Tuesday, November 19, 2019
Home > Cerita > Musibah Asap

Musibah Asap

Musibah asap dari kebakaran hutan (rol)

Beruntung sekali kita yang hidup di Jakarta dan sekitarnya. Masih bisa bernafas tanpa masker, tidak seperti yang dialami saudara-saudara kita di Pekanbaru, Jambi, Palembang, Palangkaraya, Pontianak, yang harus mengenakan masker untuk beraktivitas di luar ruang. 

Bukan hanya pakai masker, sudah ratusan mungkin ribuan orang yang hidup di kota-kota itu, menderita ISPA, infeksi saluran pernafasan akut. Bukan lagi sekadar batuk atau mata perih. Hidup menjadi tidak normal bagi mereka yang tinggal di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Ya, kita harus bersyukur. Sama berterima kasihnya kepada Sang Pencipta yang membuat kita masih bisa bernafas dengan baik, buang air kecil tanpa kesulitan, mata melihat dengan terang (walaupun mungkin menggunakan kacamata), mendengar dengan (agak) baik, dan dapat berjalan kaki tanpa alat bantu.

Maka kalau ada yang dalam kondisi seperti sekarang tidak bersyukur, padahal dia setiap hari menonton di televisi, mendengar di radio, dan membaca di koran atau media online, perihal penderitaan jutaan orang sesama anak bangsa, celaka lah orang itu.

Ada banyak cara bersyukur, silakan lakukan sesuai dengan apa yang kita ingini atau mampu menjalankannya. Mau menyumbang, silakan. Mau ikut berpendapat, boleh juga. Mau ikut ambil bagian dalam gerakan kebaikan, itupun boleh.

Rumusannya kira-kira, ya berbuat kebaikan dan menghindari kemungkaran. Sudah terlalu banyak kerusakan yang terjadi di lingkungan dan masyarakat kita, sehingga sedikit perbuatan baik, bisa jadi sangat membantu.

Bencana asap tahunan yang terjadi kadang membuat kita seperti bangsa bodoh, terbentur hal yang sama berkali-kali, bahkan dalam puluhan tahun. Terjadi kebakaran hutan, terjadi bencana asap, dilakukan pemadaman, ada tindakan hukum, tetapi di tahun berikutnya terjadi lagi. Orang-orang jahat seperti tidak kapok, malah semakin berjaya. Lalu penegak hukum (pemerintah) dan birokrat yang bisa mencegahnya, pada ngapain? Itulah pertanyaan besar yang setiap saat mengganjal perasaan rakyat, awam.

Kalau saya mengusulkan, buatlah hukuman mati untuk penjahat bencana asap. Tembak mati dan buat beritanya besar-besar, pasti ada efek jera. Kalau hanya sekadar dihukum seperti biasa dan tidak dijadikan kejahatan luar biasa, ya kejadian seperti ini akan terulang. Kejahatan luar biasa sudah pantas diberikan karena dampaknya luar biasa juga. Selain terkait kesehatan, secara ekonomi pun dampaknya luar biasa.

Hitung saja kerugian akibat penerbangan yang tertunda, sejak Juli sampai September. Garuda Indonesia saja mengatakan membatalkan 460an penerbangan. Kira-kira sebanyak itu pula gagal terbang Lion Air, dan puluhan yang dialami Citilink, Batik Air, Sriwijaya Air, Air Asia dst. Kalau ada ribuan gagal lepas landas atau tidak jadi terbang, ada ratusan ribu tiket tidak jadi terpakai. Ribuan janji tidak bisa ditepati, ribuan urusan terbengkalai. Pastilah itu merugikan trilyunan rupiah, jumlah yang amaaat banyak. Apa tidak pantas pelaku-pelakunya dihukum mati?

Untuk urusan membahayakan keselamatan publik, seharusnya hukum kita tegas. Tidak seperti sekarang, yang seperti tidak memberi prioritas. Ada nenek-nenek dituduh mencuri pohon atau buah, atau pemuda ketahuan mencuri ayam, kena hukuman sekitar setahun. Sementara pejabat yang korupsi sekian milyar, dihukum sekitar 3 tahun. Tidak realistis. Padahal yang jelas, yang satu merugikan kepentingan umum, sementara kejahatan lainnya hanya untuk perut yang lapar.

Bencana asap ini sudah pantas dianggap sebagai kejahatan luar biasa yang sangat merugikan kepentingan umum, masyarakat banyak dan juga dunia bisnis. Maka sudah waktunya kita melihat sisi kerugian masyarakat sebagai dasar menjatuhkan hukuman, agar keadilan lebih terasa. Dan kita yang beruntung tidak terpapar asap, harus berempati kepada saudara kita yang menderita lahir dan batin. Jangan hanya diam saja dan membiarkan kejahatan ini terus terjadi.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru