Friday, November 15, 2019
Home > Cerita > Mensyukuri Puasa

Mensyukuri Puasa

Ilustrasi. Renungan Ramadan (rengkodriders.wp.com)

Mudah-mudahan ibadah puasa kita diterima Allah Sang Penguasa Alam. Kita berharap karena untuk ibadah yang satu ini, Dia lah yang menilai langsung, Dia lah yang menetapkan bagaimana sebenarnya kinerja kita selama bulan Ramadhan.  

Terus terang sebenarnya bagaimana nilai ibadah puasa kita di mata Allah swt bisa dicross check juga dengan perasaan kita. Caranya tentu, kita melakukan self assesment dengan sejujur-jujurnya, berusaha objektif dan apa adanya, sebagaimana tuntutan dari ibadah puasa itu sendiri.

Saya yakin Anda akan bisa membuat nilai untuk diri sendiri, 6 atau 8 atau 9 atau 10, meski angka yang terakhir ini akan sulit sekali.

Penilaian sendiri ini bagusnya dimulai dengan membuat sebuah check-list, yang lengkap dari berbagai aspek. Misalnya saja dari sisi waktu, sejak sahur hingga selesai salat tarawih, kita membuat penilaian. Apakah kita sudah bersikap dan bertindak benar.

Di samping itu katakanlah, buat lagi daftar, mulai dari kita mandi untuk berangkat ke kantor, sampai dengan kembali dan tidur. Nah, tuliskan hasil sikap dan tindakan kita. Kalau semua bagus, silakan berlega hati. Sebaliknya, kalau ada yang kurang dan ada yang bagus, nilai sendirilah bagaimana hasil ibadah puasa kita. Mudah-mudahan dari catatan itu, kita tidak lebih banyak melakukan kekurangan.

Seperti pernah disinggung di tulisan sebelumnya, hidup di Jakarta membuat puasa menjadi lebih berat karena begitu banyak gangguan atau godaan. Kalau Anda naik sepeda motor dalam melakukan aktivitas, saya yakin setiap menit Anda akan diuji kesabaran.

Berkendara dengan sopan, bisa jadi dianggap lamban dan mengganggu kecepatan pengendara lain. Kalau naik keretapi listrik (KRL) yang berdesakan di jam pagi dan petang, dijepit, diinjak, disikut, adalah hal biasa. Tapi dalam kondisi ngantuk, lapar, dan agak lemas, bisa jadi emosi kita suatu saat terpancing. Nah, di sinilah kualitas puasa kita diuji.

Orang sabar dicintai Tuhan, namun tentu saja sebagai manusia kita sering lupa, dan bahkan merasa teraniaya karena sudah mengalah, masih saja ditindas. Padahal makin sabar kita, makin besar pahala dan semakin dicintai Sang Pencipta. Mestinya kita sadar itu khususnya bila sedang menjalankan ibadah puasa. Tetapi itulah. Mudah-mudahan Anda berhasil mengatasinya.

Kita juga diuji dalam hal berbagi. Di bulan Ramadhan sudah ada kewajiban yang menanti kita yakni membayar zakat fitrah, zakat harta, dan kalau bisa menyisihkan harta untuk bersedekah. Tetapi di luar kita ada saja yang berharap dari kita untuk meringankan bebannya. Yaitu orang-orang yang menganggap mereka telah melayani kita, seperti tukang sampah, tukang antar koran, penjaga malam, tukang ojek, office boy kantor, dst. Sebaiknya kita memang memberi sekadarnya kepada mereka, agar harapan mereka sedikit terpenuhi.

Nah di samping semua itu, ada juga yang tidak terduga. Tahu-tahu ada teman lama yang meminta bantuan, ada sanak saudara dan handai taulan yang datang ke rumah atau ke kantor. Jadi kalaupun kita sudah membuat rencana biaya, bisa jadi kita masih defisit. Jadi bersiap-siaplah untuk lebih sabar dalam menghitung uang keluar.

Baca juga  :  Bagaimana puasa Anda?

Apa yang saya sebutkan di atas belum lah meliputi semua yang menjadi penentu apakah kita dapat mengatasinya dengan hati lapang, ikhlas, dan besar hati. Tapi kalau daftar itu saja sudah dipenuhi, menurut saya sih kalau melakukan self assessment Anda sudah pantas mendapat nilai 7. Setuju kah Anda?

Mudah-mudahan dari Sang Pencipta kita mendapat nilai lebih baik. Minimal kita sudah pantas bersyukur ketika melakukan Salat Idul Fitri nanti. Minal Aidin Wal Faidzin.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru