Friday, July 03, 2020
Home > Berita > Pengadilan Federal Australia:  Larangan Ekspor Sapi Hidup ke Indonesia Tidak Sah,  Oleh Nuim Khaiyath

Pengadilan Federal Australia:  Larangan Ekspor Sapi Hidup ke Indonesia Tidak Sah,  Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Sapi Australia..

Sekitar pertengahan tahun 2011, Badan Siaran Televisi Australia – ABC – dalam tayangan acara mingguannya yang sudah banyak dianugerahi berbagai penghargaan – FOUR CORNERS –  memperlihatkan hasil rekaman video tersembunyi di sejumlah rumah pemotongan hewan sapi di Indonesia.

Pemirsa yang menonton acara tersebut sungguh gempar.

Kekejaman yang dipraktekkan oleh petugas-petugas  penyembelihan sapi di sarana-sarana tersebut memang terkesan sangat zalim, hingga sapi-sapi tersebut seakan harus melalui dua tahapan kebuasan manusia: ketika akan disembelih dan sewaktu disembelih.

Warga Indonesia di Australia pun yang menyaksikan acara tersebut ikut syok melihat apa yang terjadi di rumah-rumah pemotongan hewan yang bersangkutan.

Mampukah manusia sekejam itu terhadap hewan?

Kalau warga Indonesia saja pun sangat terpukul melihat adegan-adegan seperti itu, apalagi umumnya orang Australia yang biasanya sangat sayang pada binatang.

Timbul kegemparan dan tuntutan agar pemerintah Australia yang waktu itu dipimpin seorang perempuan – Julia Gillard – dari Partai Buruh, bertindak.

Menteri Pertanian waktu itu, Joe Ludwig, yang dilaporkan pernah mempelajari bahasa Indonesia, memutuskan untuk melarang ekspor sapi hidup ke Indonesia.

Para peternak Australia yang menjadi pemasok sapi hidup untuk Indonesia benar-benar terkapar, meski larangan tersebut berlaku hanya sekitar enam bulan.

Memenangkan penggugat

Tiga tahun kemudian – 2014 – sekitar 300 peternak Australia mengajukan gugatan ke pengadilan federal secara bersama – class action – dan menuntut ganti rugi $600-juta dari pemerintah yang kini dikelola oleh koalisi partai yang waktu peristiwa itu terjadi, berfungsi sebagai oposisi.

Hakim Pengadilan Federal Steven Rares dalam putusannya yang memenangkan pihak penggugat menyebut mantan Menteri Pertanian Joe Ludwig melakukan “penyalahgunaan kewenangan hukum” dan kecerobohan.

“Menteri Pertanian Joe Ludwig, ketika mengeluarkan larangan ekspor sapi hidup ke Indonesia pada tanggal 7 Juni 2011, telah melakukan penyalahgunaan kewenangan,” kata Hakim Steven Rares.

Hakim Steven Rares juga berpendapat Menteri Joe Ludwig tidak pernah berusaha untuk mencari pemecahan lain bersama pemerintah Indonesia dan bahwa larangan tersebut bukan merupakan pertimbangan dari (para ahli) dalam kementeriannya.

Larangan tersebut, kata Hakim Rares, diambil dengan mata tertutup tentang risiko bahwa tindakan tersebut berkemungkinan tidak sah dan dapat merugikan para peternak.

Meski putusan Pengadilan Federal tersebut menyangkut tindakan seorang menteri dalam pemerintahan Partai Buruh, namun pemerintah Australia yang sekarang ini, yang dikelola oleh koalisi Partai Liberal dan Partai Nasional, harus memikul beban ganti rugi kepada para peternak.

Menteri Pertanian yang sekarang, David Littleproud mengatakan pemerintah akan “mengkaji secara seksama putusan tersebut” sebelum menanggapinjya.

Hakim Steven Rares juga membebankan biaya perkara kepada pemerintah.

Pihak-pihak yang berperkara akan kembali ke pengadilan dalam beberapa waktu untuk mendengar jumlah ganti rugi yang akan dibebankan hakim kepada pemerintah.

Pemerintah Australia punya waktu 28 hari untuk menentukan apakah akan banding.

Umumnya para pengamat mengatakan bahwa pemerintah tidak bakalan membanding putusan ini, meski sejak berjangkitnya wabah COVID-19 pemerintah telah menggelontorkan begitu banyak dana untuk meringankan bebean rakyat yang harus melakukan pengurungan diri.

Cara penyembelihan 

Sewaktu masih bekerja sebagai broadcaster/wartawan radio di Radio Australia, penulis pernah beberapa kali meninjau rumah-rumah pemotongan hewan/sapi di berbagai negara bagian di Australia.

Apa yang penulis saksikan memang sangat mengesankan dan sekaligus membuktikan kebenaran ajaran Islam dalam perihal penyembelihan hewan.

Di Australia, sapi yang akan disembelih awalnya diguyur dengan air hangat sekujur badannya, agar hewan tersebut tenang dan santai, hingga dagingnya akan lebih lembut.

Di setiap rumah pemotongan hewan – abattoir – ada seekor sapi terlatih yang dijuluki “Judas”  atau “Yudas”.  Dalam ajaran Kristiani Yudas dipercaya  sebagai pengikut atau murid yang mengkhianati Yesus.

Sapi berjulukan Judas ini akan “menggiring” sapi yang akan disembelih memasuki sebuah gang sempit, namun ketika sampai di ujung gang, “Yudas” dengan tangkas dan licik langsung keluar melalui sebuah pintu kecil, sementara giringannya itu akan berjalan terus beberapa meter untuk kemudian dipingsankan dengan sebuah alat bernama “stun gun” yang ditempelkan di keningnya.

Begitu pingsan, salah satu kaki belakang hewan tersebut akan dikerek dengan rantai. Dalam keadaan terjuntai – kedua kaki belakang ke atas, kepala ke bawah – leher sapi yang masih pingsan itu disembelih dengan alat laksana arit besar yang sangat tajam. Darah yang mengalir disalurkan ke ruang lain untuk diolah menjadi pupuk bernama “blood and bone” (darah dan tulang yang dihaluskan).

Sekiranya ketika dipingsankan sapi tersebut tewas, maka dagingnya, oleh instansi kesehatan resmi, dinilai tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia karena mengandung banyak darah, dan akan diolah menjadi makanan binatang peliharaan seperti anjing dan kucing.

Alhasil suruhan dalam Islam untuk mengalirkan darah hewan halal sebelum dimasak ternyata punya sisi kesehatan.

Semua ini membuat penulis menjadi teringat akan teguran almarhumah Ibunda penulis, ketika melihat penulis mengasah pisau di depan ayam yang akan disembelih.

“Kau masuk neraka, nanti,” kata beliau.

“Kenapa, Mak?”

“Belum ayam kau sembelih, sudah kau siksa, dengan mengasah pisau di depannya. Ayam itu makhluk Allah juga. Kenapa harus kau takut-takuti sebelum kau sembelih,” kata Mak.

Terima kasih, Bunda. Allahu a’lam.#  (Nuim Khaiyath dari Melbourne)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru