Monday, July 13, 2020
Home > Cerita > Negeri Jiran

Negeri Jiran

Negeri jiran

Negeri jiran (kaskus.co.id)

Saya ingat kalimat lucu yang dulu sering diceritakan kalau sedang berkumpul dengan rekan-rekan dari daerah lain saat mengikuti acara nasional. “Di tempat saya banyak sungai tak ada jembatan, di jakarta banyak jembatan walau tak ada sungai.”

Kalimat ini sebenarnya protes ketidakadilan pembangunan, meskipun lalu tidak tepat sasaran. Sebab jembatan yang banyak di Jakarta, dipakai untuk menyeberangi lalu lintas yang ramai alias jembatan penyeberangan orang (JPO), sedangkan jembatan di daerah umumnya untuk jalan kendaraan.

Tentu di Jakarta bentuk penyeberangan tidak hanya jembatan tetapi juga jalan layang, sekaligus untuk memecah kemacetan di persimpangan. Ketika di tahun 1970-an yang populer hanya satu, Semanggi, dan wujudnya sederhana yaitu meliwati satu bidang jalan, saat ini persimpangan di Jakarta bentuknya pun sudah banyak yang “ruwet” seperti simpang susun Cawang, Tomang, dan Pluit.

Bahkan ada jalan layang panjang seperti di Antasari dan Karet Kasablanka. Bertingkat-tingkat, dengan berbagai arah datang dan pergi. Di ibukota provinsi, jalan layang ya masih seperti Semanggi itu, seperti kita saksikan di Bandung, Surabaya, Makasar, Medan. Jadi pasti banyak juga teman di daerah yang kesal karena kota kebanggaan mereka tetap kalah dari Jakarta.

Jakarta boleh maju tetapi kalau dibandingkan dengan negara tetangga, kecanggihan rekayasa jalan di dalam kota Indonesia masih kalah jauh. Di Kuala Lumpur dan Bangkok misalnya, untuk memecah kebuntuan dan pertemuan jalur yang membuat macet, banyak dibuat simpang susun. Ujung sebuah jalan bisa bercabang, lalu bercabang lagi, berputar dan berputar lagi. Akibatnya kalau salah jalan, berputar kembali bisa makan waktu lama. Malaysia seperti juga Singapura, Thailand, sudah menyerupai Tokyo, yang menjadi pionir dalam menciptakan jalan raya dan juga transportasi umum yang efektif. Macet sih tetap ada, tetapi tidak membuat stres dan frustrasi seperti di Jakarta, karena tidak ada alternatif.

Bayangkanlah, Anda penduduk Jakarta, rumah Anda di Cinere dan berkantor di Senayan. Maka jalan ke sana hanya memiliki satu jalur utama dan satu alternatif. Kalau kedua-duanya macet, sabar saja karena tidak bisa apa-apa. Padahal di kota lain, selalu ada jalur berbeda, yang mungkin tingkat kepadatannya tidak separah jalur utama. Apalagi yang di Cibubur, Depok, atau Bekasi, semua jalur sudah padat pada jam pulang maupun berangkat ke kantor.

Begitu pula soal jalan antarkota. Cobalah klik google map lalu lihat jalan-jalan penghubung antarkota di semenanjung Malaysia. Ada banyak cabang yang bisa dipilih, yang relatif cukup baik, kalaupun kita ingin  menghindar jalan tol. Sedangkan di negeri kita ini, kalau mau ke Cikampek ya pasti 99 orang pilih lewat tol dan hanya satu orang yang mau lewat jalur tradisional via Bekasi, Tambun, Krawang, karena jarak dan selisih waktunya jauh sekali.

Seorang teman sambil menunjuk dari jendela kendaraan mengatakan,” Lihat tuh. Di tengah kebun kelapa sawit saja, masih sepi, sudah dibuat jalan raya. Orang masih sedikit, lalu lintas belum ramai, jalan tersedia. Jadi ya nggak sempat macet.” Ya dalam perjalanan ke luar kota saya memang melihat sendiri betapa jalan ke luar kota, lebar dan bersih. Dan bercabang-cabang, bisa memilih jalan kalau ada gangguan sedikit.

Malaysia bisa begitu karena pendapatan negara mereka besar dan jumlah penduduk lebih sedikit. Kalau dibuat perbandingan, kira-kira Malaysia mempunyai pendapatan 100.000 dibagi kepada 250 orang, sedangkan pendapatan Indonesia 300.000 tetapi dibagi ke 2500 orang. Tentu saja rakyatnya negeri jiran lebih makmur. Mereka juga bisa membangun jalan lebih banyak, rumah untuk rakyat lebih banyak, kampus lebih bagus, beasiswa lebih besar dll.

Peringkat Malaysia dalam banyak hal selalu lebih baik dari Indonesia. Turis ke sana sudah di atas 10 juta, sementara kita baru target mencapai angka itu kira-kira 4-5 juta tahun lalu. Padahal negeri kita lebih banyak wisata menariknya. Ini sekadar contoh.

Tentu saja kita tidak marah, yang boleh adalah introspeksi. Negara kita lebih besar, geografis kita terdiri dari 70 persen lautan. Jadi kalaupun uang banyak, pengeluaran akan lebih banyak bisa dibandingkan dengan Malaysia yang hanya terdiri dari dua daratan yakni Semenanjung dan Kalimantan bagian Sabah dan Serawak. Di samping itu Malaysia lebih pandai mengelola uang, dan juga mungkin lebih sedikit yang korupsi sehingga pembangunan infrastruktur hasilnya lebih baik dan lebih efisien.

Jadi, marilah kita kerja keras. Mulai dari sendiri. Kerja, kerja, kerja.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru