Tuesday, August 04, 2020
Home > Cerita > Nyokro Panggilingan

Nyokro Panggilingan

NYOKRO PANGGILINGAN

Oleh A.R. Loebis

Alam ini merupakan suatu proses gerakan
Perjalanan waktu A sampai Z
Jaman batu sudah lewat
Perang gerilya kemerdekaan sudah usai
Menusia sudah ke bulan
Perang dingin sudah kandas
Amerika sudah menciptakan musuh baru
Memanfaatkan kebejatan Yahudi-Israel
Musuh utama yang banyak disebut-sebut
Dalam kitab suci

Dunia ini merupakan suatu proses
Peralihan dari nol sampai sembilan
Sudah berada di angka berapa kini

Dari jaman batu ke komputerisasi
Bahkan komputer dan robot
Sedang dirancang mampu berintelejensia
Untuk membantu batas pikir manusia
Untuk bermukim di angkasa
Sehingga suatu saat meninggalkan alam fana
Tidak lagi berarti meninggal dunia

Ketika saat itu tiba
Entah di abjad apa angka berapa
Manusia tak lagi kerap bertemu secara fisik
Hanya komunikasi di layar kaca
Alat bayar tinggal transfer angka-angka
Uang elektronik seperti sekarang sudah bermula
Bila nafsu syahwat naik ke dada atau kepala
Berbaring saja di meja dan penjet tombol
Nongol gambar nona-nona dan pria ganteng

Mereka menjajakan fisik secara maya
Tinggal pilih kemudian transfer
Angka-angka pembayarannya
Mesin fantasi itu bekerja
Untuk sebadan secara maya
Di gunakan pria dan wanita
Bila ingin memiliki keturunan
pemerintah angkasa raya
Menjual mesin reproduksi
Anak di kloning hanya boleh satu saja
Tentu saja anak unggulan

Karena di angkasa
Tidak ada pengemis dan gelandangan
Saat itu pria dan wanita tak ada bedanya
Pengertian ayah-ibu sudah hilang
Makna perkawinan sudah melayang
Inilah masa emansipasi
Yang sudah ribuan tahun
Di dambakan kaum hawa
Ketika di dunia selalu meminta
Tidak ada diskriminasi
Melainkan persamaan hak
Dalam pelajaran sejarah di sekolah
Nama profesor Hawking selalu disebut-sebut
Karena ia pernah meramalkan
Permukiman di angkasa
Tapi saat itu, hikayat perang Bharatayuda
Dan ramalan Ronggowarsoto
Tertinggal di buku-buku tua di bumi

Setelah alam angkasa berjalan dalam proses
Ada perubahan bentuk fisik manusia
Mata melebar menembus kening
Karena kegunaannya semakin banyak
Di depan layar kaca
Pantat menebal dan datar
Dengan sebab yang sama

Kaki mengecil seperti tengkorak orang tua
Karena jarang berjalan,
Ke mana-mana tinggal
Penjet tombol
Mulut pun lama kelamaan terkatup
Karena jarang di gunakan
Berkata-kata
Lubang telinga mengecil,
Karena jarang mendengar suara
Bila ingin rileks di diskotik udara
Berkomunikasi pakai pikiran saja
Orang sudah tahu apa maksud kita
Pada masa di abjad dan angka
Entah apa dan berapa
Dan globalisasi tidak lagi
Hanya menembus batas antarbenua
Tapi sudah antartika
Lewat kemajuan cybernet yang luar biasa
Komunikasi layar kaca
Dapat dengan makhluk Mars, Yupiter, Venus, Plato,
Dan lainnya,
Jadi biasa saja

Ketika alam berada pada abjad
Dan angka masa ini
Istilah korupsi sudah tidak ada
Negara Amerika dan Indonesia pun
Entah sudah kemana
Bentuk fisik dan kulit hampir sama

Ketika alam dunia berada pada abjad dan angka ini
Entah bagaimana memilih orang pemerintah angkasa
Tapi mereka bisa memantau
Siapa saja dimana saja
Mirip novel George Orwell itu
Seorang ahli tirakat tua dari Jakarta
Yang bermukim di angkasa
Suatu hari ingat matak aji melakukan arogo sukmo
Raganya memilah diri
Dan satu turun ke bumi
Berdiri di Monas yang sudah tidak ada emas nya
Ia melihat ada satu dua orang
Berjalan tergesa-gesa
Entah orang entah apa
Ia khawatir mendatanginya
Karena bentuk fisik sudah berbeda
Dan mulut terkunci
Apalagi ia dalam keadaan arogo sukmo

Ternyata masih ada kehidupan, pikirnya
Semak dan pohon-pohon tumbuh liar di sela gedung tua
Onak berduri memenuhi hamparan seputar Monas
“Jakarta sudah kandas,” di benaknya
Habis dihisap penghuninya yang sudah entah dimana
“untung aku sudah di angkasa tapi tak satupun
kukenal di sana”
Ia teringat
Ketika hukum dan korupsi begitu semana-mena
Di dalam gedung-gedung itu
“mampus mereka sekarang, entah berada di alam mana.”
Ahli batin itu melayang ke Istana Merdeka
Tak ada siapa-siapa
Separuh bangunannya terendam air
Ia melangkah ke Thamrin
Sudah berubah jadi kali berair keruh
Air menggenangi gedung-gedung tua
Sudah sampai lantai tiga
Ia terbang ke Senayan
Sudah penuh pohon merambat kemana-mana
Stadion gelora Bung Karno kelelep
Sedangkan Semanggi
Sudah seperti goa berlumut dan Polda rawa-rawa

“oh jaman kapan ini,” sungutnya,”Kok aku masih ada”
“jangan-jangan aku diawetkan mereka karena langka”
Tiba-tiba chip di dalam kepalanya
Berdengung keras
Pertanda ada kontak serius dengan pemerintah angkasa
Ia tersentak dan raga di kamarnya bergerak
“Sayang, padahal aku ingin melihat bagaimana Amerika,
Eropa, Afghanistan, dan kampung kelahiranku.”

Dua orang masuk kerumahnya
Dan siap menggotongnya
Ternyata ia disangka mati
Dan sudah di jemput mesin jenazah
Ia diselidiki di pusat pemerintahan
ada tanda ia sudah mati
“ternyata tarekat arogo sukmoku masih kerja”
“aku ingin kembali ke dunia tapi aku sendiri saja di sana”
Ia di bawa ke lab dan robot-robot mengevaluasi
Fisik dan otaknya
Tak di temukan apa-apa,
Chip di kepalanya di tambah untuk menguasai syaraf
Ia jadi termangu setiap hari
Dalam lab bersama robot-robot

Ketika alam dunia ini berada pada abjad dan angka
Entah apa berapa
Inilah bilangan Nyokro Panggilingan
Dari nol menuju sembilan dan kembali ke nol
Dari A menapak Z dan kembali ke A
Tapi ini semua adalah titik-titik yang menyatu
Dalam garis berproses
Ketika itu entah di mana agama apalagi demokrasi
Yang di sebarkan Amerika
Tapi ini sudah di siratsuratkan agama
Karena semua berproses
Termasuk hijrah Nabi Muhammad SAW
Ke Sidratulmuntaha
Dari satu lapis langit ke langit lainnya
Alam angkasa yang di ciptakan Yang Maha Kuasa
“Jelajahilah angkasa luas bila engka mampu,” firmanNya
Allahu Akbar. Maha Besar Engkau

Dengan segala ciptaanMu
Yang tak habis-habisnya kami rasakan
Permukiman angkasa itu pun karena akal, pikir,
Dan ilmu pengetahuan
Seperti Kau meminta agar di gunakan

Ketika alam dunia ini berada pada abjad dan angka
Entah apa berapa
Inilah bilangan Nyokro Panggilingan
Yang entah di abjad dan angka apa berapa
Atau sudah berulang berapa kali dari nol
Allah Yang Maha Pencipta yang mengetahuinya.

***

Jakarta, 2002 – 2012.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru