Monday, October 21, 2019
Home > Cerita > Penjual Cincau dan Supir Taksi

Penjual Cincau dan Supir Taksi

Cincau hijau

Cincau hijau

Kemarin siang dalam perjalanan dari stasiun kereta ke kantor saya tertarik minum es cincau, tidak jauh dari pasar. Di paruh siang yang agak terik, jam 3-an, minuman dingin itu terasa menyegarkan di mulut. Satu gelas hanya Rp 3.000, relatif murah karena membayangkan proses terbentuknya cincau dari daun, membutuhkan waktu lama ditambah dengan unsur es dan gula yang harus dia beli. Apalagi penjual ini menjajakan dengan gerobak dorong, pasti membutuhkan tenaga yang cukup banyak untuk sampai dekat pasar. 

Saat saya minum dua lelaki yang baru turun dari sepeda motor memesan dua gelas pada tukang yang sedang melayani dua pelanggan lainnya. “Habis cincaunya,” kata si penjual. “Wah, sial nih. Padahal lagi kepingin,”kata calon pembeli yang sudah menyandarkan sepeda motor dan membuka helmnya.

Terpaksa dia beralih ke jajanan lain. Di dekat situ ada penjual teh botol, air mineral, yang tentu saja berbeda dengan cincau. Dan di Jakarta ini tidak mudah mencari penjual cincau, mungkin hanya ada satu di satu tempat tertentu. Seperti juga tukang soto mie, tukang laksa, rujak tumbuk, yang boleh dikatasebagai hidangan “jadoel” alias zaman dahoeloe.

“Kok bawanya sedikit, Bang,” saya bertanya penasaran. “Jam segini kan masih banyak yang mau.”
“Nah, itu dia Pak. Kalau bawa banyak, biasanya saya malah bengong nggak ada yang beli. Hujan lah, apalah. Aneh, saya juga nggak ngerti,” katanya.

“Oh gitu ya. Masak sih seperti itu,” kata saya penasaran. Sambil berpikir tentu saja. Dalam beberapa hari ini memang kerap terjadi hujan baik siang maupun pagi. Rasanya tidak setiap hari hujan. Jadi kalau alasannya tidak laku karena hujan, bagi saya kurang masuk akal.

Tetapi rupanya si penjual punya logika sendiri, sesuai dengan pengalaman yang dia alami selama ini. Dia bawa cincau secukupnya saja. Dandang aluminium tidak pernah penuh, mungkin setengah atau dua pertiga, agar tidak sia-sia tidak terjual. Kalau tidak laku, dia rugi. Di samping itu kalau dibawa pulang pun tentu saja kualitasnya sudah tidak segar lagi.

***
Cerita tentang penjual yang berpikir sederhana dan tidak serakah mencari makan seperti ini sudah sering kita dengar. Di Solo dan Yogya, ada banyak penjaja makanan yang dagangannya laku tetapi tidak mau memaksakan diri agar untung besar. Penjual gudeg, soto, tongseng, makanan khas lainnya, menjual sehabisnya saja. Kalau bawa untuk 100 porsi dan sudah habis jam 13.00 siang ya sudah. Bukan lalu esoknya menjual 130 porsi atau 150 porsi. Mereka beranggapan rezeki itu sudah ada yang ngatur, tidak perlu dikejar dengan tergesa-gesa dan penuh nafsu.

Sikap ini tentu berbeda dengan teori bisnis modern yang mendorong kita untuk terus aktif mengembangkan bisnis dan mencari untung semaksimal mungkin. Lihat saja betapa banyak franchise yang menjamur tumbuh di berbagai pelosok kota. Untuk bakmi ada belasan, roti puluhan, ayam goreng, pizza, burger, kue kering, dan berbagai merk yang boleh kita gunakan untuk ikut berbisnis, dengan membayar fee dengan jumlah tertentu. Tentu ada yang ikut untung, tetapi tidak sedikit yang buntung. Umumnya karena tidak pandai mengelola atau “nama besar” ternyata mudah tergulung oleh waktu karena tidak adanya sentuhan pribadi, tidak ada kekhasan lagi, yang diharapkan pelanggan.

Yang menarik dari penjual cincau adalah kemampuannya membaca kapasitas pasarnya, yang dia simpulkan dari pengalaman hari demi hari. Dan ditambah pula dengan sikap tahu diri untuk tidak berkhayal terlalu jauh soal rezeki. Dia puas dengan apa yang dia dapat.

Ada banyak supir taksi yang bersikap seperti itu. Mereka sangat yakin rezeki tidak bisa dikejar, sebab rezeki justru datang. Pernah saya kesal karena taksi yang saya berhentikan tidak jadi saya naiki karena supirnya keberatan pendeknya jarak yang akan saya tempuh. Ketika itu saya ceritakan ke supir taksi berikutnya, yang akhirnya mau saya tumpangi, dia pun tidak heran.

“Biasanya yang muda-muda begitu Pak. Maunya dapat trayek yang jauh saja. Saya sih terima. Dekat atau jauh, kan wajib diterima. Kalau ikhlas, begitu Bapak nanti turun, ada saja yang nyetop lagi. Sebelum Bapak naik saya pun baru menurunkan penumpang,” katanya.

Kalau kita perhatikan perkataannya itu benar. Betapa sering ketika akan menyetop taksi, feeling kita yang main. Ada beberapa melintas kadang kita menyetop sesuai keinginan hati. Kalau yang dapat berwajah riang, ramah, biasanya pun kita memberi tambahan tips. Tetapi kalau yang menyebalkan kita pun malas menambah. Malah kadang kita ingin segera turun. Jadi soal rezeki ini memang sulit diperdebatkan dan mungkin tidak perlu, lebih baik kita pasrah, kita ikut perasaan. Tentu saja kita bekerja, berusaha, dan menyerahkan hasilnya pada Sang Pencipta.

Intinya mungkin rasa syukur. Beberapa tukang ojek yang biasa mengantar saya ke rumah dari stasiun hampir semua menyadari “batas” dari usaha manusia. Kadang kalau sedang rezeki banyak, dalam satu hari bisa mendapat 10-12 penumpang sehingga bisa mengantongi di atas Rp 100.000. Sementara kalau sedang-sedang saja mungkin hanya membawa pulang Rp 50.000. Tetapi semua itu dia terima karena menyadari seperti itulah capaian dari pekerjaannya.

Syukur menjadi penting karena sebetulnya, berapapun yang kita peroleh tidak pernah cukup. Mereka yang bergaji di atas Rp 50 juta sebulan masih saja ada yang korupsi. Bahkan yang sudah punya harta milyaran rupiah pun masih mencari dengan jalan yang tidak sesuai hukum. Pendapatan besar pasti pengeluaran pun besar. Sebulan Rp 50 juta akan terasa kurang kalau masih mencicil dua mobil, punya dua anak kuliah, hidup di rumah dengan listrik 5000 watt dan tiga pembantu di rumah, misalnya. Begitu Anda dianggap punya uang milyaran, akan antre orang datang, entah keluarga, bekas teman sekolah atau sekampus, tetangga, yang ingin pinjam uang, minta sumbangan dll. Tawaran investasi dan macam-macam membuat sakit kepala dan akhirnya uang pun terasa kurang.

Tampaknya kita harus berkaca pada penjual cincau dan supir taksi.. (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru