Tuesday, November 19, 2019
Home > Berita > Pencak silat sumbang delapan medali emas, Indonesia urutan empat

Pencak silat sumbang delapan medali emas, Indonesia urutan empat

Medali emas dari Sarah Monita yang sedang beraksi di laga silat. (tribun)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Pencak silat menambah tabungan medali emas Indonesia di Asian Games 2018, setelah Sarah Monita dan Abdul Malik menang dalam laga final, Senin.

Monita menang melawan pesilat Laos, Nong Oy Vongphakdy, di kelas C putri 55kg-60kg dengan skor 5-0, pada laga yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Malik yang berhadapan dengan pesilat Malaysia, Muhammad Faizul M Nasir, di kelas B putra 50 kg-55 kg, menang dengan skor telak 5-0.

Setelah meraih dua kemenangan ini, pencak silat Indonesia dengan induk olahraga PB IPSI yang dipimpin Prabowo Subianto, menyumbang delapan medali emas   sehingga perolehan medali total tuan rumah saat ini berada di urutan keempat setelah China, Jepang, dan Korea Selatan.

Dalam pertandingan di babak final, Monita sejak babak pertama hingga ketiga berhasil menguasai lawannya.

Serangan yang dilancarkan beberapa kali mengenai sasaran. Bahkan, Nong Oy kewalahan menghadapi gempurannya sehingga Monita menang telak 5-0.

Malik bermain aman saat melawan Faizul. Sejak babak pertama di mulai,  guntingan yang menjadi andalan Malik berhasil menjatuhkan lawannya.

Poin yang diterima pun tiga angka. Tidak ada tambahan poin di babak ini. Di babak kedua pun, kedua pesilat saling bertahan hingga tidak ada satu poin yang didapat.

Medali emas dari Abdul Malik di cabang silat, sedang merayakan kemenangannya. (okezone)

Di babak ketiga, Malik dan Faizul berusaha bermain aman. Tidak ada serangan yang menghasilkan angka. Bahkan kedua pesilat melakukan pelanggaran hingga diganjar pengurangan satu poin.

Dengan poin yang sangat tipis itu, maka Malik dari Indonesia dinyatakan menang dengan skor 5-0.

Tradisi emas ganda putra

Dari cabang bulu tangkis, tuan rumah untuk ketiga kalinya berturut-turut mampu mempertahankan tradisi mendapatkan medali emas nomor ganda putra setelah terjadi “All Indonesian Final”.

Pada Asian Games 2010 Guangzhou, ganda putra Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan mempersembahkan emas untuk kontingen Merah Putih.

Duet ganda putra Kevin Sanjaya Sukamulyo dan Marcus Gernaldi Gideon (kanan). (tempo)

Empat tahun kemudian saat pesta olah raga terbesar di Asia tersebut digelar di Incheon, Hendra Setiawan yang saat itu berpasangan dengan Mohammad Ahsan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, tradisi emas tersebut tetap dipertahankan setelah terjadi “All Indonesian Final” yang akan mempertemukan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Babak final ganda putra Asian Games 2018 akan digelar di Istora Senayan, Selasa (28/8).

Pasangan putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto melangkah ke babak final setelah menumbangkan juara dunia Li Jun Hui/Liu Yu Chen dari China dalam pertandingan tiga gim 21-14, 19-21, 21-13 di Istora Senayan, Senin.

Kemenangan ini diikuti rekannya Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo setelah mengalahkan pasangan Chinese Taipei Lee Jhe Hui/Lee Yang juga dalam permainan tiga gim 21-15, 20-22, 21-12 dalam tempo 43 menit.

“Hasil di Asian Games ini sekaligus menjadi kado ulang tahun saya. Ini adalah hasil yang bagus, karena sudah lama tidak terjadi ‘All Indonesian Final’ di ganda putra pada Asian Games. Saya ucapkan terima kasih ke ganda putra untuk hasil ini,” kata pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi.

Keberhasilan kedua pasangan ganda putra yang seluruhnya adalah anak asuhnya untuk tampil di babak final Asian Games tersebut, lanjut dia, juga menjadi bukti bahwa regenerasi pemain ganda putra di Indonesia dapat dilakukan dengan baik.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru