan alkohol dan perokok. Kondisi pemain yang demikian disebutkan cukup menggangu keutuhan tim. Ada pemain yang baru kembali ke penampungan pagi hari, padahal paginya harus berangkat ke luar negeri untuk pertandingan.

Ke depan harusnya PSSI bersikap tegas, seluruh pemain tim nasional harus bebas alkolol dan rokok, Jika ketahuan, mereka otomatis dicoret dari anggota tim. Cara itulah yang ditertapkan banyak Negara. Konon Thailand yang baru saja memupuskan harapan Tim Garuda menjadikan aturan itu sebagai harga mati.

Adanya ketentuan bahwa di setiap klub hanya diizinkan mengambil dua pemain untuk di tarik ke Timnas, tentunya juga hambatan bagi pelatih dan ofisial untuk mencari pemain terbaik. Sebab bisa jadi pada salah satu klub terdapat lebih dari dua pemain bintang. Harusnya ketentuan yang menghambat pembentukan tim terbaik itu ditinjau dan ditiadakan.

Jadi, sebelum bicara soal gonta-ganti pelatih selayaknya penentu kebijakan di sepakbola dan pemerintahan mengevaluasi dulu kemampuan tim nasional secara keseluruhan. Apakah semuanya telah mendukung, terutama materi dan kemampuan pemain. Jangan pelatih selalu dikambinghitamkan, sementara mataeri dan disiplin pemain jauh dari harapan.
Untuk mendatangkan pelatih asing toh tidak sulit. Jika ada uang cukup sejumlah pelatih kenamaan dunia bisa didatangkan, apakah itu Jurgen Klinsmann (Jerman) yang mampu mengangkat Timnas Amerika Serikat atau Frank Rijkaard (Belanda), serta Jose Mourinho dan banyak lainnya. Tapi apakah kehadiran mereka didukung materi pemain yang baik.

Alfred Riedl, yang telah tiga kali menjalani kontrak dengan tim “Merah-Putih” termasuk era 2010-2011 dan 2013-20414, boleh jadi bangga Timnas bisa menggebrak di berbagai event, termasuk Piala Dunia, meski bukan dia yang menanganinya. Tapi untuk menggusur Alfred, harusnya PSSI, Menpora, atau siapa pun yang mengusulkannya tidak hanya latah, asal bicara, tetapi didasari atas evaluasi dan pertimbangan yang jelas.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru