Tuesday, November 12, 2019
Home > Berita > PBB: Berbahaya bila Trump Terpilih Sebagai Presiden Amerika

PBB: Berbahaya bila Trump Terpilih Sebagai Presiden Amerika

Donald Trump. (nationalreview)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jenewa, Swiss) – Jika calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, maka itu akan “berbahaya dari sudut pandang internasional”, kata Kepala Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Zeid Ra’ad al Hussein.

Zeid mengatakan Rabu, pandangan Trump menyangkut komunitas yang rentan dan perkataannya soal penggunaan penyiksaan yang dilarang oleh hukum internasional, dirasakan  “sangat mengguncang dan mengganggu.”

“Jika Donald Trump terpilih berdasarkan apa yang telah dia katakan –dan keculi itu berubah– saya kira tidak diragukan lagi bahwa dia akan berbahaya dari sudut pandang internasional,” kata Zeid dalam jumpa pers di Jenewa, seperti dilansir antaranews.

Dari New York diberitakan, Donald Trump tersungkur lebih dalam di bawah Hillary Clinton dengan kini tertinggal delapan persen dalam mendapatkan suara dari calon pemilih paling potensial, demikian jajak pendapat baru dari Reuters.

Menurut survei ini, satu dari setiap lima republiken menyebut ucapan vulgarnya meraba-raba tubuh wanita telah mendiskualifikasi dia dari kepresidenan.

Jajak pendapat nasional itu diselenggarakan setelah debat calon presiden kedua Minggu malam silam di mana Trump ditekan untuk menjelaskan pernyataannya dalam skandal video 2005 mengenai menyentuh alat vital perempuan.

Jajak pendapat yang dirilis Selasa waktu AS itu menunjukkan Hillary Clinton, calon presiden dari Demokrat, terus berada di atas Trump, calon presiden dari Republik, sampai berselisih delapan persen dari lima poin persen pada pekan lalu.

Ketika ditanya mana yang dipilih reponden, di antara dua kandidat dari dua partai besar itu, 45 persen menjawab mendukung Hillary, sedangkan 37 persen mendukung Trump dan 18 persen lainnya menyatakan tak mendukung keduanya.

Menyangkut debat kedua lalu, 53 persen menyatakan Hillary menang, sedangkan 32 persen menganggap Trump yang memenangkan debat.

Dari garis politik responden, 82 persen pemilih Demokrat menyatakan Hillary pemenang debat, sedangkan 68 persen Republik menyatakan Trump pemenangnya.

Di antara calon pemilih yang menyaksikan debat, 48 persen menyatakan mendukung Hillary dan 38 persen mendukung Trump.

Berkaitan dengan omongan tidak senonoh Trump dalam skandal video 2005 yang menghebohkan itu, 61 persen responden menyatakan banyak pria yang ngomong jorok seperti Trump, sedangkan 46 persen menyatakan tidak adil menghakimi seseorang atas obrolan yang sebenarnya tak untuk dibagi dengan orang lain.

Kebanyakan responden meyakini Trump memang sexist (memuja supremasi gender).  Sebanyak 42 persen warga dewasa Amerika, termasuk 19 persen pemilih Republik, menyatakan omongan vulgar seharusnya mendiskualifikasi Trump dari pencalonan. Namun 43 persen lainnya berpandangan tidak.

Di kalangan republiken, 58 persen tetap menginginkan Trump menjadi calon presiden dari partainya, dan 68 persen menyatakan para pemimpin Republik semestinya bergandengan tangan dengan Trump.

Dari sudut pemilih perempuan, 44 persen wanita memilih Hillary, sedangkan 29 persen lainnya memilih Trump. Angka yang tidak terlalu berubah dibandingkan akhir pekan lalu.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos ini diselenggarakan secara online di 50 negara bagian.

Jajak pendapat terhadap 2.386 warga dewasa Amerika itu meliputi 1.839 orang yang menyaksikan debat dan 1.605 orang yang masuk DPT. Dari komposisi asal responden yang sudah pasti bakal menggunakan hak pilih, 798 orang berasal dari Demokrat dan 586 berasal dari Republik.

RealClearPolitics, yang menjejak kebanyakan poling-poling besar, menunjukkan Hillary berada di depan Trump dengan selisih 7 persen poin.  (AN/KB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru