Tuesday, January 21, 2020
Home > Cerita > Mirah Gadis Marunda

Mirah Gadis Marunda

Singa Betina dari Marunda (vutrav4blogspot)

Alkisah, di jaman Belanda keadaan Marunda teramat kacaunya. Daerah pesisir Betawi ini sering didatangi perampok baik dari laut maupun dari darat. Perampok datang merampas harta benda, memperkosa perempuan, lalu pergi begitu saja setelah merasa puas.

Jika ada yang berani melawan, akan dibunuh. Selain itu, Marunda juga sering didatangi jagoan dari tempat lain. Mereka menakut-nakuti penduduk, lalu memeras dan merampas hartanya.

Pihak penjajah Belanda kurang memperhatikan keamanan Marunda. Bahkan kaki tangan Belanda ikut-ikutan memeras penduduk. Kaki tangan Belanda itu tuan-tuan tanah, demang, dan opas yang sering mendatangi penduduk untuk menarik pajak yang memberatkan rakyat.

Syahdan, tersebutlah Bang Bodong seorang jago yang tinggal di Marunda. Bang Bodong pemberani dan penolong rakyat. Ia tak pernah sombong, meskipun tidak sedikit lawan yang dibuatnya pecundang.

Bang Bodong mempunyai seorang anak perempuan, Mirah namanya. Suatu hari Bodong merasa dirinya sudah tua, lalu dipanggilnya Mirah seraya berkata:

“Mirah anakku, aku makin tua, dan tak ada pula anak lelaki penggantiku, untuk menjaga keamanan kampung kita. Sedangkan rampok dan garong makin merajalela. Aku khawatir kalau kampung kita ini akhirnya musnah”.

Mendengar kata-kata ayahnya, Mirah termenung sejenak, lalu berkata: “Ayah tak perlu khawatir. Biar Mirah perempuan, Mirah sanggup menjaga Marunda, kampung tumpah darah Mirah. Ajarkanlah Mirah maen pukulan.

Tentu Mirah babat habis semua garong dan rampok yang mengganggu kampung kita”.
Bodong terharu melihat niat tekadnya. Kuali ketemu kekep. Maka Mirah pun diajarnya maen pukulan.  Bukan main cepatnya Mirah menyerap ilmu ayahnya, dalam waktu tak terlalu lama Mirah sudah dikenal  sebagai perempuan jago maen pukulan dari Marunda. Apalagi Mirah berparas cantik, maka  tidak sedikit pemuda yang ingin menjadi kawan hidupnya. Tapi dengan halus lamaran ditolaknya, walau batang usianya sudah cukup tinggi untuk menikah.

Pada suatu sore, Bang Bodong berkata kepada Mirah: “Mirah, kau cantik, aku bangga padamu. Tapi sayang engkau belum mau bersuami, padahal usiamu sudah cukup, Rah. Kalau nanti datang lamaran lagi, janganlah engkau tolak. Terimalah Mirah.”

Mirah menjawab dengan gesit : “Siapa yang akan mengurus ayah jika Mirah kawin. Mirah sayang Ayah”.

Bang Bodong merunduk terharu, lalu ia berkata lagi: “Janganlah kau pikirkan diriku, Mirah. Pikirkanlah dirimu. Nantiapa kata orang kampung. Aku khawatir kau dibilang perawan tidaklaku”.

Mirah tersenyum seraya menjawab : “Omongan orang kampung tidak terlalu Mirah pikirkan benar.Tapi kalau ayah mendesak, baiklah Mirah akan kawin. Tapi adasyaratnya.”

Bang Bodong girang dan berkata:
“Apa syaratnya Mirah, katakanlah pada ayah, tentu ayah berusaha memenuhinya. Rumah? Perhiasan?

Mirah menjawab : “Bukan, Yah, bukan itu syaratnya. Mirah hanya mau menikah dengan laki-laki yang sanggup mengalahkan Mirah. Kalau tidak ada yang dapat mengalahkan Mirah, biarlah Mirah tidak usah kawin saja.”

Bang Bodong terhenyak mendengar jawaban anaknya. Akhirnya ia dapat menerirna persyaratan anaknya. Pada suatu malarn ia kumpulkan orang kampung dan mengumumkan niatnya menyelenggarakan semacam sayembara.

“Siapa saja yang dapat mengalahkan Mirah, saya ikhlas mengangkatnya jadi menantu”, kata Bang Bodong. Berita tersiar bukan saja di Marunda tapi ke seluruh kampung-kampung Betawi. Satu demi satu laki-laki mencoba kebolehan Mirah maen pukulan. Tapi tak satu pun yang mampu mengalahkan Mirah.

Cerita Mirah memilih calon suami dengan cara berkelahi itu didengar seorang jagoan Karawang yang kerjanya merampok, Tirta namanya. Tirta menantang Mirah. Lagi-lagi Mirah unggul. Tirta jatuh terkapar, ia tak berdaya menghadapi Mirah.

Syahdan, di kampung Kemayoran kekacauan yang disebabkan perampokan menjadi-jadi. Polisi Belanda kewalahan. Pemerintah Belanda makin risau, karena perampokan ini telah mengancamkepentingan orang Belanda sendiri.

Pada suatu malam terjadi perampokan di rumah seorang Cina Kemayoran. Ketika kepala polisi memerintahkan menangkap perampok-perampok yang tengah beraksi itu, perampok ternyata lebih gesit. Mereka melarikan diri sebelum polisi datang, tetapi ada penduduk yang berhasil mengenali wajah salah seorang perampok. Ia si Asni anak Kemayoran juga. Tapi penduduk merasa heran mengapa Asni merampok, bukankah selama ini ia dikenal berhati bersih, walau ia dikenal sebagai jago berkelahi.

Kepala polisi menangkap Asni. Asni diperiksa. Karena kurang bukti, Asni dilepas kembali dengan syarat bahwa ia sebagai jago kampung harus mampu menangkap perampok yang sebenarnya.

Asni tersinggung bukan kepalang namanya dicemarkan oleh peristiwa perampokan di rumah Cina. Ia bertekad hendak mencari perampok yang sebenarnya. Ia memperkirakan perampok itu datang dari sebelah wetan. Maka berangkatlah Asni ke arah Timur. Kampung Marunda yang ditujunya.
Asni memeriksa daerah hitam di Marunda. Tempat-tempat perjudian didatanginya. Ia bertanya kepada penjudi kalau-kalau mengetahui siapa perampok rumah Cina di Kemayoran.

Perbuatan Asni benar-benar menyinggung anak buah Bang Bodong. Mereka merasa Asni pendatang yang mengacak-acak kampungnya. Maka perkelahian antara Asni dengan anak buah Bang Bodongpun tak terhindarkan. Namun satu persatu anak buah Bang Bodong dibikin jatuh celentang oleh Asni. Akhirnya anak buah Bang Bodong mengadu kepada bapak buah.

“Bang ada orang ngendon datang ke kampung kita, kita nggak kuat ngelawannya, Bang’. Mendengar laporan anak buahnya yang sudah babak belur itu, Bang Bodong langsung naik darah seraya berkata : “Minggir lu pada, biar aku hajar orang endonan itu yang berani ganggu kampung kita”.

Bang Bodong berangkat mencari Asni. Ketika keduanya bertemu, maka perkelahian tak terelakkan. Sayang, Bang Bodong yang sudah menua itu tak mampu mengalahkan Asni. Bahkan bang Bodong pingsan. Anak buah Bang Bodong berlarian sipat kuping melihat bapak buahnya terkapar. Mereka mencari Mirah untuk mengadukan musibah yang menimpa Bang Bodong.

Mirah bukan alang kepalang marahnya mendengar ayahnya dipecundangi orang endonan: Mirah lari mencari Asni. Dan setelah bertemu ditantangnya si Asni itu. Asni menolak berkelahi dengan perempuan. Mirah memaksa mengajak berkelahi. Akhirnya Asni tak lagi menolak ajakan Mirah. Perkelahian pun terjadi habis-habisan. Namun Mirah tak kuasa mengalahkan Asni. Kali ini anak buah Bang Bodong tak berdiam diri. Mereka mengepung Asni. Dan Asni berhasil ditangkap. Kedua tangannya diikat. Dalam keadaan terikat Asni mampu menyembuhkan Bang Bodong yang pingsan dengan jampi-jampinya.

Bang Bodong siuman dan berkata : “Lepaskan anak ini. Ia memang jago tulen yang akan aku jadikan menantu. Sesuai dengan janji si Mirah yang akan memilih suami yang dapat menaklukkannya berkelahi”.

Kepada Asni, Bodong berkata : “Hai anak muda yang gagah perkasa. Kau boleh ambil anakku Mirah sebagai isterimu”.

Mula-mula Asni menolak. Penolakan ini sebenarnya basa-basianak Betawi saja. Karena ia datang ke Marunda bukan untuk mencari isteri, tapi mencari rampok yang mengganggu orang Kemayoran.

Bang Bodong yang arif, paham belaka apa yang tersimpan di hati Asni. Bodong kemudian berujar : “Kalau yang ingin kau cari di sini perampok. Kami sudah tahu orangnya. Rampok yang mengacau di sini dan di Kemayoran orangnya itu-itu juga. Si Tirta namanya. 1a tinggal di Karawang. Mencari Tirta tidak susah. Yang penting sekarang kamu kawin dulu sama si Mirah”.

Pesta meriah pun digelar untuk merayakan perkawinan Asni dengan Mirah. Bek Kemayoran pun datang. Pengunjung melimpah ruah. Macam-macam tontotan silih berganti menghibur tamu. Tirta ternyata ada di tengah pengunjung pesta. Ia merasa yakin dirinya tak ada yang akan mengenali.

Tirta beradu pandang Bek Kemayoran. Bek Kemayoran mengenali Tirta yang wajahnya mirip Asni. Sebelum Bek bertindak, Tirta mendahului menusuk Bek dengan pisau belatinya Bang Bodong bangkit dari duduknya menubruk Tirta, Tirta mengelak. Lagi-lagi Bang Bodong yang gerakannya sudah lemah itu jatuh tersungkur terkena tusukan belati Tirta. Pesta jadi kacau balau. Mirah yang duduk di puade langsung melepaskan pakaian pengantin dan lari mengejar Tirta. Tirta berlari sambil mengacungkan belatinya yang bernoda darah. Bagaikan terbang Mirah meloncat dan kakinya memburu tengkuk Tirta. Tirta terjatuh, dan belati yang ada di genggamannya itu menusuk lambungnya sendiri.

Tirta roboh. Sebelum mati Tirta dengan terbata-bata berkata :
“Mirah, aku kemari bukan untuk berkelahi, tapi untuk menyaksikan pesta perkawinanmu. Aku membawa sabuk berpending mas sebagai hadiah perkawinanmu. Dan lihatlah timangnya berukir diikat tali. Terimalah Mirah hadiah dariku ini”.

Tirta mengasungkan sabuk berpending mas kepada Mirah. Hati kemanusiaan Mirah tersentuh. Mirah berteriak memanggil suaminya. Asni muncul, Tirta terkejut. Seraya tangan kiri memegang pending mas, dan tangan kanan masih memegang belati berlumur darah, Tirta berkata lirih :
“Oh Tuhan, kalau aku tidak keliru wahai Asni, engkau adalah adikku. Memang sudah lama kita berpisah…..”

“Benar, Bang, benar” Asni menjawab seraya mengusap airmatanya.

Asni dan Tirta satu Bapak lain Ibu. Ibu Asni berasal dari Cakung, sedangkan Ibu Tirta berasal dari Banten. Mereka pernah tinggal satu rumah, namun kemudian berpisah karena ayah mereka meninggal.

Maka orang-orang yang hadir menjadi heran jadinya. Kakak beradik Asni dan Tirta saling berpelukan. Dalam pelukan saudaranya, Tirta ternyata masih ingin mencurahkan isi hatinya, ia pun berkata :
“Wahai adik-adikku Asni dan Mirah, maafkanlah Abang yang telah sesat ini. Mudah-mudahan kalian berbahagia dalam hidupmu. Janganlah kau tiru jalan hidupku yang sesat ini”.

Setelah berkata begitu Tirta mati di pelukan Asni.  (jakarta.go.id/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru