Monday, November 18, 2019
Home > Berita > Pelacur Asing Jadikan Jakarta Ladang Subur, Cewek Tiongkok dan Uzbekistan Primadona

Pelacur Asing Jadikan Jakarta Ladang Subur, Cewek Tiongkok dan Uzbekistan Primadona

Ilustrasi. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Jakarta) – Pelacur asing (impor) ternyata menjadikan Indonesia terutama Jakarta sebagai ladang subur. Berbagai alasan mereka kemukakan datang ke sini, yang paling klise himpitan ekonomi di negeri mereka. Alasan lain, orang Indonesia suka yang berbau asing untuk mendongkrak gengsi alias prestise.

Yang paling menonjol pelacur asing ‘berdagang’ di Jakarta, dari Tiongkok dan Uzbekistan, bahkan menjadi primadona. Mereka praktik di tempat hiburan malam, mandi uap, spa, panti pijat, dan tempat khusus yang rahasia. Semuanya terselubung.

Simak penuturan sejumlah pelacur kepada wartawan yang nyamar sebagai pelanggan berikut ini.
Li Lie, 25, Pekerja Seks Komersial (PSK) impor asal Tiongkok di salah satu tempat hiburan malam di Ibukota bercerita, kemiskinan yang dialami di kampung halamannya wilayah pesisir, Shen Zhen memaksa dia melangkahkan kaki ke Jakarta untuk menghidupi keluarganya.

Li Lie yang bekerja sebagai terapis pijat plus di salah satu tempat hiburan kawasan Glodok ini, dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata mengaku, keluarganya bergantung hidup dengan hasil laut. “Keluarga saya nelayan,” ungkapnya.

Meski usia muda, wanita imut ini merupakan seorang janda anak satu. Suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dengan alasan bekerja, hingga kini tidak pernah kembali.

Sebelum bertolak ke Indonesia, berbagai profesi diungkapkan Li Lie telah digelutinya. Mulai dari menjadi penjaga toko sampai tukang cuci. Sayangnya hal itu tidaklah cukup untuk menghidupi orangtua dan anaknya.

Melalui agen tenaga kerja dia ditawarkan bekerja di Jakarta. Limpahan uang yang dijanjikan membuat dia tergiur menjalani profesi hitam ini. Terlebih berdasarkan informasi bahwa di Jakarta banyak terdapat warga keturunan Tiongkok yang membuat makin yakin akan mudah beradaptasi. “Saya betah di Jakarta,” ucapnya.

Seluruh akomodasi ditanggung sang agen. Sesampainya di Jakarta dia langsung dibawa untuk dilatih menjadi terapis. Untuk menggunakan jasa Li Lie, pelanggan harus merogoh kocek yang cukup dalam. Tarifnya Rp1,2 juta untuk sekali pijat berdurasi 2 jam. ‘Ongkos’ tersebut tentunya bukan hanya sekadar pijat, namun sudah termasuk biaya kencan.

Jumlah tersebut belum termasuk tips untuk sang terapis. Setiap pelanggan masih harus mengeluarkan uang tips sebesar Rp500 ribu kepada terapis plus-plus ini. Memang tidak murah, namun nyatanya Cungkok ini tetap menjadi primadona bagi pria ‘hidung belang’ untuk memuaskan nafsu syahwatnya.

Kehadiran cewek Uzbekistan, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam di dunia prostitusi papan atas tak dipungkiri mampu mendongrak omset tempat hiburan dimana mereka bekerja. Tingginya peminat pengunjung tempat hiburan yang membooking cewek impor ini mengindikasikan kondisi tersebut.

Pesanan untuk merekrut cewek impor pun otomatis tinggi. Cewek impor ini terutama Si ‘Kuda Putih’ (Uzbekistan) dan Cungkok (China) menjadi primadona dan menambah gairah tempat hiburan. Lantas bagaimana para pelacur impor ini bisa dihadirkan? Berikut penelusuran wartawan melalui seorang wanita yang mengaku sudah lama menjalani pekerjaannya.

Di kalangan anak buahnya, perempuan paruh baya ini akrab disapa Mami I. Ditemui di sebuah apartemen di kawasan Jakpus, penampilan wanita berambut pendek ini layaknya wanita sosialita.

Dia didampingi beberapa cewek yang berpenampilan menarik dan tentu saja seksi. “Mesti mengeluarkan modal besar untuk mendatangkan anak-anak ini. Karena harus mempersiapkan segala keperluannya dari paspor sampai tempat tinggal selama di sini. Puluhan bahkan sampai ratusan juta,” ujarnya.

Menurut Mami I, Pekerja Seks Komersial (PSK) impor memiliki permintaan istimewa. “Dia tidak mau ditampung di tempat khusus penampungan seperti rumah apalagi kamar kos. Mereka tinggal di apartemen atau hotel berbintang,” paparnya.

Mami I memaparkan, tidak mudah untuk merekrut perempuan-perempuan impor tersebut. Menurutnya, peran agen sangat membantu. “Biasanya agen agen itu berkedok kantor pencari bakat seperti model dan lainnya,” ungkapnya.

Selajutnya kantor agen tersebut juga memiliki jaringan internasional dengan modus serupa di negaranya masing-masing. “Jadi kalau ada orderan mereka langsung berkomunikasi,” paparnya.

Berbekal visa wisata atau pelajar yang berkedok pertukaran budaya mereka dapat mulus datang ke Indonesia.

Mami I mengaku tidak tahu pasti bagaimana kantor agen tersebut merekrut para wanita itu. Karena dirinya bertanggung jawab saat wanita pesanannya sudah berada di bawah pengawasannya.

Namun demikian menurut informasi yang diperolehnya, para ladies impor itu juga direkrut melalui agen tempat negara mereka berasal. “Cewek impor ini biasanya diambil dari desa miskin negara asal mereka. Mereka juga kebanyakan dari keluarga miskin,” paparnya.

Selain agen, sambung Mami I, ada juga perempuan yang merekrut kawan-kawan sebayanya. “Biasanya perempuan yang berhasil mengajak temannya ke Indonesia akan mendapat fee dari agen,” ucapnya.

Lebih lanjut mami menegaskan, keberadaan para pramusyahwat ini memang istimewa, tak heran jika mereka mendapat perlakuan khusus. Dalam praktiknya tarif mereka paling tinggi dan tidak akan khawatir tak akan laku.

“Mereka punya pasar sendiri, yaitu pelanggan yang tentu saja berkantong tebal,” ucapnya. “Kehadiran cewek impor terutama Uzbekistan dan Cungkok tentu saja membuat tempat hiburan semakin berwarna.” (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru