Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Ode Kepada Maling

Ode Kepada Maling

Ada pencopet, penjambret, pencuri, perampok
Kau di antara mereka
Ada dengan kekerasan, Curas kata polisi
Artinya mencuri denga kekerasan
Tapi ada pula yang kleptomania
Apakah kau maling budiman seperti jaman kerajaan dulu ?

Karena makanmu
Karena keluargamu
Karena uang sekolah anakmu
Karena sakitmu dan keluargamu ?
Entahlah, karena banyak penganggur
Tapi sebenarnya banyak pekerjaan
Kau malas barangkali,
Atau sudah keenakan mengambil yang bukan hakmu
Apakah kau punya agama
Apa kata tanganmu nanti di hari kemudian
Tak maulukah kamu di lihat keluarga,
Teman dan tetanggamu?

“ah daripada koruptor, pembunuh, pemerkosa, pelacur,
Melacur, menimpa istri
Orang atau di timpa suami orang?”

Ah, betul juga kau. Itu pandangan dunia yang benar
Tapi mengapa kau banding-bandingkan
Agar tak sudi memaling?

“ini profesi mulia.
Kan tak menyakiti orang.
Yang kuambil pun tidak banyak.”
Sudahlah,
Sekali maling tetap maling,
Tetap melanggar hukum
Nanti di tangkap polisi
“akukan maling beneran.
Ketimbang maling di atas, pejabat, dan konglomerat itu,
Apa tidak maling?”

Ah, kau jangan nuduh sembarangan,
Nanti di tangkap polisi

‘kok polisi melulu.
Apa tidak ada polisi yang maling
Orang kemalingan pun di maling
Tak ada yang berani melapor
Itukan namanya kena maling di maling?”
Jangan nuduh, sembarangan, itu kan oknum,
Tidak semuanya
Daripada profesi maling
Semua maling
Polisi kan banyak yang baik,
Tidak semua dirty police
Tapi ada juga polisi simulator SIM yang milyaran rupiah
Bah, ada juga ahli agama yang korupsi pengadaan Al Quran.

“Kan lebih baik maling beneran, daripada maling
Menyamar, ketimbang maling teriak maling.
Maling berdasi mana mau disebut maling.
Kalau saya biarin disebut maling.
Tuhan kan tahu nanti tidak di tanya-tanya lagi.

Maling kok bawa-bawa nama Tuhan.
Tapi mungkin benar juga
Ia lebih suka kau ketimbang mereka-mereka
Mereka yang mengambil uangmu,
Mengambil uang negara, menyedot uang rakyat
Wajar juga jadi maling beneran

“Nah diam toh? Pasti kau mulai memasuki alam pikiranku.
Aku bisa membaca pikiran orang.
Aku pernah kuliah.
Ilmuku lebih tinggi di banding polisi-polisi itu.
Apalagi gelar bisa di beli. Lihat saja profesor, doktor dan
segepok orang bergelar itu, yang jadi menteri itu
Mereka jadi anak buah presiden yang tak sekolah,
Yang tak punya gelar kecuali kiai haji
Mereka semua takut, walau dalam hati berontak
Mereka jadi maling dalam dirinya sendiri
Ia mencuri nuraninya.
Makanya gampang saja di gonta-ganti, malu-maluin saja”

Huss. Kau semakin menjadi-jadi, maling
“Apa tadi kau bilang? Malling budiman?
Aku senang mendengarnya.
Tolong ceritakan pada anak binimu tentang hal itu, biar
Anak biniku tidak sakit hati, walaupun mereka tak tahu
Aku malinng.”

Sudahlah.
Tak pernah aku menemui maling sepertimu.
Kau maling lain.
Tapi maling lain itu tetap maling, mengambil milik orang.
Aku tetap tak suka dengan maling.

Hai maling-maling, jangan kau rogoh saku orang,
Jangan kau sikat barang orang
Jangan kau kerontangkan negara ini,
Jangan kau hisap alam ini, jangan kau permainkan
Sukma ini
Jangan
Jangan
Maling
Maling
Jangan kau biarkan maling mengambil rasa tegamu
Agar jangan
Maling tak maling tak ada maling memaling .

***

Jakarta, 2000 – 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru