Sunday, December 09, 2018
Home > Cerita > Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cincin kawin masih melingkar di jari manis tangan kananku. Hanya itu sisa-sisa pertanda aku pernah menikah. Suamiku telah pergi, raib tidak tahu kemana dia mengelana. Apakah masih hidup, atau telah mati, aku juga tak pasti. Yang jelas tidak ada lagi kabar, telah hampir setahun. Tak ada tempat  bertanya. Aku memang tidak akrab dengan saudara-saudara dan famili suami. Kedua orang tuanya sudah tiada. Dia telah pensiun, jadi jarang ketemu-teman mantan sekantornya.

Hari ini rasa rindu begitu mendalam, menusuk-nusuk rongga dada. Ingin ketemu dengan suamiku, Aditya Rifqi Hamizan. Namun dimana dia bisa dijumpai?

“Allah lindungilah suamiku Aditya. Pertemukan aku dengannya, meski hanya sesaat.”

Telah berulang kali doa itu ku ucapkan. Tak yakin apakah permohonanku itu akan dikabulkanNya?

“Ampuni hamba ya Allah, jika kepergian suamiku itu karena kesalahan hamba.”

Ya, Mas Adiitya pergi memang karena kekecewaanya padaku. Aku mengusirnya. Meminta dia agar pergi meninggalkan rumah hasil jerih payahku, ketika kami ribut, bertengkar karena urusan sepele. Aku mencemburuainya ada main dengan seorang janda. Rumah yang kami tempati dibeli dari hasil tabunganku. Namun dialah yang merenovasi di sana sini dengan dana melebihi harga rumah ini ketika saya beli, hingga rumah yang kami tempati lumayan bagus.

Tanpa disadari air mata meleleh di kedua pipi. Panas. Jangkrik yang ada di taman, tiba-tiba berbunyi. Burung yang ada di pohon manga berkecaau bersahutan. Matahari semakin naik, panasnya menembus teras. Kursi yang ku duduki mulai terasa panas. Gelas bekas berisi teh manis telah kering. Serpihan roti bertaburan.

“Assalamualaikuuuuum,” tiba-tiba aku dikagetkan seseorang yang memberi salam.

“Waalaikumsalam,” jawabku.

“Oh, rupanya Bu RT. Masuk Bu. Tumben, gak biasa-biasanya,” kataku sambil membukakan pintu pagar.

“Ya, ya. Ini saya mengantarkan petugas dari kelurahan,” katanya, sabil menunjuk dua laki-laki yang mengikutinya.

Tak ada basa-basi. Satu di antara kedua laki-laki itu mengeluarkan sesuatu.

“Ini foto copy KTP. Kami mendapat kiriman dari pihak kepolisian. Apakah pemilik KTP ini suami ibu?”

Saya meraihnya, lalu mencermati.

“Ya. Ini memang KTP Aditya Rifqi Hamizan. Ada apa dengan dia. Ada di mana dia sekarang?”

Kedua lagi-laki yang ada di depan ku saling pandang. Kemudian dia melihat Bu RT.

“Ada apa? Kenapa kalian diam,” kataku.

“Suami ibu ditemukan telah meninggal di sungai, di sebuah jembatan di Pekanbaru.”

Tiba-tiba semua terasa gelap. Kepala pusing.

***

Sholat, yang telah lama tak aku lakukan, sejak kepergian suamiku Aditya Rifqi Hamizan–yang namanya bermakna laki-laki yang tampan, pandai dan bijaksana serta lemah lembut–kembali aku tekuni. Aku ingin berada di jalan Tuhan, jauh dari segala kesalahan.

Kepergian Aditya membuatku berubah. Selain rajin mendirikan sholat, aku juga kerap mengikuti pengajian, menghadiri ceramah agama, baik langsung, maupun melalui radio dan televisi. Aku rajin berdoa, minta ampun atas segala kesalahan, serta mendoakan suamiku Adit agar diberi tempat yang layak di alam barzah sana, diampuni segala dosa-dosanya, dan mendapat tempat di surga.

Anak kami, Aniq Cahya Dewi, yang menurut suami saya artinya wanita yang bersinar, cantik dan mungil– gabungan Bahasa Arab dan Jawa–kini telah berusia belasan tahun. Dia malah lebih solehah dibanding aku.

“Ma. Aniq ingin menjadi anak solehah. Agar doa Aniq diterima Allah. Semoga papa di alam kuburnya diberi kelapangan. Diampuni semua dosa-dosanya dan diberi tempat di surga,” katanya suatu waktu.

Kami, aku dan Aniq, juga selalu berharap Adit tidak bunuh diri. Meninggal dalam kecelakaan. Pihak kepolisian dan rumah sakit tidak memberikan penjelasan tentang itu. Kami pun tidak bisa melihat jasad Adit, karena telah terlanjur dikubur.

Aku yakin, Adit tidak mengambil jalan yang salah, tidak meninggal dalam keputus asaan, mengambil jalan pintas karena kecewa terhadap aku istrinya yang mengusirnya dengan kasar.

“Selamat jalan sayang. Semoga kamu tenang di alam barzah. Amiiin,” aku tiba-tiba saja berdoa.

Dalam benak kembali muncul kenangan terakhir dengan Adit. Saya mencemburuinya tanpa bukti, hanya berdasarkan kabar via WhatsApp yang dikirim seorang teman.

“Saya tadi melihat suamimu bersama seorang perempuan di sebuah hotel di Bandung. Kabarnya wanita itu seorang janda,” tulisnya.

Darahnya saya langsung mendidih, naik ke kepala. Adit yang pamit ingin ketemu seorang teman yang mengajak buka usaha di Bandung, koq malah ada di hotel  bersama janda. Saya langsung menghubunginya lewat telepon, gak diangkat. Tak ada respon, meski dihubungi berkali-kali.

Dalam benak saya muncul macam-macam. Terbayang Adit lagi bergumul dengan janda itu. Apalagi menurut teman yang mengabari tadi, janda itu memang nakal, kerap gonta-ganti laki-laki. Mencari mangsa demi uang. Bagi dia laki-laki adalah sumber pemasukkan, mau tua, jelek, kucel tak masalah, apalagi laki-laki muda, semua oke saja. Yang penting bersedia menjadi “donatur” tetap.

Sore menjelang malam saya baru berhasil kontak dengan Adit. Dia yang menghubungi saya.

“Katanya kamu ke Bandung terkait rencana membuka usaha? Koq malam kencan ama janda di hotel. Dasar pengkhianat,” kataku emosi.

“Dengar dulu Ma. Saya kebetulan ketemu dengan ibu itu. Lagian dia kan jauh lebih tua dari saya. Saya juga perkenalkan dengan temanmu itu. Gak ada apa-apa,” katanya.

Hati panas. Aku tak percaya dan langsung menutup telepon dan tak lagi merespon, mesiki Adit menghubungi berulang kali.

Puncak kekesalan aku tumpahkan ketika dia pulang ke rumah esok harinya. Tak terkendali, mengusirnya dengan kasar. Adit hanya diam, kemudian pergi. Aku tak peduli.

***

Tujuh tahun sudah berlalu. Aniq, anak semata wayangku sudah beranjak dewasa. Dia telah menduduki bangku kuliah. Putriku ini kerap menyarankan agar aku menikah lagi, supaya tidak kesepian. Tapi aku selalu menampik.

“Mama tak akan pernah menikah lagi,” kataku.

“Mama akan kembali ke pangkuan papamu, di surga,” mematahkan argumentasinya.

Di tengah pembicaran aku dan Aniq di sebuah tempat makan, restoran sate yang menjadi langganan kami bersama Aditya di wilayah Kebayoran, tiba-tiba aku beradu pandang dengan seorang wanita setengah baya yang sedang mencari-cari tempat. Dia mendatangiku.

“Anda istri Aditya kan. Ini putrimu?,” katanya menoleh ke arah Aniq.

“Ya,” kataku.

“Apa kabar Mas Aditya?”

Saya tersenyum. Lalu menjelaskan bahwa Aditya telah mendahului kami.

“Oh,” hanya itu jawabannya.

Saya tidak simpati pada wanita itu, karena gara-gara dialah aku ribut dengan Aditya.

“Maaf saya telah mengganggu. Saya mencari meja lain. Janjian dengan seseorang di sini,” katanya.

Wajah wanita itu sudah mulai ditandai garis-garis ketuaan, dan lehernya terlihat sudah keriput meski berusaha ditutupi dengan bedak atau bahan kosmetik lainnya. Kelihatan lelah, tidak lagi lincah. Sepertinya ada beban batin, tekanan hidup.

Dia adalah teman sekantor Mas Aditya. Namun Mas Adit minta pensiuan dini. Wanita itu sudah lama menjanda, dan kabarnya dia suka merayu laki-laki, termasuk teman-teman kerja, baik teman di kantor pusat maupun yang ada di daerah. Latar belakangnya itulah yang membuat saya cemburu ketika Mas Adit didapati seorang teman sedang berada di sebuah hotel di Bandung bersama wanita itu.

Baru-baru ini dia  ada skandal dengan seorang laki-laki asal daerah yang telah lama diincarnya. Laki-laki itu biasa-biasa saja, bahkan boleh dibilang jelek. Namun dia lebih muda dari janda itu dan konon bersedia memberi biaya bulanan. Janda dan laki-laki itu tertangkap basah di sebuah penginapan kecil di Jakarta, ketika ada razia terhadap wanita penjaja seks. Namun sepertinya janda itu tak menganggap itu aib. Nyatanya, meski penggerebekan mendapat pemberitaan luas di berbagai media, dia tetap tenang. Walau akibatnya dia dipecat dari tempat pekerjaan.

“Oh ya. Suami ibu itu laki-laki hebat. Tidak mempan digoda.” Dia pun berlalu.

Tiba-tiba telpon genggamku berdering.

“Halo, siapa ini?,” aku merespon sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa yang menghubungi karena nomornya tidak aku kenal.

Diam. Tak ada jawaban. Ketika saya hendak mematikan handphone tiba-tiba ada suara, sepertinya gugup, terburu-buru.

“Halo, ya ini saya. Saya ingin bertemu ibu. Mungkin pekan depan. Kalo ibu bersedia…,” klik, lalu hubungan terputus.

“Siapa ini? Apa maunya,” kataku.

“Siapa Ma,” tanya anakku Aniq.

Lalu telpon genggamku berdering lagi.

“Halo. Saya teman bapak mantan suami ibu. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Kapan bisa kita bertemu, sekalian katanya bersama anak ibu, Aniq…,” sambungsan terputus lagi.

Siapa dia. Tapi nada suaranya sepertinya pernah saya kenal. Penasaran, aku putuskan untuk menghubunginya. Tapi tiba-tiba hp kembalii berdering.

“Maaf bu. Sinyal di sini kurang baik. Saya di Pekanbaru,” katanya tanpa ditanya.

“Bagaimana kalau kita ketemu pekan depan. Di…. Ya di Restoran Sate Kebayoran, ibu setuju. Jangan lupa bawa Aniq. Itu pesan mantan suami ibu.”

“Bagaimana kalo besok saja, atau lusa. Terlalu lama minggu depan,” kataku.

“Oke lusa boleh,” balasnya.

“Ya lusa ditunggu di Restoran Sate Kebayoran,” kataku.

“Loh, Mama sepertinya semangat betul. Mau ketemu siapa? Laki apa perempuan,” tanya Aniq.

Saya jelaskan, itu laki-laki dari Pekanbaru mau ketemu Mama dan Aniq. Katanya teman papa. Mau menyampaikan sesuatu.

Aniq terlihat tersenyum renyah.

“Jangan-jangan dia jodoh Mama. Kan sudah tujuh tahun Ma. Papa pasti setuju jika Mama menikah lagi.”

“Hus, sembarangan.” Aniq tersenyum.

Tapi dalam hatiku ada perasaan tak sabar ingin ketemu laki-laki itu. Jangan-jangan Aniq benar, dia jodohku, pengganti Anditya. Tapi apa Aditya setuju. Apa dia tak kecewa. Ada keraguan, namun aku berpikir yang penting ketemu dulu. Mana tahu ada pesan penting dari Aditya.

“Aniq setuju Ma. Mama telah lama menjanda, kasihan. Almarhum papa pasti setuju. Silakan Ma, please….,” katanya.

***

Menunggu dua hari rasanya sangat lama. Entah apa yang mendorong, aku sangat ingin berjumpa tamu yang mengaku teman suamiku itu.

“Begitu sampai restoran Aniq turun dulu yang Ma. Mama sendiri yang nyari tempat parkir,” kata Aniq.

Tidak biasanya Aniq berbuat begitu. Selama ini dia selalu sama-sama turun denganku, setelah kami berhasil mendapatkan tempat parkir. Dan tidak seperti biasanya, dia juga tak ingin mengendarai mobil. Mama saja, katanya. Entah apa yang mendorongnya ingin cepat bertemu laki-laki yang akan kami jumpai.

Untungnya aku cepat mendapat tempat parkir. Tidak jauh dari pintu gerbang. Begitu masuk restoran, menyapukan pandangan ke sekeliling. Di pojok kanan aku melihat Aniq sedang bergelayutan di leher seorang lelaki, cipika cipika. Ada apa ini?

Saya jadi kesal. Lalu Aniq berbalik, melambaikan tangan. Saya mendatanginya ragu.

Begitu wajah laki-laki itu terlihat jelas jantungku berdegub kencang. Aku percepat langkah, sempat menabrak kursi, lalu ku raih bahu laki-laki itu. Aku cium pipi kiri dan kanannya, tak hanya sampai disitu aku cium bibirnya.

“Sabar Bu, maaf Bu, kita bukan muhrim,” kata laki-laki itu.

Lalu ku tampar pipi laki-laki itu. Keras, sampai memerah.

“Maaaaa. Jangan Ma,” teriak Aniq.

Ku rangkul dia, wajah kubenakan di dadanya. Aku mulai terisak. Tidak peduli menjadi pusat perhatian tamu restoran yang sedang ramai.

“Sabar sayang. Sabar,” laki-laki itu membelai punggung dan kepalaku. Aku pun mulai tenang, mulai mampu menguasai diri.

“Apa kata Aniq. Betul kan Ma, laki-laki ini memang jodoh Mama. Perasaan Aniq nggak pernah bohong.”

Aku duduk, merapatkan kursi kepada laki-laki itu. Aniq persis di depan kami, dibatasi meja makan.

“Aniq pesan saja. Seperti biasa,” kataku ketika seorang pelayan menyodorkan daftar menu.

“Papa seperti biasa, jangan lupa jus alpukat,” kata laki-laki itu kepada Aniq.

Ya. Laki-laki itu adalah papanya Aniq, Aditya. Suami saya yang telah dinyatakan tewas, yang jasadnya menurut pihak kepolisian ditemukan di sebuah sungai.

Aditya bercerita banyak. Setelah aku usir dari rumah dia pergi ke Pekanbaru. Di sana dia kecopetan, dompet dan salah satu tas jinjingnya raib. Dan dompet berisi KTP itulah yang ditemukan aparat di kantong mayit yang terdampar di pinggir Sungai Siak, Pekanbaru.

Saya makin merapat ke Aditya.

“Ma. Jangan rapat-rapat. Kita bukan muhrim,” katanya. Saya hanya tersipu lalu mencubit pinggangnya sampai dia berteriak.

Tujuh tahun berpisah tak banyak perubahan di wajah dan sosok Aditya. Dia tetap ganteng, sabar, suka bercanda. Dia suami dan papa yang gigih. Mencintai istri dan anak, buktinya meski lama berpisah dia tak menikah lagi. Meski usaha dagangnya di Pekanbaru dikatakannya cukup berhasil dan.

Usai makan kami putuskan pergi ke Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran, Jakarta Selatan, tak jauh dari restoran tempat kami makan. Kami—aku, Aditya, dan Aniq—menemuai pengurus masjid di kantornya. Petugas itu menyatakan, aku dan Aditya harus menikah lagi, karena sebagai suami Adit telah lama tidak memberikan nafkah lahir dan batin padaku. Aku minta dinikahkan saat itu juga,. Petugas itu tidak bersedia, dia menyarankan nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di tempat kami tinggal saja. Lebih mudah.

Aku kembali menghubungi Abdiel, yang sebelumnya telah diminta menemui Ketua RT di tempat aku tinggal, untuk mengundang warga menghadiri acara selamatan pernikahan ku. Kali ini ku minta dia menghubungi KUA untuk menikahkan aku dan Aditya. Kalau bisa di rumah saja. Siang hari. Juga kembali menghubungi Ketua RT, untuk menyesuaikan undangan selamatan. Aku dan adikku Abdiel Abqari memang tinggal satu komplek.

Kami memutuskan pulang saja ke rumah. Tapi Anditya tak setuju, dia bersikeras menginap di hotel, di kawasan Jalan Thamrin. Aniq ikut berusaha keras membujuk, tapi Aditya bersikukuh. Dia juga menolak ketika Aniq mau ikut menginap, alasannya kasihan aku pulang sendiri.

“Besok saya datang sebelum Dzuhur,” katanya. Aku dan Aniq pun pulang.

***

Kamar tidurku sudah rapi, sprai diganti, kembang khusus ditaburkan di atas Kasur. Wewangin disemprotkan. Saya sendiri yang merapikannya, dibantu Aniq. Beberapa kali aku mencoba tidur di kasur yang baru dirapikan itu, cukup nyaman.

Pembantu mengganti gorden, membersihkan karpet, merapikan ruang. Meja meja untuk sementara disingkirkan dari ruang utama, karena akan digunakan untuk acara akad nikah dan selamatan  perkawinan aku dan Aditya yang kedua kalinya. Abdiel dan beberapa tetangga ikut membantu.

Penghulu sudah datang, tamu-tamu sudah ramai. Saudara-saudaraku juga sudah ditempat, termasuk Abdiel yang sudah mengenakan dasi dan jas, karena dialah yang akan menikahkan saya dan Aditya sebagai wali, sebab ayah kami sudah tiada. Namun Aditya belum juga muncul. Banyak yang tak sabar, bisik-bisik, bahkan tak sedikit yang bertanya apakah yang saya temuai kemarin benar-benar Aditya.

Di tengah penantian, sebuah mobil mewah, sedan terbaru, berhenti di depan rumah. Turun seorang laki, tetapi bukan Aditya, juga laki-laki kedua, dan ketiga. Saya kenal ketiganya, mereka adalah teman-teman Adit. Lalu laki-laki keempat muncul, rapi, ganteng. Entah siapa yang mengomandokan tiba-tiba semua yang ada bertepuk tangan. Satu persatu menyalami Aditya, bahkan ada yang sampai menangis.

Saya tak sabar. Saya colek Abdiel, minta menarik  Aditya agar mendekati Pak Penghulu.

“Sabar Mba, Mas Adit gak akan kabur,” kata adikku itu menggoda. Namun dia tetap pergi mendekati Adit. Berbisik kepada salah satu teman Aditya, lalu mereka menuju tempat yang telah disediakan.

Penghulu memberi pengarahan, lalu adikku Abdiel berjalan ke arahku dan bertanya.

“Apakah Mba setuju saya nikahkan dengan Mas Aditya?, “katanya cukup keras.

“Setuju,” jawabku.

“Kurang jelas, agak keras,” kata adikku itu lagi.

“Setuju. Aku setuju dinikahkan dengan Aditya Rifqi Hamizan. Kami akan menjadi  pengantin baru untuk kedua kalinya,” kataku tegas yang disambut gelak tawa riuh.

Saya dan Aditya resmi menjadi suami istri lagi. Saya tak sabar menunggu tetamu pulang. Tapi meski malam sudah mendekat larut, masih banyak yang bertahan. Mereka sibuk menanyai Aditya. Tiga teman Adit sudah pergi dari tadi, mereka sepertinya mengerti Adit dan aku perlu waktu khusus dan segera.

Aku tidak sabar. Ke luar masuk kamar, lalu bergabung dengan Adit dan tamu-tamu. Namun tamu-tamu sepertinya tidak paham, atau tak mau mengerti bahwa aku ingin segera menumpahkan segalanya pada Aditya. Aku ingin melepaskan semuanya, rindu, cinta, sayang, terlebih birahi yang sudah tertahan selama tujuh tahun. Duuuhh. Buruuuaaaaann. Aku makin tak sabar.***

Jakarta, Mei 2018

Cerpen ini sebelumnya telah dimuat di Harian Berita Pagi Palembang, pada Sabtu 5 Mei 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru