Thursday, December 12, 2019
Home > Berita > Perang dan Kematian, Anak-anak Pengungsi Suriah Trauma Berat

Perang dan Kematian, Anak-anak Pengungsi Suriah Trauma Berat

Anak-anak Suriah yang terjebak di tengah perang, di Suriah.

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Sejumlah anak-anak dari keluarga pengungsi asal Suriah, di Inggris, mengalami trauma berat terhadap perang yang mereka alami di Suriah. Deru pesawat tempur, ledakan bom, desingan peluru, sulit mereka lupakan. Apa lagi mereka menyaksikan kematian dan kehancuran banyak orang.

Sky News dalam laporannya, Selasa (3/10-2015) menyebutkan, sebuah keluarga yang melarikan diri dari perang saudara yang brutal di Suriah menyatakan bahwa anak-anak mereka telah mengalami trauma berat. Kekejaman dan kengerian akibat perang yang mereka saksikan di Suriah selalu membayangi.

Seorang kepala keluarga yang meminta namanya dirahasiakan, karena takut pembalasan terhadap kerabatnya yang masih di negara itu, menyatakan, anak-anak mereka telah melihat mayat berlumuran darah dan luka, pemandangan yang membuat mereka sulit tidur di malam hari.

Telah ribuan warga Suriah yang melarikan diri dari kengerian perang sipil yang telah berlangsung empat tahun dan telah menewaskan lebih dari 250.000 orang. Psikolog memperingatkan, masih banyak yang harus dilakukan untuk membantu anak-anak dari negara yang dilanda perang untuk menetap di Inggris.

Para peneliti mengatakan, selain memperhatikan kebutuhan fisik, kesejahteraan mental pengungsi juga harus menjadi prioritas. Profesor Rachel, dariUniversity of Manchester School of Psychological Sciences, mengatakan, orang tua merupakan kunci utama untuk membantu anak-anak agar lepas dari stres pasca-trauma.

“Mereka sudah melalui serangkaian pengalaman yang sangat sulit dan mengalami ketakutan dalam hidup mereka.”Pengalaman yang benar-benar meninggalkan bekas pada orang dan garis pertahanan pertama untuk anak-anak adalah memiliki orang tua yang mampu untuk membantu mereka,” kata Rachel.

“Kami ingin memberikan nasehat kepada orang tua yang sangat spesifik tentang bagaimana membantu anak-anak mereka dari trauma .”

Hussein, salah seorang anak pengungsi berusaia sembilan tahun, saat bermain di sebuah taman Manchester, mengatakan, dia merasa sulit mengatasi ketakutan mendengar suara pesawat, karena selalu dihantui suara gemuruh pesawat perang di Suriah.

“Saya berpikir bahwa semua pesawat akan memukul kami … bahwa mereka akan menjatuhkan bom dan menghantam kami. Pesawat menjatuhkan bom dan bom meledak dan orang mati,” katanya.

Seorang ayah berharap, dengan bantuan psikolog, anak-anaknya bisa memasuki kehidupan baru di Inggris. Menurut dia, ketika pertama kali tiba di Inggris putra dan putrinya khawatir melihat polisi dan orang-orang berseragam.

“Di sana di Suriah seragam bisa berarti sesuatu yang sangat berbeda.Tapi secara bertahap, dengan bantuan, mereka menyadari bahwa di sini kita aman. Mereka menjadi lebih baik,” katanya dan meminta agar namanya tidak disebutkan.***(Eank)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru