Monday, November 11, 2019
Home > Berita > Perjalanan Penuh Cinta

Perjalanan Penuh Cinta

Di Jabal Rahmah, Arofah. Di latar belakang terlihat tugu tanda titik pertemuan pasangan manusia pertama Adam dan Hawa. (Foto: Istimewa.mimbar-rakyat.com)

Di Jabal Rahmah, Arofah. Di latar belakang terlihat tugu tanda titik pertemuan pasangan manusia pertama Adam dan Hawa. (Foto: Istimewa.mimbar-rakyat.com)

Laporan Djunaedi Tjunti Agus

“Anda beruntung tidak salah pilih. Saya dan istri malah ketipu, gagal melaksanakan umrah karena pelaksana atau travelnya ingkar janji.” Itu pengakuan polos yang disampaikan seorang warga Karawaci, Tengerang, Banten, yang batal berangkat umroh karena ulah travel yang tidak bertanggung jawab.

“Siapa yang tak tergiur, dengan 15 juta rupiah kita bisa berangkat umrah. Telah banyak yang diberangkatkan dan sukses, termasuk ustadz kami. Lewat dia saya dan istri akhirnya tertarik mendaftarkan diri,” kata bapak bernama Rayan tersebut.

“Hati saya makin berbunga-bunga, ketika kami telah menerima koper dan melakukan manasik. Tak tanggung-tanggung, kami melakukan manasik umrah di Masjid Istiqlal Jakarta,” katanya lagi.

Namun berikutnya, kata Pak Rayan, bak petir di siang bolong, pengelola travel harus berurusan dengan polisi dan sebagai perserta perjalanan umrah yang belum diberangkatkan oleh PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) itu gagal berangkat.

Rombongan jamaah umrah berfoto bersama di Masjid Quba. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)
Rombongan jamaah umrah berfoto bersama di Masjid Quba. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)

Setelah terjadi kekisruhan pada penyelenggaraan umrah First Travel pada Maret 2017 itu, Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan untuk mengatasisinya.

Apa yang dialami Pak Rayan, batal berangkat karena penipuan oleh travel penyelenggara bertolak berlakang dengan apa yang kami alami. Ini merupakan kali ketiga saya dan istri menunaikan umrah. Pertama, untuk melaksakan haji sekaligus umrah kami berangkat bergantian. Saya pada tahun 1996 dan istri 10 tahun kemudian (2006).

Pada 6-14 Oktober 2019, saya kembali safar bersama istri, bergabung dengan rombongan Wesal Travel (Wesal TV) tujuan Madinah dan Mekkah (umrah),  serta ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti makam / kuburan Baqi,  Masjid Abu Bakar Siddiq, Masjid Awan, Masjid Umar Bin Khatab, Masjid Kuba di Madinah, Jabal Rahmah di Arafah, Masjid Jin, Masjid Qisos di Mekkah.

Kami beserta rombongan juga mengunjungi Alamoudi Moseum Mekkah  (sejarah dan adat istiadat masyarakat Arab Saudi) dan The Two Holy Mosque Construction Exhibition,  Mekkah,  tentang perkembangan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.  Dan banyak lainnya. Ini kali kedua saya dan istri jalan bersama melakukan ibadah umrah, setelah sebelumnya melakukan umrah pada tahun 2015.

Kesempatan ketiga berkunjung ke Tanah Suci ini terasa  begitu istimewa. Saya bahkan sempat mendapat tawaran dari Syeh pengawas Masjid Gumamah yang dikenal sebagai Masjid Awan di Madinah,  untuk menetap di Madinah. Sayang syaratnya berat. Ya  saya tak mampu memenuhinya, meskipun dalam hati terbersit harapan besar.

Masjid Gumamah dulunya merupakan lapangan terbuka, tempat Rasulullah Shallaallahu ‘Alaihi wa Sallam sholat bersama jamaah untuk meminta hujan.  Kami juga diajak ke lokasi tempat pertempuran Khandaq yang juga dikenal sebagai Pertempuran Al-Ahzab, Pertempuran Konfederasi, dan Pengepungan Madinah yang terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah/ 627 Masehi.

Pengepungan Madinah al-Munawwarah ini dipelopori pasukan gabungan kaum kafir Quraisy dari bani Quraizah Mekkah dan Yahudi.  Pengepungan Madinah dimulai pada 31 Maret 627 dan berakhir setelah 27 hari. Kami juga diajak ke Makam Baqi, juga ke Jabal Uhud.

Jabal Nur (Gua Hira’),  delapan kilometer sebelah utara Masjid Al-Haram hanya kami lihat dari bawah, dari kejauhan.  Di gunung inilah Rasulullah menerima wahyu pertama dari Allah melalui malaikat Jibril. Tak seorang pun dari rombongan kami yang berminat atau berani mendaki. Tinggi sekali. Selain waktu kami juga singkat.

Jabal Tsur, enam km  selatan Mekkah, dimana Rasulullah  bersama sahabat beliau, Abu Bakar r.a., berlindung ketika dikejar kaum Quraisy dalam perjalanan hijrah ke Madinah, juga kami lalui. Tidak hanya sampai disitu, di sela-sela ibadah di dua masjid—Madinah dan Mekkah–kami masih diajak ziarah ke berbagai tempat lainnya.

Makam Ma’ala.  Kuburan umum yang terletak di kampung Ma’ala juga kami datangi, meski hanya dilihat dari atas bus.  Menurut riwayat, di Ma’ala ini terdapat kuburan Khadijah r.a., istri Rasulullah yang mulia, serta sahabat-sahabat beliau yang lain. Kami hanya melintas memandang dari keremangan, karena telah senja. Tempat ini sekarang sebagai makam umum bagi yang meninggal di Mekkah.  Makam Ma’ala 16 km dari Kota Makkah.

Anggota rombongan foto di salah satu tempat ziarah. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)
Anggota rombongan berfoto di salah satu tempat ziarah. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)

Jabal Rahmah di Arafah menjadi tujuan utama saya, karena ketika umrah 2015 saya tidak ikut naik mendekati tugu di puncak gunung itu karena baru sembuh dari sakit, setelah menjalani operasi  (bypass) jantung.

Kali ini saya yang kembali ditemani istri memutuskan mendaki, meski ketika menunaikan haji 2006 istri saya sudah pernah sampai ke puncak bukit di Padang Arafah, tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah keluar dari Taman Firdaus.

Adam dan Hawa berpisah sekitar 100 tahun dan kemudian dikisahkan bertemu di Jabal Rahmah. Di gunung/bukit ini didirikan tugu untuk menandai lokasi pertemuan mereka.  Di tempat itulah Rasulullah mengucapkan pidato wukuf dan menerima wahyu terakhir (QS. Al-Maidah : 2).

Namun menurut Ustadz Sumartono Abu Hisyam, pembimbing kelompok umroh kami, Jabal Rahmah hanya simbol atau rekaan pertemuan Adam dan Hawan. “Tidak ada riwayat yang shahih yang menyebutkan bahwa mereka bertemu di Jabal Rahmah. Maka kita pun tawaqquf (diam sampai ada dalil—Red) untuk perkara yang tidak ada dalilnya,” tuturnya.

Kisah Jabal Ramah itu, menurut dia, masih dalam kategori penfasiran yang dikait-kaitkan saja, tanpa diringi dalil.

Menurut beberapa sumber,  seperti dikutip dari Google,  Jabal Rahmah terletak di bagian timur Padang Arafah, Kota Mekkah.  Sesuai dengan namanya, tempat ini dikenal sebagai bukit atau gunung kasih sayang, gunung penuh cinta.  Di bukit inilah, kakek dan nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, disebut-sebut bertemu setelah diturunkan ke dunia. Dari sinilah, diyakini banyak orang, awal berkembangnya umat manusia di muka bumi.

Padang Arafah adalah tempat jama’ah haji melakukan wukuf sebagai salah satu rukun haji.  Di sini terdapat  sebuah masjid besar yang dipakai hanya pada waktu wukuf, sekali dalam setahun.  Masjid itu bernama Masjid Namirah.

Kami hanya memandangnya dari kejauhan. Namun di masjid itu saya pernah sholat saat mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji/umrah tahun 1996 atas undangan Kerajaan Arab Saudi.

Rombongan juga melintas di Mina, sebuah kota tua yang terletak lima km di luar kota Mekkah.  Di tempat ini jamaah haji melaksanakan salah satu dari wajib haji, yaitu mabit dan melontar tiga jumrah–Aqabah, Ula, dan Wusta.

Saya dan semua jamaah juga diajak ziarah ke sejumlah tempat-tempat bersejarah lainnya, sampai akhirnya harus menuju Bandara di Jeddah, karena 14 Oktober 2019 pagi pukul 04.00 waktu setempat, karena sudah harus pulang ke negeri tercinta.

Penuh Cinta

Kami sampai di Bandara Soekarno Hatta Senin 14 Oktober menjelang malam dengan koper telah “beranak”.  Rata-rata jamaah saat pulang terpaksa membeli koper tambahan untuk membawa oleh-oleh bagi keluarga, sanak saudara, dan handai tolan, serta pesanan titipan dari sahabat. Semoga ini tidak ria, karena niatnya adalah berbagi.

Perjalanan yang mengesankan benar-benar penuh cinta dan kasih, perjalanan penuh cinta.  Istri saya begitu penuh perhatian, tak hanya senyum, kepalanya kerap disandarkan di bahu saya.  Allahuakbar, semoga umrah kami kali ini berbuah manis, mabrur. Yang pasti safar saya kali ini benar-benar berbeda, terasa manis dan mengesankan.  Semua berjalan oke, pembimbing, jamaah, tenaga pendukung, menjadi padu saling mengisi.

Senang, bahagia, terkadang tertawa lucu. Banyak hal baru yang kami dapatkan, pengalaman, dan juga seolah-olah.  Saya dan istri dalam kunjungan ke suatu museum berfoto seolah-olah pasangan petinggi kerajaan dengan pakaian khusus dilengkapi pedang.  Lain waktu menjadi penyiar televisi, dan di kesempatan lain difoto sedang jamuan minum teh ala Arab Saudi.  Lucu, gembira, menyenangkan, syahdu.

Apalagi dalam setiap ziarah / kunjungan dalam kantong baju saya selalu ada parfum ukuran telunjuk merek Red Rose. Merek yang disarankan seorang teman,yang kecuali waktu pelaksanaan umrah, tak henti-hentinya dioleskan ke baju, telapak tangan dan lainnya. Hasilnya, perjalanan terasa makin nyaman, kemesraan pun makin terasa.

Ditambah lagi setiap kunjungan, di atas bus pembimbing tak henti-hentinya membagikan makanan ringan, minuman, dan lainnya. Semua serba tepat waktu, prima. Apalagi makanan di hotel selalu berlimpah tanpa ada batasan mau makan sebanyak apapun.

Doa dan Air Mata

Air mata yang sempat menetes, bahkan bercucuran setiap berdoa di Masjid Rasulullah di Madinah dan di depan Ka’bah di Masjid Haram berbuah bahagia dan kepuasan.  Semoga dosa-dosa masa lalu digugurkan, dan ke depan keimanan lebih baik.  Lindungi hamba ya Allah, lindungi istri dan seluruh keluarga kami.  Lindungi kami seluruh jamaah kelompok pemberangkatan 6-14 Oktober 2019.

Saya dan istri merasa beruntung—mungkin juga jamaah secara keseluruhan yang berjumah 45 orang– karena kami dalam melaksanakan ibadah dibimbing oleh Ustadz Sumartono Abu Hisyam dan dalam ziarah beliau bersama Ustadz Abdul Razak bergantian memberikan penjelasan. Keduanya adalah ustadz pilihan yang dipercaya Wesaltravel (WesalTV) Jakarta Timur, untuk membimbing kami melakukan perjalanan umrah.

“Kita harus melakukan umroh dan semua ibadah sesuai Al Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh ditambah-tambah dan dikurang-kurangi,” kat Ustadz Sumartono, menjelang kami melaksanakan umrah. “Silakan banyak berdoa, apa saja ketika tawaf, kecuali saat melintasi rukun Yamani hingga Hajar Aswad baca doa yang telah ditetapkan,” katanya lagi.

Banyak hal-hal penting dalam beribadah umrah dijelaskan Ustadz Sumartono. Begitupun dengan Ustadz Abdul Razak, pria asal Lombok (NTB) yang bermukim di Mekkah ini. Dia menjelaskan berbagai tempat yang kami lalui, dan menjelaskan tempat-tempat bersejarah dengan gamblang. Kadang penjelasan juga diberikan Ustadz Sumartono.

Abdul Razak pendamping yang sangat membantu. Dia tidak hanya memberi penjelasan soal tempat-tempat bersejarah, tetapi juga mengarahkan kemana sebaiknya jamaah berziarah. Dia adalah pembimbing lepas, travel mana saja yang ingin memanfaatkan jasanya dia siap. Bahkan orang perorang (pribadi) yang ingin didampingi selama di Tanah Suci dia tak menolak. “Saya bebas melayani grup atau siapa saja,” katanya.

Keakraban antara jamaah pun terjalin. “Hapus foto itu pak, musik kan menurut sunnah tidak boleh,” kata Zulham Budiman, rekan dari TvOne yang tinggal di Bogor. Tiada rasa sungkan memberi tahu teman seperjalanan, meski lebih tua. Semua adalah demi terlaksananya ibadah kami dengan baik. Saran dari Zulham langsung saya eksekusi. Foto yang diabadikan di salah satu museum, beraksi dengan sebuah biola bak maestro musik, langsung saya hapus.

Tegur sapa tak pernah putus. Perjalanan ibadah, pulang pergi ke masjid, kemudian ziarah ke sejumlah tempat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Perburuan oleh-oleh pun tak kalah serunya, masing-masing mencari sendiri-sendiri, termasuk yang mendapat titipan dari kerabat di Indonesia.

Jangan Salah Pilih

Untuk kepentingan haji/umrah kita memang harus pintar-pintar memilih travel. Ini bukan hanya masalah harga, tetapi yang lebih penting layanan apa saja yang kita dapat, entah itu hotel, konsumsi, dan bimbingan, selain kesempatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah (ziarah).

Penipuan yang dilakukan  PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel harusnya menjadi pelajaran bagi banyak pihak. Meski kasus kisruh paket promo umrah tersebut telah ditindaklanjuti pihak pemerintah, dimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan kegiatan penghimpunan dana di biro perjalanan tersebut. Kemudian Kementerian Agama (Kemenag) mencabut izin penyelenggaraan umrah First Travel. Namun bukan berarti hal itu selesai.

Bagaimana nasib calon jamaah umrah yang gagal bertangkat, hingga kini belum tuntas, sejak travel itu diketahui ingkar janji tahun 2017. Pemerintah, dalam hal ini Kemenang, tentunya punya kewajiban mendesak First Travel untuk memberangkatkan atau mengembalikan dana jamaah yang gagal berangkat.

Dibanding kedatangan saya untuk pertama kalinya di Tanah Suci tahun 1996, memang apa yang saya alami kali ini jelas tidak bisa disamakan.  Tahun 1996, atas undangan Kerajaan Arab Saudi, kami  200 tamu asal berbagai media di seluruh dunia, dilayani serba wah. Serba bintang lima.

Di Madinah kami ditempatkan di Hotel Oberoi dan di Mekkah ditempatkan di Makkah Intercontinental Hotel. Ketika baru datang dan menunggu jadwal pulang kampung, kami ditempatkan di Hotel Al Salam Jeddah.

Dalam perjalanan ibadah—Arofah, Musdhalifah, Mina, Mekkah—kami dikawal dan ditempatkan di penginap-pengapan / tenda khusus ber-AC yang tertutup bagi orang luar.

Kami menjadi tamu khusus, menjadi orang-orang khusus layaknya tamu negara. Tapi umrah 2019 lalu kami bukan orang khusus, dan memang tidak membutuhan kekhususan.

Namun dalam safar kali ini benar-benar penuh cinta. Cinta kepada istri, keluarga, cinta kepada sesama jamaah, cinta terhadap yang mengatur kami. Ada tali silaturahim, seolah-olah kita semua lahir dari satu keluarga.

Terjalin kepedulian, saling memperhatikan, meski sebelumnya tidak kenal sama sekali. Tidak terlihat keegoisan, meski di antara kami ada yang memilih ditempatkan di hotel bintang lima, sementara kami berada di hotel bintang tiga.  Tidak ada kecemburuan sosial, tak ada trik-trik untuk menjelekkan seseorang.

Berduka Ada Yang Meninggal

Kami sama-sama merasakan berduka, ketika seorang jamaah bernama (Pak) Sumardiono berpulang saat sujud di Masjid Nabawi. Semua ikut berduka dan mengucapkan Innalilahi wainnailaihi rojiun.

Kami sama-sama sedih dan berdoa ketika seorang ibu harus masuk rumah sakit di Madinah.

Semoga Bapak Sumardiono (Rahimahullahu) mendapat tempat istimewa di sorganya Allah.  Kami juga mendoakan ibu yang masuk rumah sakit segera sembuh, dan Alhamdulillah beliau pulih dan bergabung dengan rombongan yang telah berada di Mekkah.

Istimewanya safar  kali ini, karena memang jauh lebih baik dibanding safar pada tahun 2015 yang saya dan istri alami.

Di pelataran Masjid Nabawi. Di latar belakang tampak payung-payung raksasa untuk melindungi jamaah. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)
Di pelataran Masjid Nabawi. Di latar belakang tampak payung-payung raksasa untuk melindungi jamaah. (Foto: Istimewa/mimbar-rakyat.com)

Saat itu saya dan istri bergabung dengan salah satu pelaksana haji / umrah berpengalaman dan punya nama.  Tapi apa yang terjadi, kami ditempatkan di hotel sempit.  Sarapan pagi, makan siang, makan malam, telat sedikit sudah habis.  Ada yang marah, ada juga yang cuma memendam kesal karena berpendapat di Tanah Suci tidak boleh mengeluh. Itu terjadi di Madinah dan Mekkah.

Nah kali ini, perjalanan kami benar-benar melegakan.

Apa yang saya alami suatu bukti bahwa tidak semua pelaksana perjalanan haji/umrah profesional. Calon jemaah harus  pintar-pintar memilih. “Jangan tergiur oleh nama pelaksana haji/umrah atau travel. Tapi teliti dulu,” kata seorang jamaah, Ibu Suniar.

Kerap terjadi penipuan oleh travel haji/umrah. Dengan menawarkan harga murah mereka melarikan/menggelapkan uang jemaah. Kalau pun berangkat jemaah dibuat sengsara. Mereka memanfaatkan psikologis jemaah yang umumnya berpendapat di Tanah Suci tidak boleh mengeluh. Dalam menentukan travel atau penyelenggara haji/umrah pemerintah harusnya selektif.

Bak pepatah tidak ada gading yang tidak retak, sebetulnya terjadi juga dalam perjalanan umrah kami kali ini. Saya melakukan keteledoran saat berada di Mekkah, sehingga seorang rombongan yang melakukan ritual umrah sempat hilang dua kali, hingga akhirnya pada hilang kedua kalinya dia diantar seseorang yang baik hati ke hotel.

Saya tidak mengatakan itu bukan tugas saya. Tapi itu adalah tanggung jawab saya, karena yang bersangkutan percaya ikut dengan saya saat pergi ke masjid dan sekitarnya. Kepada Allah saya minta ampun. Semoga kelalaian dan kekhilafan saya dimaafkan.

Jadi Ladang Bisnis Menggiurkan.

Pelaksanaan haji/umrah telah menjadi ladang bisnis menggiurkan banyak pihak. Travel bersaing, pelaksana haji/umroh saling menjanjikan. Bahkan ustadz kelas perumahanpun mengumbar janji dalam menarik calon haji mandiri agar bergabung dengannya dengan janji supaya pelaksanaan haji/umrah calon jamaah mantap.

Tapi apa yang terjadi? Tak sedikit kekecewaan muncul dari jamaah. Travel menipu, pelaksana ngirit agar mersaih untung besar, malah ustadz-ustadz tak sedikit yang mengutamakan untung kemtimbang kenyamanan jamaahnya.

Ratno, bapak empat anak yang tinggal di salah satu perumahan di Bekasi berkisah. “Saya berangkat haji tahun 2013. Agar lancar, saya memilih bergabung dengan salah seorang ustadz yang ada di kompleks kami. Tapi  apa yang terjadi, saya dan rombongan merasa diperas,” katanya berkisah.

Ketika hendak berangkat ke asrama haji, katanya, dia dan rombongan tidak boleh berangkat sendiri-sendiri. Tapi harus naik bus yang disediakan. Anehnya, untuk sewa bus kami yang harus patungan. “Begitu pula ketika berada di Tanah Suci, setiap mengikuti ziarah, kami anggota rombongan diharuskan bayar uang tip sopir.”

“Ustadnya tidak keluar uang sama sekali, karena dana yang dibebankan pada kami oleh ustadz tersebut baru dia taggih setelah kami berada di Mekkah. Sama sekali dia tidak keluar uang apa-apa. Semua uang tambahan dibebankan pada kami. Kalo tahu begitu, ya jadi haji mandiri saja (pembimbing dari Kemenag—Red). Tidak usah gabung sama yayasan atsau ustadz,” katanya lagi.

Karena alasan itu pula dia kaget kektika seorang tetangganya yang akan umrah tahun depan juga bergabung dengan seorang ustadz setempat. Dia berusaha menggagalkan rencana itu, tapi si bapak yang akan berangkat tidak bisa apa-apa. “Uang tidak bisa ditarik kembali,” kata Pak Ratno.

“Naga-naganya juga gak beres. Belum apa-apa rencana keberangkatannya sudah ditunda dari rencana Januari 2020 menjadi Februati,” katanya lagi. Dan anehnya lagi, tuturnya, nanti jamaah yang di Bekasi naik bus dulu ke Bogor, gabung dengan jamaah di sana. Baru setelah itu bertolak menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ongkos bus jadi tanggungan jamaah. “Masa’ gak boleh berangkat sendiri-sendiri ke bandara,” ujarnya.

Dari sejumlah pengalaman, penipuan dan mengambil untung terlalu banyak, harusnya memang mendorong calon jamaah selektif. Lebih penting lagi, Kementerian Agama RI melakukan himbauan dan peringatan pada semua pihak. Kita berharap Menteri Agama yang baru tetap memprioritaskan penanganan masalah haji/umrah ini, bukannya mengurusi hal-hal kecil, seperti soal celana cingkrang dan cadar.

Calo Hajar Aswad

Renovasi dan pembangunan Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Rasulullah di Madinah berlangsung pesat dan luar biasa. Di Mekkah, masjid yang empat tingkat yang melingkari Ka’bah  terlihat megah. Perluasan dilakukan di sana-sini. Untuk kenyamanan jamaah pemerintah Arab Saudi melakukan berbagai hal.

Ketika saya dan istri melakukan umrah tahun 2015, kami sempat naik ke jembatan tawaf khusus (tiga tingkat) untuk para jamaah. Namun  tahun 2019 ini, setelah dilakukan pembenahan di sekitar Ka’bah, jembatan tawaf telah dibongkar. Sekeliling masjid di Mekkah juga dilakukan pembenahan, sejumlah bangunan digusur, agar Masjidil Haram leluasa.

Begitu pun Masjid Rasulullah di Madinah al-Munawwarah telah direnovasi. Payung-payung ukuran raksasa di seputar masjid pun diperbanyak. Bangunan di seputar masjid di tata, sehingga terasa makin nyaman.

Namun ada suatu hal yang terasa mengganjal, yakni adanya calo di seputar Hajar Aswad, di Masjidil Haram Mekkah. Yang membuat sedih, sebutlah memalukan, calo yang menawarkan jasa pada jamaah yang ingin  mencium Hajar Aswad itu adalah warga Indonesia.

Saya tidak tahu apakah ada dari bangsa lain. Teapi yang pasti, dalam tiga kali menjadi tamu Allah di kota suci Mekkah, saya selalu mendapat tawaran dari orang yang fasih berbahasa Indonesia. “Anda ingin dibantu untuk mencium Hajar Aswad?,” begitu antara lain ucapannya ketika saya sedang melakukan tawaf.

Hajar Aswad atau al-Hajaru al-Aswad merupakan sebuah batu yang diyakni umat Islam berasal dari surga,. Mencium Hajar Aswad merupakan sunnah Rasulullah Muhammad Shallaallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena itu setiap jamaah haji/umrah berkeinginan besar dapat mencium batu yang terletak di salah satu sudut Ka’bah, berdekatan dengan pintu Ka’bah.

Namun dalam menyikapi tawaran calo Hajar Aswad itu saya tak tergiur. Kalaupun berminat, saya upayakan sendiri. Alhamdulillah, suatu ketika telapak tangan saya berhasil mengusap-usap baru hitam tersebut.

Seorang jamaah haji yang berangkat tahun 2006 berkisah. “Karena ingin tahu, saya dan istri sempat memanfaatkan jasa calo. Mereka ada beberapa orang dan memang cekatan membuka jalan. Tiba-tiba saya dan istri sudah di depan Hajar Aswad, dan leluasa menciumnya,” katanya. Untuk bantuan itu dia harus merogoh kocek 300 real untuk satu orang. “Ya kalo sekarang, Rp 2,4 juga untuk dua orang,” tuturnya.

Dia mengaku sempat dimarahi ustadz pembimbing. “Jangan kan dapat pahala, anda justru berdosa karena melakukan penyuapan,” ujarnya menirukan omelan ustadz. “Saya hanya menjawab singkat. Habis penasaran ustadz.”***

Djunaedi Tjunti Agus adalah wartawan mimbar-rakyat.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru