Monday, September 23, 2019
Home > Sosok > Penyelamat Bangsa

Penyelamat Bangsa

BJ HABIBIE. Mantan Presiden RI ke-3 ini sangat dikenal di mancanegara.  Dunia mengakui  prestasi yang diukirnya. Karena itu tidak heran bila Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan apresiasi tinggi atas sikap BJ Habibie selama ini, termasuk saat menjadi Presiden RI.

SBY bahkan meminta pada siapapun yang kelak menjadi pemimpin di Indonesia,  untuk meneladani sikap BJ Habibie. Baik itu spiritnya, hingga sikap pantang menyerah yang dimiliki mantan Menristek tersebut.

” Kita belajar banyak hal, Pak Habibie, Bapak adalah kebanggaan kami semua,” ujar SBY , pada suatu kesemparan atau usai menyaksikan film Habibie & Ainun di XXI Epicentrum Walk Kuningan, pertengahan Desember 2013 tentang BJ Habibie, yang akan genap berusia 78 tahun Juni nanti.

Pemilik nama lengkap Prof DR (HC)  Ing  Dr  Sc  Mult Bacharuddin Jusuf Habibie ini memang merupakan sedikit orang yang memiliki prestasi gemilang di Tanah Air. Anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936.

Meski merupakan Presiden Indonesia dengan masa kepemimpinan tersingkat, 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999 (satu tahun 5 bulan)–menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri, setelah sebelumnya menduduki posisi Wakil Presiden selama 2 bulan dan 7 hari sebagai Wakil Presiden (ke-7)–BJ Habibie banyak mengukir sejarah bagi Indonesia.

Suami Hasri Ainun yang dinikahinya 12 Mei 1962 dikaruniai dua orang putra–Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Namun hanya setahun di ITB, dia kemudian 1955-1965 melanjutkan kuliah di  teknik penerbangan karena mendapat bea siswa.

Dia mengambil spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman (Barat). BJ Habibie menerima gelar diplom ingenieur tahun 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summacum laude.

Habibie kemudian  bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Di perusahaan itu dia  mencapai puncak karier sebagai seorang wakil presiden bidang teknologi. Prestasi tertinggi yang dicapai warga bukan asli Jerman, khususnya warga asal Asia.  Di puncak karietnya itu, pada ahun 1973 Habibie memutuskan kembali ke Indonesia atas permintaan mantan Presiden Suharto. Dia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.

Karena prestasinya itu pula BJ Habibie mendapat kehormatan dari pemerintah Jerman yang menetapkannya sebagai warganegara kehormatan. Berbagai penghargaan juga dia peroleh, antara lain penghargaan bergensi  Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel.

Di dalam negeri Habibie antar lain mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung, Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.
 
Menurut Wikipedia, pada masa kecilnya Habibie menghabiskan waktu bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat  sedang melaksanakan shalat Isya.

Meski merupakan Presiden RI dengan masa kepemimpinan terpendek, mantan siswa SMAK Dago, Bandung yang pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ini, pada eranya mampu menancapkan berbagai catatan sejarah penting bagi Indonesia.

Masa Kepresidenan Habibie yang mewarisi kondisi keadaan negara kacau pasca pengunduran diri Soeharto–sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia-memang merupakan mamsa sulit. Namun BJ Habibie mampu mengantar Indonesia lepas dari kesulitan panjang.

Segera setelah memperoleh kekuasaan,  Presiden RI ke-3 ini  membentuk sebuah kabinet yang  satu tugas pentingnya kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Pada eranya BJ Habibie  mampu memberikan landasan kokoh bagi Indonesia.  Pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah. Melalui penerapan UU otonomi daerah inilah gejolak disintergrasi yang diwarisi sejak era Orde Baru berhasil diredam.

BJ Habibie bukannya tidak memiliki kelemahan di masa kepemimpinannya. Kesalahan terbesar yang dinilai dilakukannya adalah memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur, sehingga provinsi itu lepas dan berubah menjadi Negara Timor Leste.

Namun terlepas dari referendum tersebut jasanya terhadap bangsa dan Negara amat banyak, tak terhitung. Bahkan ketika banyak pihak mendorong untuk maju kembali sebagai Presiden, dia memilih tidak maju demi keutuhan bangsa dan Negara.

Adalah peristiwa referendum itu yang menjadi alasan bagi pihak oposisi untuk menjatuhkannya. Upaya itu akhirnya berhasil dilakukan pada Sidang Umum 1999. Habibie tidak melakukan pembelaan bahkan perlawanan, dia  memutuskan tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden, karena laporan pertanggungjawabannya tidak diterima.

Habibie yang selalu ingin dekat dengan keluarganya, dengan istrinya  Hasri Ainun-hingga akhirnya hayat Ibu Ainun  meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman, 22 Mei 2010, selalu berusaha memberikan yang terbaik baik Indonesia.

Dia lebih mengutamakan keutuhan bangsa ketimbang ambisi pribadi. Karena itu tidak berlebihan bila BJ Habibie disebut sebagai penyelamat bangsa dan Negara.

“Saya sudah 77 tahun, sudah sepuh. Namun pengabdian bagi Negara tidak akan ada akhirnya,” kata Bj Habibie dalam suatu acara di Batam,  akhir September 2013.

Penicipta atau yang membangun pesawat terbang CN 235 itu mengatakan  bahwa dia masih memiliki semangat muda. “Semangatnya 17 tahun, kalau kekuatannya 30 tahun, lebih sedikit. Tapi pengalamannya 77 tahun,” tutur Habibie dengan mata bersinar dan senyum khasnya.

Bagi dia, sebenarnya sekarang  sudah masa pensiun dari berbagai aktifitas. Namun, katanya,  pengabdian untuk negara tidak akan ada akhirnya. “Soldier never dies. Bukan untuk perang-perangan, bunuh-bunuhan. Musuh kita adalah kemiskinan. Saya dan Anda adalah ‘soldier’. ‘We will never
die,” ujar BJ Habibie mantap. ***eank

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru