Wednesday, October 16, 2019
Home > Berita > Pengeluaran Membeli Rokok per Hari di Seluruh Dunia Mencapai Rp1 Triliun

Pengeluaran Membeli Rokok per Hari di Seluruh Dunia Mencapai Rp1 Triliun

Kecanduan nikotin di seluruh dunia semakin meningkat. (viva)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Orang kecanduan rokok di seluruh dunia semakin banyak dan diperhitungkan dalam satu tahun diproduksi sebanyak 360 miliar batang. Kalau harga rokok Rp1000 per batang, maka per hari pengeluaran untuk membeli rokok mencapai Rp1 trilun.

Menanggapi situasi memprihatinkan ini, Staf Ahli Kependudukan Kemenko bidang Pembangun Manusia dan Kebudayaan RI, Sonny Harry B Harmadi, mengatakan, konsumsi rokok di seluruh dunia dalam satu hari termasuk sebagai pemborosan yang sangat tinggi.

Ia mengungkapkan hal itu pada diskusi di Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta, awal minggu ini.

Ia memaparkan bahwa dalam satu tahun diproduksi sekitar 360 miliar batang rokok di seluruh dunia.

“Rata-rata sehari satu miliar (batang), kalau sebatang harganya Rp1.000 ya berarti pengeluaran untuk rokok di seluruh dunia mencapai Rp1 triliun per hari,” katanya.

Selain merugikan masyarakat dalam segi ekonomi, perkiraan banyaknya rokok yang dibakar oleh   konsumen juga mengakibatkan asap mengganggu orang di sekitar.

Sungguh sangat ironis apabila sejumlah penduduk dunia mengorbankan uang triliunan rupiah hanya   untuk hal yang tidak bermanfaat, keluhnya.

Dalam kesempatan sama pendiri Center for Indonesias Strategic Development   Initiatives (CISDI), Diah S. Saminarsih, juga melontarkan kerugian lain dari tingginya tingkat konsumsi rokok khususnya di Indonesia.

Diah mengutarakan, tingginya konsumsi rokok juga akan berdampak pada beratnya beban pembiayaan pemerintah di bidang asuransi kesehatan.

“Sekarang, yang sakit kronis sekitar 60 persen dari pengguna BPJS. Secara tidak langsung penyakit kronis ada yang dipengaruhi karena konsumsi rokok,” katanya.

Staf Khusus Menteri Kesehatan RI itu juga menjelaskan, dikhawatirkan jumlah penderita penyakit akibat rokok di Indonesia juga terus meningkat pada beberapa tahun ke depan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Diah juga mengutarakan bahwa pengendalian tembakau di Indonesia begitu mendesak dan selayaknya menjadi tanggung jawab lintas sektor.

“Pengendalian tembakau harus dilakukan secara integratif dan holistik, lintas sektor dan oleh semua aktor atau pemangku kepentingan pembangunan nasional,” tuturnya menambahkan.

 

Iklan menyesatkan

Pakar Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai iklan rokok berisi pesan yang mampu menyesatkan masyarakat khususnya kalangan remaja.

“Iklan-iklan ini mampu menciptakan kesan bahwa merokok itu gagah, jantan, fantastik, dan sebagainya. Remaja yang menonton jadi tergoda, ingin mencoba rokok,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa.

Meski dilarang tapi tetap ada. (tribunnews)
Meski dilarang tapi tetap ada. (tribunnews)

Oleh sebab itu, Faisal pun menuding meningkatnya jumlah perokok di Indonesia pada umur remaja disebabkan gencarnya iklan rokok yang mengandung pesan manipulatif di media elektronik.

Meskipun Kementerian Perindustrian menyatakan produksi rokok menurun, namun jumlah konsumen rokok di kalangan remaja justru meningkat, ujar Faisal menambahkan.

“Saya juga heran kenapa perusahaan rokok begitu mudahnya memasang iklan di media massa, hampir tidak kenal waktu untuk di televisi,” ujar Faisal.

Ia memaparkan, sebanyak 74 persen pria di Indonesia telah menjadi perokok dan menjadi negara yang memiliki jjumlah perokok pria terbanyak di dunia.

“Lalu peningkatan jumlah perokoknya menjadi kedua di dunia setelah Yordania, ini karena saking mudahnya peredaran rokok di sini,” kata Faisal.  (AN/KB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru