Friday, July 03, 2020
Home > Cerita > Pahala Berpuasa

Pahala Berpuasa

Kalau kita membaca banyak spanduk bertuliskan “Selamat Datang Ramadhan” di berbagai tempat menjelang bulan puasa, makna kalimat itu sungguh benar. Kaum muslim memang seharusnya amat merindukan Ramadhan, karena begitu banyak rahmat yang tersedia di sana. Bisa dibilang di bulan itu, Allah Sang Pencipta, mengobral pahala bagi ummatnya.

Seperti obral di toko, biasanya Rp 1000 dapat satu potong dan kemudian dapat 2 potong di musim diskon, maka mereka yang berpuasa akan berlimpah pahala di bulan Ramadhan.

Kalau bersedekah di hari biasa selembar uang Rp 10.000 dinilai tetap 10.000, maka di bulan puasa nilainya berlipat-lipat. Ada ustadz yang mengatakan 10 kali lipat, ada pula ulama yang mengatakan 70 kali lipat. Yang pasti tabungan pahala Anda akan banyak, tak terjumlahkan.

Pasalnya, Allah swt mengatakan, puasa adalah ibadah yang nilainya ditentukan oleh Allah sendiri. Rahasia Sang Pencipta, karena berpuasa itu ibadah yang dilakukan manusia sebagai bentuk bakti kepada Allah dengan sepenuh hati, dengan kejujuran dan ketulusan hati.

Ada banyak celah di mana manusia yang berpuasa bisa berbohong, atau membatalkan puasa, tetapi kalau dia sungguh-sungguh berpuasa maka hanya dia sendiri yang tahu. Jadi nilai pahala dari ibadah ini pun dirahasiakan Allah swt.

Di bulan puasa, manusia yang berpuasa dengan ihlas begitu diistimewakan Tuhan. Boleh dikatakan setiap gerakan bernilai ibadah. Tertidur karena ngantuk akibat kurang tidur dan lapar, pun dianggap ibadah.

Shalat sunnah yang dilakukan, otomatis berubah menjadi salat wajib. Jadi kalau ikut tarawih 11 rakaat dalam 30 hari, maka Anda mempunyai stok 330 rakaat salat wajib untuk menutupi “bolong” karena lupa atau malas salat di waktu-waktu sebelumnya.

Kalau membiasakan salat sunnah 2 rakaat sebelum atau sesudah salat wajib, semisal subuh atau magrib, maka cadangan Anda bertambah banyak.

Di tengah-tengah puasa ada pula Lailatul Qadar, malam seribu bulan. Orang yang “bertemu” malam yang mulia itu akan mendapat pahala yang nilainya sama dengan kita beribadah sebanyak 1000 bulan alias 80 tahun lebih.

Luar biasa, meskipun sampai sekarang ini sulit mengetahui bagaimana caranya untuk mendapatkan rahmat itu dan bagaimana pula ciri-ciri manusia yang beruntung mampu mendapatkannya.

Yang pasti, berpuasanya sempurna, ibadah-ibadah lain sempurna, dan orang itu melaksanakan semua perintahNya sebaik-baiknya dan menjauhi semua larangannya tanpa cela pula.

Akal sehat kita mengatakan, Ramadhan dijadikan Allah swt agar manusia dapat mengimbangi berbagai defisit pahala yang dialami dalam setahun. Kita berharap Sang Pengasih member perimbangan baik-buruk atau malahan berat pada kebaikan pada kita, karena begitu berlimpahnya rahmat yang disediakan pada Ramadhan.

Jadi kalau kita waras, tentu kita harus mengambil peluang yang disediakan Allah swt agar ketika kita dipanggil menghadapNya nanti, kita tidak dalam posisi tekor. Sebab kalau tekor, hukum Allah akan berlaku, kita terlempar pada kesengsaraan abadi. Tetapi kalau pahala kita surplus maka kehidupan kita di kampung abadi, berada di sisi yang lain, yang penuh kebahagiaan.

Dari sini maka kita akan heran, mengapa masih banyak ummat Islam yang menyia-nyiakan hari-hari mulia yang datang di hadapannya. Hanya karena tidak tahan merokok, tidak tahan haus dan lapar, dan bahkan karena terbiasa dengan gaya hidup nyaman-dan bahkan karena pergaulan-lalu dia tidak berpuasa.

Masih ada yang membuang peluang emas, yang disediakan Sang Pencipta. Padahal peluang itu diberikan karena rasa sayangNya yang begitu besar kepada manusia. Sungguh ironis, apalagi bila tidak berpuasa itu dilakukan oleh mereka yang selain telah dewasa, juga memiliki pendidikan tinggi.

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah swt untuk menyelesaikan sisa hari di Ramadhan ini sehingga dapat berpuasa penuh. Amin. (Bung Mim)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru