Wednesday, October 16, 2019
Home > Berita > Pengganti Poso, Kelompok JAD Rencanakan Dirikan Basis Latihan Militer di Halmahera

Pengganti Poso, Kelompok JAD Rencanakan Dirikan Basis Latihan Militer di Halmahera

Ilustrasi. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Jakarta) – Kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) melalui Suryadi Mas’ud alias SM alias Abu Ridho dan Nanang Kosim alias NK, berencana mendirikan basis pelatihan militer di Halmahera, Maluku Utara.

Basis pelatihan militer ini rencananya menggantikan basis di Poso,
Sulawesi Tengah.

Kabag Penum Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, di Mabes Polri,
Jakarta, Jumat (24/3) mengatakan, penyidik Densus 88 masih terus melakukan pengembangan terhadap kelompok yang terafiliasi dengan JAD dan berkolaborasi dengan kelompok teroris di Filipina Selatan ini.

“Kelompok ini ingin membuat tempat pelatihan militer di Halmahera sebagaimana di Poso,” ujar Martinus.

Menurut Martinus, Nanang Kosim yang tewas dalam baku tembak di Cilegon, telah terdeteksi merencanakan pendirian basis militer
tersebut. Dan rencana itu juga diakui SM alias Abu Ridho. “Dia hanya baru menyebut, merencanakan mendirikan camp pelatihan di Halmahera. Apakah camp itu sudah ada atau tidak, itu sedang didalami penyidik Densus 88,” katanya.

Menurut dia, rencana pendirian basis pelatihan militer oleh kelompok ini bukan tidak mungkin direalisasikan. Sebab, terduga teroris SM alias Abu Ridho dan beberapa anggotanya mempunyai pengalaman pelatihan militer di Filipina Selatan dan punya koneksi atau jaringan dengan kelompok teror tersebut.

Bahkan, SM alias Abu Ridho mempunyai spesifik keahlian yakni ahli teknik persenjataan dan pembuatan bom.

“Sebagian dari mereka seperti SM dan NK pernah ikut latihan militer di Filipina Selatan. Dan mereka telah merencanakan membuat tempat pelatihan yang sama di Halmahera,” kata Martinus.

Sejauh ini, belum diketahui alasan kelompok tersebut memilih
Halmahera sebagai tempat yang akan dijadikan basis pelatihan militer untuk JAD. “Apakah untuk memudahkan akses tertentu, itu juga masih didalami penyidik Densus 88,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Densus 88 menangkap delapan orang terduga teroris, di lima daerah di Jawa Barat dan Banten pada Kamis (23/3).

Dua orang di antaranya adalah SM alias Abu Ridho dan Nanang Kosim alias NK.

NK sendiri tewas tertembak peluru petugas karena melawan dan berupaya melarikan diri saat disergap di Jalan Raya Cilegon, Ciwandan, Cilegon, Banten.

Diketahui, sebagian pelaku teror di Indonesia dalam tiga tahun terakhir merupakan anggota JAD. Di antaranya bom di Jalan MH Thamrin Jakarta, pelemparan bom molotov ke gereja di Samarinda, bom panci di Cicendo, Bandung, dan pembuat bom panci di Sragen.

Kepolisian telah memonitor anggota kelompok tersebut telah melakukan pertemuan JAD se Indonesia, di Batu, Malang, pada 21 hingga 25 November 2015 lalu.

Dalam pertemuan itu, terjadi telebicara antara JAD se Indonesia
dengan Aman Abdurahman yang mendekam di tahanan Nusakambangan. Bahkan saat itu, Aman Abdurahman sempat memberikan beberapa instruksi kepada para anggota JAD. di antaranya agar berangkat ke Suriah, mengirim orang ke Suriah hingga membentuk struktur organisasi di Indonesia untuk melakukan amaliyah (bom bunuh diri).

Diketahui pula, sejak beberapa tahun terakhir, sebuah kawasan hutan di Poso, Sulteng, telah menjadi basis kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok Santoso-Basri dan faksi Ali Kalora.

Namun, kekuatan dan eksistensi kelompok dan faksi-faksi tersebut telah jauh berkurang setelah tim gabungan Polri dan TNI melaksanakan operasi pengejaran dan penangkapan dengan Operasi Camar Maleo sejak 26 Januari 2015 dan Operasi Tinombala sejak 9 Maret 2016 hingga saat ini.

Pada 18 Juli 2016, pimpinan kelompok teroris di Poso yang paling dicari, Santoso alias Abu Wardah, tewas ditembak Satgas Operasi Tinombala setelah baku tembak di Desa Tambarana. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru