Thursday, August 22, 2019
Home > Berita > Perang Hancurkan Warisan Purbakala Aleppo

Perang Hancurkan Warisan Purbakala Aleppo

Masjid Umayyah Aleppo, Suriah, mengalami kerusakan parah akibat perang saudara. (All Jazeera/Reuters)

Masjid Umayyah Aleppo, Suriah, mengalami kerusakan parah akibat perang saudara. (All Jazeera/Reuters)

Mimbar-Rakyat.com (Damaskus) – Perang saudara, upaya penghapusan etnis tertentu oleh pihak pemerintah berkuasa di Suriah telah mengancam sejumlah benda-benda atau bangunan purbakala di kota tua Aleppo. Pengeboman dan penembakan telah merusak banyak situs.

Maamoun Abdulkarim, Direktur Jenderal Suriah of Antiquities dan Museum (DGAM), dari Damaskus dalam wawancara via telepon dengan Al Jazeera, pekan ini, mengatakan, warisan situs Aleppo ‘dalam bahaya’.

Perwakilan UNESCO diharapkan membahas cara-cara menyelamatkan warisan Aleppo ini, di Damaskus pekan depan. Dan menurut pejabat barang antik Suriah, tindakan mendesak diperlukan untuk melindungi bangunan yang rusak di Kota Tua Aleppo, termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO.

“Apa yang terjadi di Aleppo adalah sebuah bencana,” kata Maamoun Abdulkarim. “Kami memiliki lebih dari 150 bangunan cagar budaya dengan tingkat kerusakan yang berbeda, tanpa memperhitungkan tempat seperti bangunan kuno, 60 persen yang hancur … Banyak rumah-rumah tradisional, berasal dari sekitar abad pertama Masehi, juga rusak.”

Kota tua itu kini dikuasai pasukan pemerintah Suriah sejak awal Desember, setelah empat tahun konflik antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi bersenjata. Ketika pertempuran berhenti, tim Abdulkarim telah memotret situs warisan kuno kota dan menilai keparahan kerusakan. “Ini sangat menyedihkan dan itu adalah situasi yang sangat dramatis,” kata Abdulkarim.

Menurut dia, “perang akan berakhir, politik akan berubah, tetapi warisan (situs) tetap menjadi miiik kita semua, untuk keturunan kita, dan bagi kita untuk berbagi dengan seluruh dunia.”

“Suriah memiliki banyak kebutuhan pada saat ini, itu tidak hanya warisan mereka,” katanya. “Tapi situasi memungkinkan kita untuk melaksanakan pekerjaan darurat pencegahan untuk mengamankan situs dari musim dingin dan air. Kita tidak bisa meninggalkan mereka, karena dalam beberapa tahun saja akan banyak kerusakan.”

Langkah telah mulai dilakukan, membersihkan puing-puing dari dua landmark paling terkenal di Aleppo, yakni benteng kota dan Masjid Umayyah. Sedang situs lain menunggu hasil survei DGAM.

“Kami sudah meminta walikota untuk tidak memindahkan benda-benda bersejarah. Kami memiliki tim untuk mengumpulkan informasi tentang kerusakan. Mereka akan hadir untuk kita. Kami akan mulai bekerja di sebagian besar wilayah berisiko,” tutur Abdulkarim.

Aga Khan Foundation, yang terlibat dalam restorasi benteng Aleppo pada tahun 2008, berpartisipasi dalam diskusi darurat di Damaskus dan perwakilan dari UNESCO. Mereka akan mengunjungi Suriah pekan depan untuk menyepakati langkah-langkah darurat. Namun proyek restorasi besar tidak bisa dimulai sampai konflik di Suriah berakhir.

“Kita perlu orang-orang Suriah kembali ke Suriah, rakyat Aleppo untuk kembali ke rumah mereka. Untuk pemulihan nyata kita membutuhkan kedamaian. Kita perlu rekonsiliasi dan kami butuh uang,” kata Abdulkarim.

Menara Masjid Umayyah, yang berdiri sejak 1090, hancur pada bulan April 2013, namun Abdulkarim percaya pemulihan kemungkinan dapat dilakukan.

“Kami berpikir bahwa kerusakan masjid akan jauh lebih buruk dari apa yang kita lihat ketika kami mengunjungi,” katanya. “Secara umum kerusakan mungkin bisa diperbaiki, tapi kita harus kembali lagi di masa depan untuk mengumpulkan batu-batu kuno menara, serta memastikan dapat dilindungi, serta mempersiapkan sesuai rencana arsitektur,” tambahnya.

Sejumlah situs di Aleppo dibangun mulai abad ke-13, dan sebagian besar didirikan selama era Ottoman, antara abad 16 dan ke-19. “Kami telah kehilangan lebih dari 60 persen dari peninggalkan bersejarah Aleppo ini, yang dibakar atau diledakkan. Ini benar-benar hancur,” kata Abdulkarim.

“Kami akan melihat apakah itu mungkin untuk mengembalikannya … Kita perlu saran dari semua mitra internasional kami, arsitek Suriah dan insinyur dan mitra lokal lainnya … Mencari tahu strategi terbaik dan akan menjadikan banyak pekerjaan.”
Abdulkarim yang seorang arkeolog dan profesor di Universitas Damaskus itu menekankan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan untuk menyelamatkan warisan Suriah adalah non-partisan dan non-politik.

“Perang akan berakhir, politik akan berubah, tetapi warisan kami tetap bagi kita semua, untuk keturunan kita, dan bagi kita untuk berbagi dengan seluruh dunia,” katanya. “Warisan Suriah tidak pernah dapat dibagi antara kubu yang berbeda. Ini adalah warisan bersama milik setiap Suriah. Jika disimpan, itu adalah kemenangan bagi semua orang. Jika itu hilang, itu kerugian untuk semua orang. Kita harus bekerja sama untuk menyimpannya untuk anak-anak kita, ” katanya.

Dia menambahkan, pemulihan Kota Tua Aleppo akan menelan biaya jutaan dolar. “Kami akan membutuhkan banyak uang (untuk proses restorasi). Aleppo akan bertahan … Itu pasti. Kita akan melakukan secara maksimal untuk mengembalikannya.”***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru