Wednesday, November 13, 2019
Home > Global > Menyucikan Hati, Cermin Cahaya Tuhan Oleh Parni Hadi

Menyucikan Hati, Cermin Cahaya Tuhan Oleh Parni Hadi

Parni Hadi. (twitter.com)

Hati manusia adalah cermin Cahaya Tuhan, demikian keyakinan kaum pencari hakikat. Oleh karena itu, mereka selalu membersihkan hati. Alasannya, jika debu dan karat keinginan untuk mementingkan diri sendiri dibersihkan dari permukaan cermin-hati, maka akan memantul kecantikan Cahaya dari Yang Maha Suci Penuh Keagungan (Allah).

Cermin yang bersih (hati yang suci) mampu memantulkan cahaya Ilahiah kepada orang yang Dia kehendaki, merujuk Surat-An Nuur, ayat 35 (QS 24:35): Dia membimbing ke cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.

Kitab sastra “suluk”, buku susastra (sastra spiritual) yang lahir berkat masuknya Islam ke Pulau Jawa, memberi tuntunan menuju “Manunggaling Kawula-Gusti” (Bersatunya antara hamba dengan Bayangan Allah, Al-Khalik) lewat (cermin) hati.

Pujangga Ronggo Warsito dalam kitabnya Wirid Hidayat Jati mengungkapan pertemuan itu terjadi di dalam dada manusia, tempat kalbu (hati spiritual) berada, yang disebut Betalmukaram.

Itulah yang dituju para pencari hakikat, yakni pokok dari segala kebenaran, setelah memperoleh makrifat atau kemampuan metafisika. Dengan kemampuan itu orang dapat melihat dan mendengar tanpa bantuan panca indera (clair voyance dan clair audience). Ini disebut melihat dan mendengar dengan hati, merujuk Surat Al-Baqarah, ayat 46 (2:46): “hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga, dengan itu mereka dapat mendengar”.

Karena yang dicari adalah esensi, maka kritik yang umum terdengar terhadap kaum pencari hakikat adalah kurang menganggap penting ritual keagamaan, yang dalam Islam disebut syariat. Mereka menilai, syariat masih bersifat lahiriah, sedangkan hakikat adalah substansi.

Syariat, termasuk shalat lima waktu dan peraturan agama yang diturunkan Tuhan kepada Nabi, dianggap oleh mereka kurang penting. “Yang terpenting adalah tansah eling (selalu ingat) kepada Tuhan, Gusti Allah”, begitu terdengar alasan seorang penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan yang Maha Esa (aliran kebatinan/spiritual Jawa) zaman Orde Baru dulu.

Sejumlah penganut kebatinan menilai banyak orang menjalani syariat tanpa memahami makna sesungguhnya. Banyak orang yang hanya ikut-ikutan atau “rubuh-rubuh gedhang” (ikut rebah seperti pohon pisang ditebang) dan penghafal belaka ayat-ayat suci ajaran keagamaan. Mereka tidak menjiwai makna dan mengamalkannya dalam perilaku hidup sehari-hari.

Hasilnya: korupsi, tindak asusila,dan kejahatan marak dari atas sampai bawah, walau masjid, gereja, kuil, candi, dan tempat ibadah lainnya penuh. Kuota pergi haji telah habis sebelum waktu tahun berlakunya. Idem tiket untuk pergi umrah dan tempat suci lainnya: laris manis. Mereka lupa bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, selalu mengawasi, karena tidak pernah mengantuk dan tidur, mengacu Surat Al-Baqarah, ayat Kursi (QS 2:255).

Puasa Ramadhan semarak setelah maghrib dengan acara hiburan, termasuk yang disajikan televisi, menandingi ramainya orang ke masjid untuk shalat tarawih, yang oleh sebagian orang dilaksanakan dengan gerak cepat, tanpa kesyahduan dan kekhusyuan.

Para penghayat kepercayaan berpendapat lebih baik melakukan ibadah dalam hati atau laku batin daripada yang serba permukaan (superficial) itu.


Perlu Bimbingan Mursyid

Selalu ingat Tuhan memang sarana untuk mencapai tujuan para pencari hakikat. Tapi, mengapa harus “to the point”, langsung tanpa menjalani syariat? Padahal, Serat Wedhatama, karya Mangku Negara IV, Raja Puri Mangkunegaran, Solo, dan Surat Wulangreh (ajaran untuk mengendalian hawa nafsu), karya Paku Buwono IV, Raja Kasunanan Surakarta, jelas-jelas menganjurkan orang untuk tetap menjalani syariat agama.

Wedhatama memperkenalkan empat macam sembah, yakni: raga, cipta (kalbu), jiwa dan rasa. Keempatnya terkait erat satu sama lain dan menentukan pencapaian tahapan berikutnya. Jadi, semuanya penting.

Jalaluddin Rumi, guru spiritual Islam tersohor, sekalipun mengibaratkan shalat itu cangkang, tetap berperan penting. Cangkang dan isi (substansi) sama pentingnya. Ia mencontohkan, sebuah biji tanpa kulit luar tidak akan tumbuh, jika ditanam.

Sembah raga sebagai bagian syariat atau sarengat dalam bahasa Jawa, menurut Wedhatama, adalah sembah lima waktu sehari. Itu perlu dilaksanakan secara tetap dan tekun agar mendapatkan pahala, yakni kesehatan badan (otot, daging dan tulang serta peredaran darah), yang berdampak menenangkan hati dan menghilangkan pikiran kacau.

Hilangnya pikiran kacau akan membantu berhasilnya sembah kedua, sembah cipta (kalbu) atau tahapan tarikat. Untuk sembah cipta bersucinya tidak lagi dengan air (berwudhu) seperti untuk sembah raga, melainkan dengan menjauhi nafsu angkara murka serta segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi lakunya: tertib, teliti, berhati-hati dan tekun. Hasilnya: ingat dan waspada sebagai pembuka pintu makrifat, yakni pengalaman gaib, menikmati pemandangan menembus dimensi indrawi fisik, melampaui ruang, waktu dan cahaya.

Itu adalah dampak dari lenyapnya hijab, warana atau penghalang yang memisahkan alam lahir dan alam batin atau tinarbuka dalam Bahasa Jawa. Untuk mencapai tataran ini, pelakunya harus sabar dalam segala tindak-tanduk, eneng, ening, eling (tenang, syahdu dan sadar). Sembah sukma harus dijalankan setiap saat dan dilakukan betul-betul dengan jiwa tenang, hening dan waspada, ingat pada alam abadi (kelanggengan).

Setelah mendapat makrifat, pelakunya menjalani sembah rasa atau sembah keempat. Jika berhasil, pelakunya dapat memahami hakikat Tuhan Yang Maha Esa (tauhid). Ia disebut telah dapat memahami realitas sejati, “kasunyatan” dalam bahasa Jawa atau “super reality” dari Tuhan Yang Maha Tunggal. Ia memasuki alam “suwung” (nothingness) setelah berhasil mematikan semua keinginan. Ada ungkapan Jawa yang ambigu, dualitas, tapi satu: Ora ana apa-apa, ning apa-apa ana (Tidak ada apa-apa, tapi apa-apa ada). Suasana begitu syahdu, khusyu, tentram, damai, dan serba terpuaskan. Inilah yang digandrungi para pencari hakikat. Tidak diperlukan lagi petunjuk apa pun, semuanya berkat perkenan Allah.

Ada peringatan keras untuk siapa pun agar tidak mengaku-aku telah mencapai tataran makrifat sebelum mengalami sendiri. Pelanggaran dalam hal ini akan dihukum Tuhan. Orang harus berhati-hati dan perlu mendapat bimbingan guru (mursyid) dalam menempuh laku spiritual ini tahap demi tahap. Delusi, halusinasi, dan bermacam-macam tafsiran sendiri bisa membuat orang stres, bahkan mengalami gangguan jiwa.

Kitab Wulangreh, Bab II, dalam bentuk tembang Dhandanggula, memberi petunjuk untuk puruhito (berguru) kepada mursyid: seseorang yang memenuhi sejumlah syarat, termasuk bermartabat baik, tahu hukum syariat, taat beribadah, “wirangi” (zuhud), syukur seorang pertapa, yang sudah tidak berpikir lagi untuk memperoleh pemberian orang lain. Bab XII dalam bentuk tembang Asmaradana mewanti-wanti orang untuk menjalankan syariat secara lahir batin, shalat lima waktu, menunaikan rukun Islam dan mengikuti seluruh perintah Allah lewat Nabi Allah, Muhammad Saw dan sunahnya (hadis).

Nah, daripada berisiko, kan lebih enak menjadi orang biasa saja yang taat menjalani syariat. Jika ingin memperoleh makrifat dan memahami hakikat, silahkan menempuhnya secara bertahap dengan bimbingan mursyid. Sebagian orang mencoba melatih diri sendiri dengan menjaga wudhu (tetap suci) selama belum tidur dan suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan seperti bunyi Dasa Dharma Pramuka.

Untuk menyucikan hati, orang dapat melakukan “muhasabah” (introspeksi), “mujahaddah” (menaklukkan nafsu) dengan berpuasa, dan bertobat. Semua dilakukan dengan niat untuk ibadah kepada Allah. Selamat mencoba, semoga suci lahir-batin. Amiin.  (antaranews.com)

*Penulis adalah wartawan senior, pengamat media, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA periode 1998-2000, dan Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) periode 2005-2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru