Monday, September 16, 2019
Home > Berita > Menlu Retno sampaikan Formula 4+1 kepada Aung San Suu Kyi

Menlu Retno sampaikan Formula 4+1 kepada Aung San Suu Kyi

Menlu Retno Marsudi dan state counsellor Daw Aung San Suu Kyi bertemu di Myanmar. (rol)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi kini sedang di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia serta suara dunia internasional agar krisis kemanusiaan di salah satu bagian negara itu segera diselesaikan.

Menteri menyerahkan yang dinamainya prakarsa Formula 4+1 untuk Rakhine State kepada pemimpin Myanmar Daw Aung San Suu Kyi.

“Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia yang sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine State dan agar Indonesia membantu. Saya juga membawa suara dunia Internasional agar krisis kemanusiaan di Rakhine State dapat segera diselesaikan” kata Retno dalam keterangannya, Senin.

Empat elemen ini terdiri atas : (i) mengembalikan stabilitas dan keamanan; (ii) menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan; (iii) perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama; dan (iv) pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan.

“Empat elemen pertama merupakan elemen utama yang harus segera dilakukan agar krisis kemanusian dan keamanan tidak semakin memburuk,” jelas Retno seperti dilansir antaranews.

Sedangkan, satu elemen lainnya adalah pentingnya agar rekomendasi Laporan Komisi Penasehat untuk Rakhine State yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan dapat segera diimplementasikan.

Satu capaian penting misi diplomasi kemanusiaan Indonesia ini adalah dengan disepakatinya Indonesia dan ASEAN terlibat dalam penyaluran bantuan kemanusiaan di Rakhine State. Mekanisme penyaluran dipimpin oleh pemerintah Myanmar, namun melibatkan ICRC dan beberapa negara, termasuk Indonesia dan ASEAN.

Dalam pemberian bantuan ini, Indonesia selalu menekankan bahwa bantuan harus sampai kepada semua orang yang memerlukan, tanpa kecuali, tanpa memandang agama dan etnis.

Mengenai implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan, pemerintah Myanmar membentuk komite implementasi dan badan penasehat untuk mengawasi implementasi rekomendasi.

Retno, dalam pertemuan juga menyampaikan kepedulian dan komitmen tinggi LSM kemanusiaan Indonesia terhadap Myanmar. Dalam kaitan ini Menlu RI menyampaikan bahwa baru saja meluncurkan Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) pada 31 Agustus 2017.

Aliansi terdiri dari sebelas organisasi kemanusiaan yang memprioritaskan bantuannya kepada empat hal, yaitu (i) pendidikan; (ii) kesehatan; (iii) livelihood (ekonomi); dan (iv) relief. Komitmen bantuan yang diberikan oleh Aliansi adalah sebesar 2 juta dolar AS.

“Saya mengharapkan agar Pemerintah Myanmar dapat melanjutkan pemberian akses kepada AKIM karena selama ini telah bersama Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan beberapa program,” kata Retno

Selain dengan Suu Kyi, Retno juga menemui tiga menteri yaitu menteri pada kantor Presiden, National Security Advisor dan Menteri muda urusan luar negeri. Pertemuan dengan ketiga menteri membahas masalah teknis mekanisme bantuan kemanusiaan, yang akan dilaksanakan oleh pemerintah Myanmar.

“Misi ke Myanmar paling tidak telah mencapai dua hal, pertama menyampaikan perhatian besar masyarakat Indonesia kepada situasi kemanusiaan di Rakhine State dan adanya komitmen otoritas Myanmar untuk segera atasi krisis kemanusiaan tersebut,” kata dia.

Selain itu, lanjut Retno, Indonesia juga telah mendapat akses dengan diterima dalam mekanisme penyaluran bantuan kemanusiaan yang dipimpin pemerintah Myanmar dan akan melibatkan ICRC.

Sekitar 120.000 orang terutama warga muslim Rohingya terlantar karena tidak menerima suplai bahan makanan atau perawatan kesehatan di negara bagian Rakhine di Myanmar, seperti dilaporkan tempo.co.

Ini terjadi setelah PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan menghentikan bantuan terkait konflik yang merebak antara pemerintah Myanmar dan kelompok pemberontak.

Setidaknya hampir 400 orang tewas dalam pertempuran yang terjadi setelah militant Rohingya menyerang pos polisi dan pangkalan militer sepekan yang lalu.

Dampak dari konflik ini menyebar ke ibu kota negara bagian Sittwe. Sekitar 90.000 orang Rohingya tinggal di penampungan sejak terjadinya kekerasan pada 2012 dan menewaskan sekitar 200 orang. Sementara sebagian dari etnis Buddha Rakhine yang kehilangan tempat tinggal dalam kekerasan ini juga tinggal di penampungan terpisah.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru