Wednesday, February 26, 2020
Home > Berita > Panggilan Tiga Tetap Mangkir, Mantan Dirut Pertamina Karen Bakal Dijemput Paksa

Panggilan Tiga Tetap Mangkir, Mantan Dirut Pertamina Karen Bakal Dijemput Paksa

Karen. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Jakarta) – Kejaksaan Agung mengancam untuk melakukan upaya (jemput) paksa, jika Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Galaila Karen Agustiawan tidak memenuhi panggilan ketiga, dalam waktu dekat.

“Kita pertimbangkan akan mengadakan upaya paksa, jika dia tetap tidak menuhi panggilan tim penyidik, ” tegas Direktur Penyidikan pada Pidana Khusus Kejaksaan Agung Warih Sadono menjawab pertanyaan M-R. Com dan, Kabar24Bisnis. Com i Kejagung, Selasa (28/8)

Karen adalah tersangka kasus dugaan korupsi proyek investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009. Dia dijadikan tersangka sejak, 22 Maret 2018.

Menurut Warih, upaya paksa itu bukan maunya tim penyidik, tetapi ketentuan perundangan yang mengaturnya. Upaya paksa adalah bagian dari penegakan hukum.

“Jadi, kita tunggi saja itikad baik tersangka. Datang memenuhi panggilan ketiga atau tidak,” ucapnya.

ALASAN SAKIY

Sebelum ini, dia sudah dua kali dipanggil untuk diperiksa sebagai tersangka, namun berdalih sakor. Terakhir, dia diagendakan untuk diperiksa, Kamis (23/8), tapi mangkir.

Padahal, dalam prosea penyelidikan Karen jistru memenuhi panggilan tim penyelidik untuk memberi keterangan. Bahkan sampai dua kali.

uat dugaan mangkirnya Karen karena khawatir dirinya akan ditahan. Bisa jadi, dia mengacu kepada pengalaman anak buahnya, Bayu Kristanto yang langsung ditahan di Rutan Kejagung usai diperiksa, Rabu (8/8). Apalagi Manager Merger & Acquisition pada Direktorat Hulu PT Pertamina. mengaku, dirinya hanya menjalankan perintah Karen.

Selain Karen dan Bayu, ada dua Mantan Petinggi Pertamina yang dijadikan tersangka, yakni Chief Legal Councel and Compliamce Pertamina Genades Panjaitan dan Direktur Keuangan Frederik Siahaan.

Dalih sakit dari tersangka bukan pertama kali terjadi, Sjamsul Nursalim (Obligor BLBI Bank BDNI) adalah pelopornya. Dia mengajukan izin berobat ke Osaka Memorial Hospifal selama tiga minggi ke Jaksa Agung Marzuki Darusman.

Namun usai sembiuh dari perawatan, Sjamsul justru mampIr ke Singapura alasan untuk pemulihanm sampai kasus korupsi BLBI Bank BDNI dihentikan penyidilan tidak pernah balik ke Inronesia.

Lalu, Alm. Probosutedjo, meski terbaring sakit di RS. Pondok Indah, Jakarta Selatan, tidak menghalangi Kejagung untuk mengeksekusinya.

Kasus berawal , 2009, di mana Pertamina melalui anak peru­sahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakui­sisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG.

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transak­sinya mencapai US$31 juta.

Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari.

Praktiknya, Blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebe­sar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil me­mutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.

Praktik ini bisa terjadi, karena diduga adapenyim­pangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG. Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasibility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris.

Akibat tindakan tidal profesional ini, negara dirugikan sebesar sebesar US$31 juta dan US$ 26 juta atau setara Rp568 miliar. (ahi/dir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru