Friday, November 15, 2019
Home > Berita > “Musuh dari musuh saya adalah sekutu saya”   Oleh Nuim Khaiyath

“Musuh dari musuh saya adalah sekutu saya”   Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Australia dan Vietnam jalin hubungan.

MIMBAR-RAKYAT.com (Melbourne) – Pada waktu Indonesia, terutama melalui jasa-jasa baik Menko Luhut Pandjaitan, sedang gencar-gencarnya memajukan hubungan di berbagai bidang dengan salah satu raksasa dunia, China, sebaliknya Australia mencoba menjalin semacam kerja-sama strategis dengan mantan musuhnya, Vietnam.

Sungguh tidak ada kesetiaan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Itulah sebabnya ketika akan melakukan perjalanan untuk memenuhi undangan menghadiri pertemuan G7 di Biarritz, Prancis, bulan lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison memerlukan singgah “sebentar” di Vietnam.

Ibarat sambil menyelam minum air, persinggahan tersebut menjadi tidak terlalu menyolok,   dibanding suatu kunjungan resmi secara khusus.

Namun tetap saja menyisakan pertanyaan: kenapa Vietnam? Bukankah Vietnam pernah menjadi musuh Australia (melalui keterlibatan Amerika – sekutu kental Australia – dalam peperangan melawan Viet Cong/Komunis di negara itu dalam tahun 1960-an-70-an?)

Benar. Bahkan puluhan tentara Australia gugur di medan laga Vietnam.

Namun kini para pemimpin kedua negara terkesan sangat mesra ketika PM Australia itu tiba di bumi Vietnam. Sungguh lain dulu lain sekarang.

Segala basa basi terkesan tidak lagi begitu diperdulikan. PM Morrison menyatakan tekad untuk bahu membahu dengan Vietnam demi “sebuah kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka di tengah tekanan China yang kian bertumbuh terhadap negara anggota ASEAN tersebut.”

Kata PM Morrison, “apabila salah  satu tetangga Australia (Vietnam?) mengalami pemaksaan / tekanan, maka semua (tetangga lain) akan melemah.”

Langkah PM Morrison tersebut menyusul ketegangan antara kapal-kapal Vietnam dan sebuah kapal survey minyak Cina di zona ekonomi ekslusif Vietnam, hingga mencetuskan kembali sengketa wilayah yang sudah berlarut di kawasan yang dipersengketan di Laut China Selatan berkenaan dengan kepemilikan sumber minyak, gas dan perikanan.

Kata PM Morrison “Kita (Australia dan Vietnam) memiliki visi yang sama bagi sebuah wilayah bertetangga di kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, inklusif dan makmur, di mana kita saling menghormati kedaulatan dan kebebasan masing-masing.”

Menurut pemimpin Australia itu, apabila kedaulatan atau kebebasan kedua negara itu dan negara-negara tetangga mereka lainnya menderita pemaksaan/tekanan, maka semua akan merasakan kemerosotan.

Dikatakan selanjutnya, disadari bahwa di Asia Tenggara perlu adanya keterhubungan antara satu sama lain dan diperlukan keamanan dan kedamaian demi memelihara kemakmuran.

Vietnam pun memerlukan dukungan Australia demi menjamin bebasnya arus perdagangan melalui Laut Cina Selatan, termasuk pemeliharaan kebebasan melakukan pelayaran.

Seorang pengamat di Australia mengatakan komitmen Australia dan negara negara lain untuk mempertahankan kebebasan dan keterbukan laut niscaya akan membantu menangkis upaya China untuk memonopoli perairan ienternasional.

Diperlukan kerjasama antara semua negara kawasan agar bekerjasama, melakukan pelatihan, segala pernak pernik pertahanan di laut dan di bawah serta atas laut.

Upaya yang dilakukan PM Morrisson untuk merapatkan Vietnam dengan Australia, menyusul dikeluarkannya pernyataan bernada tegas sebelumnya oleh Australia, Amerika dan Jepang, yang menandaskan dengan tegas tekad untuk menjunjung pranata global dan memastikan agar negara negara (di kawasan) terjamin “ketahanannya menghadapi tekanan”.

Di Australia juga berkembang pandangan bahwa Vietnam pun memang giat mencari mitra, seperti Australia, yang memiliki kepentingan sama untuk menyeimbangkan “sikap China yang lebih menekan dan agresif.”

Patut juga diingat bahwa meski sama-sama menganut ideologi komunis namun Vietnam dan China tidak dapat dianggap selalu dan terlalu mesra satu sama lain.

Di masa lalu Vietnam tidak pernah patuh saja kalau diganggu China yang jauh lebih besar dari dirinya yang punya tidak sampai 100-juta rakyat .

Cuma sebagaimana yang pernah disampaikan seorang perwira tinggi TNI kepada penulis “Ibarat emas maka tentara Vietnam itu 24 karat.” Ini disampaikannya ketika Amerika serta sekutu-sekutunya, termasuk Australia, pernah terbirit-birit dari Vietnam yang sebelumnya juga menghajar penjajah Prancis.

Nilai perdagangan antara Australia dan Vietnam setiap tahunnya berjumlah tidak sampai 15 miliar dolar, sementara nilai ekspor Australia ke China mencapai sekitar 200-miliar dolar setahun.

Juga di Australia terdapat cukup banyak pendatang (dan keturunannya) dari Vietnam.

Juga tahun lalu Pasukan Pertahanan Australia telah melatih dan mengangkut kontingen pasukan pemeliharaan perdamaian Vietnam ke Sudan Selatan. Itu adalah untuk pertama kali Vietnam ikut dalam operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu.

Di bidang diplomasi Vietnam pernah berperan sebagai “tuan rumah” pertemuan antara Presiden Amerika Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tahun lalu.

Hampir berbarengan dengan kian merapatnya Australia ke Vietnam, dan sebaliknya, pemerintah daerah Negara Bagian New South Wales juga mengumumkan akan dihentikannya kerjasama antara bidang pendidikannya dengan Proyek Kong Hu Cu China yang sebelumnya menyediakan, atas tanggungannya, tenaga-tenaga pengajar Bahasa Mandarin, untuk 13 sekolah negeri yang di antara mata mata pelajarannya termasuk bahasa resmi China itu.

Kerja sama (bantuan dari China itu) sudah agak lama juga berlangsung namun karena pertimbangan keamanan (potensi kian besarnya pengaruh China di Australia) maka akhirnya diputuskan untuk memulangkan semua tenaga pengajar yang dibiayai Cina itu, meski tidak ada bukti bahwa para tenaga pengajar itu telah melakukan propaganda demi kepentingan pemerintah China. Mungkin ini hanya sekadar “sedia payung sebelum hujan.”

Koopsus dan Anggaran Pertahanan Tambahan Australia

Sebagaimana diketahui akhir Juli lalu di Indonesia telah dibentuk Komando Operasi Khusus – Koopsus..

Sebelumnya Indonesia telah memiliki Kopasus (Komando Pasukun Khusus) yang sudah acap melakukan pelatihan bersama pasukan Australia di Australia Barat.

Tidak lama setelah diumumkannya pembentukan Koopsus itu, Australia sekitar awal Agustus, mengumumkan alokasi anggaran tambahan 3-miliar dolar “untuk melengkapi Pasukan Udara Khusus-nya (SAS) yang akan diberi perlengkapan yang terjitu yang dikembangkan bersama para ilmuwan, badan-badan intelijen dan perusahaan tehnik.”

Pada tahapan pertama, Australia akan mengadakan perisai diri (rompi tahan peluru) terbaik di dunia, peralatan senjata, sistem penyelaman, penerjunan payung, pendakian, operasi pencarian/penyelamatan medis, komunikasi, pelatihan kemampuan prajurit dan berbagai dukungan lain untuk pasukan khususnya.

Proyek ini dalam kurun waktu 20 tahun (di samping anggaran resmi bidang pertahanan) akan menghabiskan biaya 3-miiar dolar.

Menurut pemerintah Australia dengan adanya investasi (sebesar 3-miliar dolar itu) maka pasukan khusus Australia akan mampu menanggapi lebih baik lagi segala ancaman di mana pun di bumi ini.

Menteri Pertahanan Australaia Linda Reynolds (seorang wanita) mengatakan, “pasukan khusus kita, terutama sekarang ini, perlu senantiasa siap dan mampu untuk dikerahkan dalam operasi di mana saja di permukaan bumi ini dalam waktu yang singkat dan dalam segala bentuk dan jenis keadaan.”

PM Morrison mengakui bahwa satuan-satuan pasukan khusus Australia harus menangani operasi yang sangat kompleks dan berat dalam lingkungan yang penuh mara bahaya.

“Ancaman global niscaya akan terus berkembang dan pendanaan ini akan menjamin bahwa pasukan khusus Australia memiliki kemampuan teknologi terkini agar berada lebih di depan dari mereka yang mungkin akan mengancam kepentingan Australia.

Dan anggaran baru ini niscaya akan juga membuat tersenyum pabrik-pabrik peralatan militer di Australia yang pasti akan memperoleh banyak pesanan dari Pasukan Pertahanan Australia. Wallahu a’lam.  (Penulis adalah mantan penyiar radio BBC dan ABC, tinggal di Melbourne.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru