Friday, August 07, 2020
Home > Berita > Perang Suriah: Pemberontak Mulai Tarik Senjata Berat dari Idlib

Perang Suriah: Pemberontak Mulai Tarik Senjata Berat dari Idlib

Gedung yang hancur akibat perang di Idlib, Suriah. (Foto: AP/Arab News)

Gedung yang hancur akibat perang di Idlib, Suriah. (Foto: AP/Arab News)

Mimbar-Rakyat.com (Beirut) –  Pemberontak Suriah mengatakan Sabtu mereka telah mulai menarik senjata berat dari zona penyangga yang direncanakan di provinsi Idlib di barat laut, menjelang tenggat waktu untuk mengatur area demiliterisasi.

Front Pembebasan Nasional (NLF) yang didukung Turki “telah mulai menarik senjata beratnya dari zona itu,” kata jurubicara koalisi pemberontak Naji Mustafa kepadak kantor berita AFP, seperti dikutip Arab News.

Zona penyangga, yang disepakati bulan lalu antara pendukung pemberontak Ankara dan sekutu pemerintah Moskow, bertujuan memisahkan para pejuang rezim dari berbagai kekuatan pemberontak dan militan di wilayah Idlib.

Kesepakatan itu bertujuan untuk mencegah serangan rezim besar-besaran di benteng pemberontak besar terakhir dengan menciptakan zona penyangga 15 hingga 20 kilometer yang mengelilingi daerah itu.

Berdasarkan kesepakatan, semua pemberontak di zona demiliterisasi harus menarik senjata berat pada 10 Oktober, dan kelompok garis keras militan harus pergi pada 15 Oktober.

Juru bicara NLF Mustafa mengatakan, koalisi pemberontak “mempertahankan posisi dan markasnya dengan senjata menengah dan ringan” di dalam zona penyangga.

Perwakilan untuk Faylaq Al-Sham, salah satu kelompok yang membentuk aliansi, mengkonfirmasi penarikan senjata termasuk peluncur rudal dan meriam mortir telah dimulai.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Inggris mengatakan mereka memiliki informasi bahwa persenjataan itu ditarik keluar Jumat malam dan pada hari-hari sebelumnya.

NLF adalah aliansi pemberontak utama yang didukung Turki di wilayah Idlib, tapi gerilyawan kelas berat Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) menguasai sebagian besar provinsi.

HTS, yang dipimpin mantan pejuang Al-Qaeda, belum mengumumkan pendiriannya atas kesepakatan zona penyangga.
Pertempuran meletus pada hari Jumat antara pemberontak yang didukung-Ankara dan garis keras militan dekat zona demiliterisasi yang direncanakan, kata seorang monitor. Pengamat perang Observatorium mengatakan kekerasan pertama kali terjadi antara HTS dan pemberontak Nour Al-Din Al-Zinki di kota Kafr Halab.

HTS dilaporkan telah mencoba menangkap seorang komandan lokal di kota di tepi barat provinsi Aleppo, dekat perbatasan administrasi dengan Idlib.

“Zinki mengirim bala bantuan ke daerah itu, dan bentrokan meluas ke beberapa daerah dan Front Pembebasan Nasional bergabung,” kata kepala Observatory Rami Abdel Rahman.

Setidaknya tiga warga sipil dan enam pejuang tewas, kata pihak yang memonitor, sebelum ketenangan dipulihkan setelah kesepakatan gencatan senjata antara faksi-faksi.
NLF telah menolak kehadiran Rusia di zona penyangga, yang oleh Presiden Vladimir Putin dikatakan akan dipantau oleh polisi militer Rusia dan pasukan Turki di bawah perjanjian tersebut. Moskow telah menuduh HTS dan “pejuang radikal” lainnya mencoba untuk mentorpedo kesepakatan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, Kamis, mereka “takut menemukan diri mereka terisolasi oleh kesepakatan Rusia-Turki, dan melakukan segala macam provokasi dan memperparah situasi.”

Konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 350.000 orang dan memaksa jutaan orang keluar dari rumah mereka, dan PBB telah memperingatkan serangan rezim besar-besaran terhadap Idlib dapat membawa penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru